Tiga Tokoh Perempuan Raih Penghargaan International Women of Change di Hari Perempuan Internasional

700
Suasana penerimaan penghargaan (http://www.internationalfilmfestivals.org)

JAKARTA – Menyambut Hari Perempuan Internasional setiap 8 Maret dan Hari Anti Diskriminasi Internasional setiap 1 Maret , Dewan Kreatif Rakyat (DKR) kembali menghadirkan International Film Festival For Women, Social Issues, and Zero Discri-mination (IFFWSZ) yang digelar di Auditorium RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (7/3/2016).

IFFWSZ juga memberikan penghargaan International Women of Change kepada para wanita yang dianggap memberikan kontribusi yang besar untuk perubahan. Para wanita yang dipilih dan dianggap memenuhi kriteria tersebut adalah Menteri Sosial Indonesia Khofifah Indar Parawansa, Menteri Lingkungan Hidup dan KehutananSiti Nurbaya Bakar dan Direktur Utama LPP RRI, Rosarita Niken Widiastuti.

“Diharapkan dengan adanya penghargaan ini akan banyak lagi perempuan-perempuan yang dapat membuat perubahan ke arah yang lebih baik,” ujar Founder Festival, Damien Dematra dalam rilisnya.

Festival berskala internasional ini telah memilih 75 film pemenang dari 425 film yang berasal dari lima benua. Tujuan festival ini sendiri dikarenakan masih minimnya kepedulian masyarakat internasional dan nasional akan isu-isu kesetaraan gender, isu sosial dan anti diskriminasi.

Festival ini berharap dengan banyaknya film-film bertema inspiratif tersebut dapat membuat dunia menjadi lebih baik. Festival ini sendiri bekerja sama dengan dua festival internasional lainnya yaitu International Movie Awards dan Filmmakers World Festival.

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawanagsa mengatakan pada hari Perempuan Internasional ingin secara khusus berpesan, agar para perempuan menghindari diri dari narkoba. Dia mengaku sudah berkeliling ke panti-panti rehab narkoba, sangat sedikit yang mau menerima perempuan korban penyalahgunaan sebagai klien.

Dia mengatakan jika sudah perempuan sakau, addict, itu sulit untuk bisa memberikan layanan secara komprehensif. Jadi panti-panti rehab narkoba sedikit sekali yang mau memberikan layanan bagi klien korban penyalahgunaan narkoba perempuan. “Jadi di Hari Perempuan Internasional saya mohon perempuan hindari kemungkinan menjadi korban penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.

Selain memberikan penghargaan kepada para Tokoh Perempuan tersebut, di acara ini diumumkan Film Terbaik dari IFFWSZ. Film Forgiveness karya Rima Irani dari Lebanon terpilih sebagai yang terbaik untuk tahun ini. Film ini berkisah tentang seorang wanita yang pergi ke pskiater untuk menyembuhkan luka batinnya. Film ini berpusat pada pikiran sang wanita dalam berperang dengan masa lalunya yang berat untuk dapat menang dan memulai hidup baru.

Dipilihnya film ini sebagai Film Terbaik dikarenakan film pendek ini merupakan sebuah film eksperimental yang menggabungkan seni lukis di setiap adegan dan menjadikannya representasi pikiran sang wanita. Film ini diharap dapat menjadi ‘terapi seni’ bagi para penontonnya untuk menjalani hidup dengan penuh damai dan cinta. Pendekatan artistik yang unik ini membuat film Forgiveness menonjol diantara film-film lainnya.

Sedangkan predikat Film Terbaik untuk International Movie Awards jatuh kepada The Butterfly, The Harp, and The Timepiece. Film ini berkisah tentang sebuah toko sihir yang dapat mengubah jalan hidup ketiga tokoh utama untuk percaya akan harapan dan cinta di film pendek ini. Film ini dibintangi oleh aktris peraih Oscar, Melissa Leo dan Peraih Golden Globe, Alex Ebert dan musik oleh Peraih Grammy Award, Alex Geringas. Film ini disutradarai oleh Rodney Vance.

Menurut Damien, adanya festival berskala internasional seperti ini diharapkan nama Indonesia makin diharumkan dan juga sineas-sineas dunia dapat terinspirasi untuk membuat film-film yang dapat menginspirasi semua generasi. “Karena dengan menonton film yang tepat, saya yakin manusia dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Damien. (asr)