JAKARTA – Gerhana Matahari total, Rabu (9/3/2016) dengan jam yang bervariasi bisa dilihat pada 12 provinsi di Indonesia sedangkan seluruh provinsi lainnya hanya bisa menyaksikan gerhana matahari setengah. Lalu apakah ada efek dan bagaimana hubunganya dengan gravitasi bumi saat gerhana matahari terjadi?

Deputi Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Masturiyono mengatakan memang pada saat gerhana matahari terjadi sekitar 15 menit kemudian terjadi dua gempa bumi pada lokasi yang berbeda yaitu di Laut Banda sebesar 4,1 skala richter dan di Laut Sulawesi sebesar 4,2 skala richter. Meski demikian, dia menilai bahwa terjadinya gempa bumi di kawasan lautan tersebut tak berkaitan dengan gerhana matahari.

Akan tetapi, lanjutnya, dia menyatakan tak mutlak mengatakan fakta yang disampaikannya tak perlu dilakukan kajian lebih mendalam. Dia menyarankan para ahli untuk membuat penelitian yang lebih detail, tentang kaitan gerhana matahari dengan gempa bumi di lautan untuk melihat hubungan sebenarnya. Fenomena yang tak terjadi setiap bulan ini juga tak berdampak terhadap kehidupan manusia secara umum.  Meski demikian, masih ada kemungkinan-kemungkinan lainnnya yakni terhadap saluran komunikasi melalui gelombang radio.

“Jadi kalau dampak korban saya kira tidak,” ujarnya di Kantor BMKG Pusat, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Akan tetapi tak dapat terbantahkan bahwa ada perubahan jarak antara bumi dengan matahari serta bulan saat gerhana matahari terjadi. Fakta ini tentu akan mempengaruhi, oleh karena itu BMKG sedang mencoba untuk membuat rekaman secara terus menerus untuk dilakukan kajian lebih mendalam. Berdasarkan makalah tim BMKG,  secara teori pada saat terjadinya gerhana posisi Matahari Bulan dan Bumi pada satu garis ekliptika, hal tersebut dapat dilihat pada posisi deklinasi Bulan dan Matahari.

Lalu apa saja fakta-fakta yang mempengaruhi terhadap bumi? Masturiyono menjelaskan, jikalau gravitasi terjadi pada waktu gerhana maka jarak antara bumi, bulan dan matahari itu semakin mendekat. Maka pada saat itu, daya tariknya semakin besar makanya posisi pada saat itu gravitasi akan naik.

Sedangkan berkaitan dengan magnet bumi berkaitan pada saat matahari tertutup, maka lapisan iosfer pada waktu itu akan berubah yakni kontens iosfer. Sehingga pada saat gerhana matahari total, maka variasi medan magnet di bumi ini juga akan mengalami ganguan.

Secara rinci, makalah tim BMKG juga menyebutkan, posisi Matahari dan Bulan memberikan pengaruh terhadap variasi nilai gravitasi bumi pada titik yang sama, maka pada saat posisi keduanya satu garis akan memberikan gaya tarik yang lebih besar dari biasanya. Gaya tarik Bulan dan Matahari adalah salah satu gaya pembangkit pasang surut di permukaan bumi selain gaya sentrifugal yang dihasilkan revolusi Bumi dan Bulan.

Untuk diketahui, dokumen BMKG menyebut pengamatan perubahan  variasi  pasang  surut  bumi pada  saat terjadinya  gerhana Matahari total telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti berbagai negara yakni Capato (1961),  Eckhardt  (1990)  telah  melakukan  penelitian  terkait  dengan  kemungkinan adanya gaya tarik Matahari dan Bulan pada permukaan bumi. Termasuk di Tiongkok pada 2000 saat gerhana Matahri total yang melintas di  daerah  Mohe,  dengan  menggunakan  alat  gravimeter  Lacoste  Romberg  digital.

Penelitian  terbaru  dilakukan  oleh  beberapa  peneliti  dari  Turki  dengan  mengamati perubahan gravitasi dengan menggunakan alat gravimeter Worden- Master dan magnet bumi pada saat terjadinya gerhana Matahari 2006 Ates dan tim pada (2009).

Pada penelitian Gerhana Matahari Total 2016, BMKG mengoperasikan Gravimeter Scintrex CG-5 di dua lokasi yang dilewati oleh gerhana Matahari total yaitu di Tanjung Pandan dan Palu  dan satu lagi dipasang di Jakarta daerah yang tidak mengalami gerhana total.

Gravimeter Scintrex CG-5 dipasang satu bulan sebelum terjadinya gerhana dengan pengukuran kontinus  dengan  interval  30  detik.  Untuk mendapatkan  variasi pasang surut bumi pada masing masing alat koreksi pasang surut bumi mode auto dimatikan. Alat diletakan di tempat yang stabil dan jauh dari noise getaran. “Sebulan lalu sudah kita rekam secara kontinyu dan kita akan meneliti hasil rekaman,” tutur Masturiyono. (asr)

Share

Video Popular