JAKARTA – Pelaksanaan Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Konfrensi Islam luar biasa mengenai Penyebab Konflik Palestina dan Al-Quds Al-Shareef pada 6-7 Maret 2016 di Jakarta berlangsung dengan sukses. Namun demikian kehadiran buronan pengadilan pidana internasional (ICC) Presiden Sudan Omar Hassan al-Baashir disesalkan oleh berbagai pihak.

Koordinator KontraS, Haris Azhar mengatakan konfrensi OKI luar biasa yang memiliki tujuan besar untuk melawan segala bentuk kekerasan di Palestina yang dilakukan Israel dihadiri oleh pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan untuk mendiskusikan mengenai penyelesaian konflik di Palestina.

Sosok yang hadir dimaksud KontraS adalah Presiden Sudan, Omar Hassan Al-Bashir yang datang ke Indonesia Sabtu malam meskipun ia memiliki perintah penangkapan oleh Mahkamah Pidana Internasional yang dikeluarkan pada Maret 2009. Menurut KontraS, Omar Al-Bashir mengambil peran dalam KTT Luar Biasa Kelima sebagai permintaan dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk mendiskusikan situasi di Yerusalem.

April tahun lalu, Omar Al-Bashir membatalkan kepergiannya ke Indonesia untuk berpartisipasi dalam Konferensi Asia-Afrika di Jakarta. OKI dan Indonesia khususnya telah membuat tindakan yang bertentangan dengan mandat negara anggota PBB untuk melindungi perdamaian dan keamanan dengan mengundang Omar Al-Bashir untuk masuk ke negara yang ingin memprioritaskan kemanusiaan, nilai universal dari perdamaian dan keamanan di bawah Piagam PBB Bab VII dan mencoreng tujuan dari KTT Luar Biasa untuk membangun perdamaian di Palestina ini.

KontraS menegaskan Omar A-Bashir telah menjadi tersangka dari ICC atas kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida sehubungan dengan kekejaman yang terjadi di Darfur yang masih belum menunjukkan perkembangan hingga hari ini. “Hal ini sangat memalukan bagi OKI dan Indonesia secara khusus, karena Indonesia sebagai pemimpin dari KTT ini telah memberikan izin kepada Omar Al-Bashir untuk tergabung dalam KTT ini,” tulis Haris dalam siaran persnya.

Sementara Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia menyatakan keprihatin atas kunjungan Presiden Sudan Omar al-Bashir ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Organisasi Islam (KTT OKI).

Kedubes AS dalam rilisnya menyatakan Presiden Bashir dituntut oleh Mahkamah Pidana Internasional atau ICC atas kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida, dan surat perintah penangkapannya masih belum tuntas.

Menurut Kedubes AS, meskipun Amerika Serikat bukan salah satu anggota Statuta Roma, yang merupakan perjanjian untuk membentuk ICC, Kedubes AS sangat mendukung upaya ICC untuk menuntut pihak-pihak yang bertanggung jawab atas genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, serta kejahatan perang di Darfur. (asr)

Share

Video Popular