Gubernur Bank Sentral Inggris Mark Carney mengatakan bahwa pengaruh terbesar bagi Inggris bila menarik diri dari Uni Eropa adalah ancaman terhadap stabilitas keuangan. Selain itu juga mempertinggi resiko stabilitas keuangan yang sudah ada.

Dalam dengar pendapat di Komisi Keuangan parlemen Inggris pada Selasa (8/3/2016) Carney mengatakan bahwa ketidakpastian yang terjadi setelah Inggris menarik diri dari Uni Eropa akan mempengaruhi perekonomian Inggris.

Namun Carney juga menegaskan bahwa Bank Sentral Inggris akan berdiri netral, tidak bermaksud untuk mempengaruhi salah satu pihak yang ikut ambil bagian dalam referendum. Meskipun anggota parlemen dari Partai Konservatif Jacob Rees-Mogg menuduh Carney mengeluarkan komentar yang pro Uni Eropa.

“Resiko domestik terbesar setelah Inggris menarik diri dari Uni Eropa akan berupa ketidakpastian yang berpengaruh langsung pada jumlah investasi, pengeluaran rumah tangga serta nilai tukar Poundsterling,” sebut Carney.

Carney juga mengatakan bahwa Brexit dapat mempengaruhi kepercayaan dan investasi masyarakat sehingga menurunkan nilai uang Poundsterling, mendorong tinggi faktor resiko pada obligasi sehingga menurunkan yield. Poundsterling akan menghadapi tekanan lebih berat termasuk yang berasal dari kebijakan moneter, sedangkan referendum Brexit telah menyebabkan volatilitas opsi Poundsterling meningkat, dan terus menurunnya nilai Poundsterling juga akan mengancam Bank Sentral Inggris.

Ia menekankan bahwa Bank Sentral Inggris memiliki kemampuan untuk mencapai target inflasi, produktivitas tetap menjadi tantangan utama. Tetapi meminta agar pandangan Bank Sentral tidak mempengaruhi masyarakat Inggris dalam menentukan sikap Brexit. Kalaupun Inggris jadi menarik diri dari Uni Eropa, Bank Sentral akan melakukan segala kemungkinann untuk menjaga stabilitas keuangan Inggris.

Bank Sentral akan menyediakan hingga miliaran Poundsterling dana likuiditas bagi perbankan selama referendum yang operasionalnya dapat terganggu. Tindakan serupa pernah juga dilakukan Bank Sentral Inggris saat terjadi krisis moneter. Ketika itu 180 miliar Poundsterling dana likuiditas dikucurkan untuk membantu perbankan Inggris.

Inggris berencana mengadakan referendum Brexit pada 23 Juni 2016 mendatang. Perdana Menteri David Cameron saat ini sedang gencar untuk mengkampanyekan agar Inggris bisa tetap tinggal di Uni Eropa. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular