Sejarah Tiongkok kuno yang berumur lima ribu tahun itu sebenarnya adalah sejarah kultivasi. Sejak terbentuknya langit dan bumi, sampai zaman Chin Han (221-206 SM), bagi orang Tiongkok kuno dengan berkultivasi dan menjadi dewa, merupakan suatu kenyataan, bukanlah suatu hal yang musykil atau mimpi balaka. Dari catatan sejarah dinasti Sui dan Tang (581-907), kita bisa mendapatkan gambaran tentang masa kejayaan dari kultivasi.

Langgam Menjunjung Tinggi

Sastrawan pada masa dinasti Tang dan rakyat biasa sangat saleh menjunjung agama Tao, seperti: Ruzhaolin, Wangbo, Chen Ziang, Meng Haoran, Libai dan sebagainya. Saat itu banyak pujangga terkenal menulis puisi,  Mengxian menulis “Mimpi ke Kayangan” dan Xianyou “Jalan-jalan ke Kayangan” yang menggambarkan pertemuan dengan dewa di kayangan serasa di alam nyata.

Bacalah puisi Libai, terlebih di masa akhir, ungkapan Taoisme memenuhi hampir seluruh karyanya, seperti: Jindan, Taixu, Shen Tung, jelas dia seorang kultivator. Libai pernah menulis “Melihat Terangnya Bumi Bagaikan di Bulan Purnama”. Kita selalu mengritik nenek moyang yang laksana katak duduk dalam tempurung melihat langit. Tapi sebenarnya, nenek moyang kita sejak dulu sudah mengetahui bumi dan bulan itu sama dan satu alam dengan planet pada jagat raya ini. Hanya saja seluruh kondisi kultivasi di zaman dinasti Tang itu, keadaannya berbeda dengan zaman sebelumnya.

Di akhir dinasti Tang sampai dinasti Song, Li Dongbin dan Chenpo menjadi tokoh inti dari kalangan kayangan; Kaisar Song Zencung (dinasti Sung) pernah bermimpi dewa kayangan yang menyampaikan titah dari kaisar kayangan, dikatakan bahwa kaisar kayangan itu adalah nenek moyang Zhao Song.

Saat itu manusia sudah mulai mengetahui  bahwa alam semesta itu di bawah kekuasaan kaisar kayangan yang disebut Kaisar Giok. Banyak sejarawan terkenal di masa itu juga sangat mengagungkan kultivasi. Contohnya, Sushi pernah menulis, “Saya ingin pulang bersama angin, tapi takut berada di istana Giok yang mewah itu, di tempat tinggi dan saya rentan terhadap badai dan angin. Saya berdansa untuk menjernihkan kesan yang samar-samar, buat apa di dunia ini”.

Kegelisahan di Peradaban yang Bejat

Setelah dinasti Tang, Song, dan Ming, sejarah Tiongkok beranjak dari puncak dan kian menurun, sifat iblis seluruh umat manusia mulai bergerak. Di masa dinasti Song Kwan Yu (Samkok) mendadak populer bagai dewa, di kalangan rakyat jelata dongeng kesaktian yang ditampakkan Kwan Yu bermunculan, kuil penyembahan Kwan Yu dibangun di berbagai daerah. Pada saat ini, keadaan dunia sedang merosot akhlaknya, keagamaan mulai mengintervensi dunia politik, seribu tahun pertama setelah kebangkitan Yesus muncul pasukan salib yang menjajah ke Timur. Dataran Tengah saat itu diserang pasukan Jin yang ke selatan. Muncul pemberontakan Jenderal Yue Fei terhadap pasukan Jin. Kata pembuka dari buku Shuo Yue Chuan Zuan dikatakan bagaimana Chenpo melihat Yue Fei diatur turun dari langit menjadi manusia. Di akhir tulisan diceritakan bagaimana orang-orang ini menyelesaikan misinya.

Pada dinasti Song Selatan muncul seorang “biksu pemakan daging” yang bernama Qigong (1148-1269) yang memiliki kesaktian luar biasa, ia dapat melempar keluar kayu-balok dari dasar sumur. Ada seorang lagi yang bernama Zhang San Feng (Tio Sam Hong tahun 1247), yang mencipta dan menyebar senam pernapasan (Tai Ji Quan). Orang awam tidak tahu sebabnya, hanya tahu kedua kultivator ini luar biasa hebatnya. Setelah China Daratan merdeka, karena senam pernapasan tersebut hanya bersifat untuk kesehatan fisik saja, maka tidak terkena larangan yang disebut “dobrak 4 kuno” dan telah menjadi dasar bagi Qigong modern yang marak lagi di masa revolusi kebudayaan.

Selain itu, pertengahan tahun ‘80-an, cerita Qigong (biksu pemakan daging) yang ditayangkan di televisi sangat populer di Tiongkok, juga di seluruh Asia Tenggara. Berbarengan dengan fenomena kesan tentang kultivator adalah “beralas sobek, bertopi rombeng”, “cuek terhadap penampilan” dan lain-lain. Sedang makna mendalam dari kultivasi itu sendiri, tertelan oleh masyarakat yang bejat moral.

