Meskipun laki-laki dan perempuan masing-masing bisa mendapatkan manfaat dari persahabatan lawan jenis, namun, para ahli juga menemukan adanya tantangan dalam persahabatan lawan jenis ini. Selama ini, masyarakat memandang cinta itu sebagai hubungan antara pria dan wanita yang tipikal, namun, terhadap model persahabatan Plato ini, kita merasa bingung tidak mengerti, bahkan tidak tahu bagaimana mendefinisikannya.

Tantangan 1 : Bagaimana mendefinisikan hubungan kedua belah pihak ?

Percintaan spiritual ala cinta Platonis antar teman lawan jenis itu memang ada, ujar Dr. Don O’Meara, profesor dari University of Cincinnati, Amerika Serikat, yang memublikasikan studinya tentang hambatan utama persahabatan dengan lawan jenis.

Sebuah studi terhadap 20 pasangan teman lawan jenis menyebutkan, bahwa daya tarik dari hubungan persahabatan antar teman atau hubungan teman tanpa nafsu itu adalah tipikal persahabatan sejati yang dialami orang-orang, namun, untuk membedakan antara cinta, nafsu atau persahabatan itu memang sangat sulit. Orang-orang tidak tahu perasaan yang bagaimana baru tepat atau sesuai terhadap teman lawan jenis itu, kecuali telah didefinisikan dalam budaya kita. Misalnya, Anda tahu bahwa Anda menyukai seseorang, tapi perasaan belum berkembang sampai tahap kencan atau nikah, lalu apa artinya ini? Apakah persahabatan atau cinta ? Perasaan yang unik ini membuat banyak orang bingung.

Tantangan 2 : Bagaimana mengatasi daya tarik seksual?

Yang paling unik dan pelik dalam persahabatan lawan jenis itu adalah masalah daya tarik seksual, daya tarik seksual kerap bersembunyi di balik layar, tiba-tiba merusak keseimbangan awal persahabatan lawan jenis. Sebuah pelukan sederhana mungkin saja memberi makna perasaan yang lebih dalam saat itu, dan Anda mencoba melakukan perihal antara teman, namun peran sebagai laki-laki dan perempuan menghalangi keinginan Anda.

Tantangan 3: Bagaimana membangun hubungan sejajar ?

Persahabatan itu seharusnya hubungan timbal balik, namun, dalam budaya sekarang, pihak laki-laki selalu lebih mendominasi, lebih prestise dan berkuasa, ini adalah beban dalam hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Meskipun perlahan-lahan masyarakat telah berubah, lebih seimbang terhadap gender, namun, dalam persahabatan lawan jenis, kaum perempuan kerap tanpa sadar selalu berperan sebagai kaum yang patuh.

Tantangan 4: Bagaimana menghadapi pandangan masyarakat ?

Segenap masyarakat belum siap dalam menerima persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan, terutama mereka (generasi tua) yang baru menerobos pagar/hambatan gender setelah menikah. Teman-teman lawan jenis yang memiliki hubungan baik kerap menemui masalah seperti ini : ada yang menyindir dan bertanya dengan nada dan pandangan curiga : “masa sih hubungan kalian hanya sekadar teman ?”

Tantangan 5: Bagaimana menemukan persahabatan lawan jenis?

Sejak di sekolah dasar, pria dan wanita mulai membentuk lingkaran kecil perbedaan gender secara alami, anak laki-laki lebih suka bersama/bermain dengan laki-laki, sementara anak perempuan berkumpul bersama dengan sesama kaumnya, fenomena ini dikenal sebagai “pemisahan gender secara sukarela”. Hingga menginjak bangku SMA, kekuatan pubertas baru menyatukan mereka, namun kedua belah pihak tidak berkesempatan lebih dulu belajar menjadikan lawan jenis itu sebagai teman biasa, karena sejak awal telah menjadi objek kencan.

Sesampainya di tempat kerja dan acara-acara sosial lainnya, dimana meskipun tempat-tempat ini terus terbuka untuk perempuan, namun, sedikit sekali kesempatan untuk berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. Ketika hubungan pria dan wanita berkembang menjadi sepasang kekasih atau setelah menikah, maka untuk berteman dan menjaga persahabatan lawan jenis itu akan menjadi sangat sulit, bahkan salah satu pihak yang merasakan ketenangan dengan adanya ikatan pernikahan itu mungkin tidak menginginkan pasangannya membangun persahabatan baru dengan orang lain, terutama dengan lawan jenis yang menarik.

Jumlah teman lawan jenis juga sedikit demi sedikit akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Menurut pandangan penulis Rosemary Blieszner dalam karyanya yang berjudul “Adult Friendship”, mereka yang menginjak usia parobaya sangat jarang membangun persahabatan baru dengan lawan jenis. Penelitiannya menunjukkan, bahwa hanya sekitar 2 persen wanita parobaya punya hubungan persahabatan dengan laki-laki.

Mungkin banyak tantangan yang sulit diatasi, namun, persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya suatu keniscayaan, tapi suatu keharusan, jika pria dan wanita ingin hidup berdampingan/saling mengisi dalam masyarakat modern, maka harus belajar untuk saling mengerti dan berkomunikasi. Dalam kehidupan nyata antara pria dan wanita, seks tidak selalu menjadi topik.

Menurut Rosemary, kunci utama agar laki-laki dan perempuan bisa menjadi teman sejati adalah kedua belah pihak harus jujur, berpikiran terbuka dan berbicara tentang arti hubungan keduanya, kemudian membentuk garis-batas. Adapun mengenai topik daya tarik seksual, dimana jika bisa ditangani dengan baik dan tidak sengaja diabaikan, maka hubungan pertemanan antara pria dan perempuan itu bisa terjalin dengan baik dan akan berhasil membangun persahabatan abadi.(Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: MISTERI SERBA SERBI

Video Popular