Sebenarnya kehidupan ini terbentuk dari berbagai masalah sepele. Ada pepatah kuno yang mengatakan, buka pintu ada tujuh masalah, yakni kayu bakar, beras, minyak, garam, kecap, cuka dan teh. Kehidupan dalam pernikahan juga mengutamakan kuali, mangkok, canting dan ember. Dan perselisihan diantara suami dan istri kebanyakan adalah permasalahan yang sangat sepele.

Ketika dua orang yang dibesarkan dalam keluarga yang berlatar belakang berbeda, berjalan menuju jenjang pernikahan, tentunya bisa saling berbenturan (berbeda pendapat dan lain sebagainya).

Normalnya, jika mereka sudah melewati masa berpacaran baru masuk kejenjang pernikahan, maka terhadap tabiat atau kebiasaan hidup masing-masing seharusnya sudah ada pemahaman yang tertentu. Tetapi setelah hidup bersama, akan mengalami masa-masa penyesuaian, setelah melewatinya maka akan bergandeng tangan menjalani hidup seumur hidup. Namun jika dalam masa penyesuaian tidak bisa mendapatkan kesepakatan bersama, maka mereka akan berpisah dan menuju jalan masing-masing.

Segala perselisihan yang muncul dalam kehidupan pernikahan, pasti berasal dari segala tingkah laku pasangan yang tidak sesuai dengan diri kita. Jika hal itu adalah prinsip dari masalah besar dan serius, tidak mudah untuk saling mengalah. Jika permasalahan itu hanyalah masalah perbedaan kebiasaan hidup, atau masalah pemahaman, kalau begitu mutlak tidak perlu memperuncing dan memperluas perselisihan itu, saling berkomunikasi secara baik-baik sudah cukup. Komunikasi adalah ilmu yang paling besar dalam pernikahan.

Pada umumnya, masalah yang paling banyak dipertengkarkan oleh pasangan baru adalah kebiasaan hidup masing-masing. Misalkan, pergi ke pasar membeli sayur, memasak nasi, mencuci pakaian, mencuci piring, dan pekerjaan rumah tangga lainnya, diri kita mengerjakan terlalu banyak sedangkan pihak lain mengerjakan terlalu sedikit. Sangat jarang mendengar ada pasangan tua suami-istri yang masih mempertengkarkan masalah ini.

Sebenarnya, “apa yang tidak kita inginkan, jangan diberikan kepada orang lain”. Jika kita sendiri tidak ingin melakukan, jangan memerintah orang lain untuk mengerjakan. Jika mau mengerjakan maka kerjakanlah dengan kerelaan hati, jika sudah dikerjakan jangan mencari permasalahan lagi dalam hal tersebut.

Sebenarnya pekerjaan rumah tangga selamanya tidak akan habis dikerjakan, hari ini tidak senang untuk mengerjakannya, mutlak boleh tidak dikerjakan, jika ingin pihak lain juga ikut menanggung bersama, bertengkar bukanlah cara yang baik, perlu menggunakan kecerdasan dan sedikit siasat.

Walaupun yang dipertengkarkan adalah masalah sepele, akan tetapi jika pertengkaran itu selalu mengungkit satu hal yang sama, maka benar-benar ada sedikit masalah. Hal ini menjelaskan bahwa pertengkaran itu tidak dengan cara yang tepat, kalau bukan caranya yang kurang tepat, mungkin watak orang tersebut adalah demikian, watak ini sangat sulit untuk diubah.

Bertengkar itu tentunya bisa terjadi. Pertengkaran juga adalah suatu cara penyelesaian dari perselisihan, tetapi jangan sampai selalu memperdebatkan sesuatu yang tidak membuahkan hasil. Jika benar-benar tidak bisa berubah, dan Anda mencintai orang tersebut, maka bersikap lah murah hati untuk memaafkannya.

Zaman sekarang ini tidak sedikit orang yang bercerai demi masalah sepele dalam hidup. Pernikahan sebenarnya tidak perlu digagalkan olehnya, tidak peduli Anda menikah dengan siapa, tidak akan terlepas bebas dari masalah-masalah sepele. Pernikahan terus bergerak maju dalam saling berkomunikasi. Maksud pernikahan, bukan demi mengubah pihak lain, melainkan melalui masa penyesuaian yang berangsur-angsur, melalui pelepasan keegoan diri yang berangsur-angsur, membiarkan perkawinan tersebut bergerak maju secara harmonis dan kekal abadi. (Epochtimes /Lin)

Share

Video Popular