Oleh : Ian Colbeck

Bedasarkan penelitian Royal College of Physicians di Inggris, polusi udara luar ruangan bertanggungjawab terhadap sekitar 40.000 kematian di Inggris setiap tahunnya. Ini merupakan salah satu dari laporan pertama yang mengakui betapa pentingnya kualitas udara dalam ruangan bagi kesehatan kita.

Kita menghabiskan sekitar 90% dari waktu kita di dalam ruangan, baik itu di rumah, di tempat kerja, atau di dalam kendaraan. Polusi udara dalam ruangan bukan merupakan fenomena baru. Sejak awal sejarah peradabannya, manusia telah membakar kayu, gambut atau batubara untuk menghasilkan panas. Dinding gua, yang dihuni ribuan tahun yang lalu, ditutupi dengan lapisan jelaga dan tubuh mumi dari zaman batu sering ditemukan paru-paru yang menghitam.

Pada abad ke-18, ditemukan bahwa “kekurangan ventilasi” mengakibatkan meningkatnya angka penyakit menular. Sedangkan pada pertengahan abad ke-19, dilaporkan bahwa “kekurangan ventilasi lebih fatal dari semua penyebab lain yang disatukan”.

Penelitian pada sekitar tahun 1960 terus berfokus pada kualitas udara dalam ruangan. Awalnya penelitian menyoroti bahaya radon dan asap tembakau sebelum diperluas ke formaldehida (bahan kimia rumah tangga biasa yang dapat menyebabkan kanker dan masalah pernapasan) pada awal tahun 1970, tungau, debu, dan sindrom penyakit gedung pada dekade berikutnya, dan akhirnya berfokus pada alergi selama 1990-an.

Sejak era milenium telah bergerak menuju negara-negara berkembang dimana sekitar 3 miliar orang memasak dan menghangatkan rumah mereka dengan menggunakan api terbuka dan kompor kayu sederhana dan batu bara. Hal tersebut menghasilkan polusi udara dalam ruangan yang mengakibatkan 4,3 juta orang per tahun meninggal prematur.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 99.000 kematian per tahun di Eropa berasal dari polusi dalam ruangan. Meskipun sudah ada undang- undang untuk mengurangi paparan polutan di tempat kerja, serta undangundang merokok tembakau yang sekarang juga telah melarang merokok di area publik, namun sangat tidak mungkin bagi setiap pemerintah untuk mencoba dan memaksakan standar kualitas udara di rumah-rumah pribadi.

Mengapa rumah modern sangat rentan tercemar polusi

Sebuah rumah bisa memiliki banyak sumber polusi yang berbeda, yakni: pemanasan, memasak, pembersihan ruangan, merokok, parfum, dan perabot. Bahkan sebuah tindakan gerakan sederhana dapat membangkitkan partikel. Tuntutan untuk meningkatkan efisiensi energi bangunan hadir seiring dengan kekhawatiran bahwa rumah yang lebih kedap udara bisa memiliki efek buruk pada kualitas udara dalam ruangan.

Udara di dalam rumah Anda mungkin telah berisi segala macam hal yang tidak diinginkan seperti partikulat (materi mikroskopis baik padat maupun cair), karbon monoksida, oksida nitrogen, formaldehida, radon, serta bahan kimia yang mudah menguap dari bekas wewangian dalam pembersih konvensional.

Lalu ada pula “bioaerosols” – bakteri, jamur, virus, tungau debu rumah dan serpihan kulit yang ditumpahkan oleh binatang berbulu. Bahkan mengupas jeruk telah terbukti meningkatkan jumlah partikel beberapa kali lipat.(Epochtimes/Osc)

Ian Colbeck adalah professor ilmu lingkungan di University of Essex di Inggris.

Share

Video Popular