Fenomena Fa yang melenceng sudah dimulai besar-besaran sejak dinasti Song dan Ming, gabungan tiga aliran agama Confusiusme, Taoisme dan Buddhisme menjadi arah kecenderungan yang menentukan. Filsafat aliran Konghucu pada dinasti Song dan Ming itu mengebiri budaya Tiongkok yang  sarat akan kandungan makna dan terkukung ke dalam norma yang baku, dan merupakan pemahaman yang terbatas dari si pelaku untuk mengartikulasikan buku-buku kuno, Zhouyi yang masih populer sekarang, anotasi dari Zhuxi (antologi orasi) dianggap yang dapat mewakili, tetapi makna kandungan dari terjemahannya menyebabkan generasi berikutnya tak dapat menyerap arti yang tersurat maupun yang tersirat pada kitab “Yi Jing”.

Kecemerlangan Duniawi

Dinasti Song berakhir, seiring dengan keadaan para jenderal yang saling berebut kekuasaan, maka peradaban Tiongkok yang mahacemerlang tertutup tirai suram alias merosot. Kira-kira berawal dari masa dinasti Yuan, ajaran Tao mulai berangsur-angsur kehilangan makna kultivasinya, makna dari filsafat dan hukum Tao, sikap “nrimo” dipelesetkan sebagai pedoman sikap hidup, mengekang hawa nafsu. Nilai kedalaman Tao memupus, bahkan menjadi suatu bahan gunjingan banyak orang. Sastra roman berbahasa umum mendadak merakyat.

Di zaman dinasti Ming, sudah jarang terdapat kultivator sejati, juga kenyataan melalui kultivasi dapat mengantar orang menjadi dewa, sudah dianggap sebagai mimpi yang musykil. Ketika dunia Barat memasuki Renaissance, maka roman umum yang beraneka ragam mulai berkembang pesat di Tiongkok, secara keseluruhan aksara dan kultur Tiongkok kuno mulai berubah. Sejarah berusia 600 tahun sejak masa itu sebenarnya telah diatur dengan rapi; Penasihat Ming Taizu (awal dinasti Ming) Liu Bo Wen mengetahui ini, lalu diwujudkan dalam bentuk puisi ramalan yang diwariskan untuk generasi selanjutnya –Shao Bing Ge (lagu memanggang roti). Seratus tahun berlalu, ahli nujum Nostradamus dari Barat pun mewariskan ramalannya –ramalan tersebut muncul lagi di pertengahan abad ke-20.

Permulaan Sifat Iblis yang Murka

Dinasti Ming merupakan sebuah dinasti yang sangat berperan dalam sejarah Tiongkok, rintangan-rintangan besar terhadap perkembangan peradaban terbentuk di masa ini. Pada masa itu,  para wanita dipaksa mengecilkan kakinya dengan cara dibalut dengan paksa, mempraktikkan falsafat Confusius secara menggila, karangan gaya delapan yang streotip, menyimpang jauh dari budaya yang diwariskan oleh para dewa. Sida-sida (kasim) diberlakukan dalam istana, menjalankan peraturan takhayul, menciptakan sistem spionase yang menelan biaya besar, untuk mengintervensi istana kerajaan, mengontrol pejabat dan menindas rakyat kecil.

Jika dikaitkan dengan organisasi spionase, pengekangan terhadap kebebasan berpikir dan berkeyakinan serta sistem membatasi arus perpindahan kependudukan terhadap warga negara, semuanya memakai sistem dari dinasti Ming. Banyak cendekiawan paham betul politik spionase itu adalah produk pemerintahan bobrok, organisasi penyelidik yang timbul merupakan kemunduran sejarah, tirani. Dalam sejarah, yang menjalankan politik semacam itu adalah Shi Huang Di, Zhu Yuan Zhang.

Wu Cheng En dari dinasti Ming menulis sebuah karya fiksi berjudul Xi You Ji sebenarnya menjiplak kitab kuno tentang kultivasi diri berjudul Xingming Gui Zhi yang menggambarkan catatan sebuah proses kultivasi diri, berkultivasi dalam lima unsur. Seluruh struktur cerita roman tersebut sesuai dengan isi yang terdapat dalam Kitab Xingming Gui Zhi. Delapan babak pertama bercerita tentang kultivator meletakkan dasar berkultivasi, baik kultivasi sang kera sakti Shun Wu Kong maupun Biksu Tong, hanya saja proses pada Biksu Tong lebih panjang.

Sinar Fajar di Kegelapan

Di masa dinasti Ming dan Qing, Buddhisme dan Taoisme kian kehilangan pamor, berkultivasi makin menjauh. Menjelang runtuhnya dinasti Ming, norma-norma akhlak umat manusia secara keseluruhan merosot. Sejarah 400 tahun belakangan ini, merupakan kemerosotan dunia Timur dan Barat secara berbarengan. Di alam manusia, sangat jarang para dewa menampakkan diri di bumi, sebaliknya cerita tentang iblis, roh halus dan siluman seperti dalam Liao Zhai-Zhi Yi, banyak bermunculan.

Seiring takdir sejarah, 400 tahun setelah masa itu di pertengahan dan akhir masa “revolusi kebudayaan” di Tiongkok, muncul masa klimaks ”Qigong” yang tak pernah ada sebelumnya, berbagai macam cara kultivasi dari aliran Buddhisme dan Taoisme, tampil pola Qigong di masyarakat awam, mengingatkan kembali nuansa kultivasi kuno yang masih sedikit tersisa dalam ingatan. Kultivasi tradisional kuno dalam arus masyarakat modern yang digerakkan oleh kemajuan iptek, tumbuh subur dan berkembang, merupakan berita gembira bagi umat manusia, juga merupakan harapan bagi manusia menciptakan kebudayaan yang sama sekali baru di masa yang akan datang.  (Zhengjian.net/fadj/asr)

Share

Video Popular