Pemilihan Presiden Myanmar akan segera digelar namun Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang mendominasi parlemen belum mengumumkan calon presiden. Sedangkan Aung San Suu Kyi sudah dipastikan tidak bisa dicalonkan.

Pemilihan presiden Myanmar dilakukan tidak langsung, tetapi Majelis Tinggi, Majelis Rendah dan pihak Militer Myanmar masing-masing akan mengusung 1 nama calon dari mereka untuk dipilih dengan suara terbanyak. Dan kedua orang calon yang kalah suara akan diangkat sebagai wapres. Akibat partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi, NLD berhasil memenangkan seluruh kursi di Majelis Tinggi dan Rendah, maka dapat diduga bahwa calon yang diusung NLD akan memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan.

Calon presiden belum diumumkan

NLD hingga kini belum meengungkapkan siapa yang akan dicalonkan. Informasi yang disampaikan oleh anggota Komite Eksekutif Pusat NLD Win Htein juga sangat terbatas dan kabur. Ia hanya menyebut dengan 2 huruf inisial untuk ditebak.

Menurut Wall Street Journal bahwa, salah satu nama yang cukup santer disebut-sebut masyarakat adalah Htin Kyaw, seorang anggota NLD lulusan Universitas Oxford yang masih menantu dari pendiri partai NLD, U Lwin.

Nama lain yang mungkin juga dicalonkan adalah Tin Oo. Ia adalah Ketua Liga, mantan perwira tinggi militer Myanmar yang kini sudah berusia 90 tahun. Nama calon lain yang juga ramai beredar di masyarakat adalah Tin Myo Win, dokter pribadi Aung San Suu Kyi. Dan sekretaris pribadinya Tin Mar Aung.

Analis Yangon, Richard Horsey kepada WSJ mengatakan, “Secara keseluruhan, siapa saja yang menjadi presiden tidak bermasalah asal saja orangnya benar dan bersedia mendengar ucapan Aung San Suu Kyi. Tetapi bila calon tersebut dapat memusingkan militer atau berselisih paham dengan Aung San Suu Kyi, maka akan ada masalah.”

Media menyebutkan bahwa meskipun NLD menguasai 80 % kursi parlemen, namun tetap perlu berbagi kekuasaan dengan pihak militer, karena kebanyakan kekuasaan administratif masih dipegang oleh militer. Apalagi militer memiliki hak veto konstitusi untuk melindungi ¼ kursi di parlemen.

Dampak pemerintahan junta militer selama beberapa dekade, masyarakat ibukota memilih diam

Pada 2 Maret 2016, Myanmar tiba-tiba mengumumkan pemilihan presiden diajukan dipercepat 1 minggu, banyak media lokal telah tiba di Naypyidaw meskipun masyarakatnya tampak kurang peduli terhadap event besar tersebut.

Menurut media Central News Agency bahwa masyarakay Naypyidaw kelihatannya lebih acuh terhadap isu politik dibandingkan dengan masyarakat Yangon. Kata seorang pejabat KA yang sedang menikmati teh sorenya, urusan besok pasti bisa diketahui besok. Sekelompok karyawati Bank ketika ditanya juga sepakat untuk menolak memberikan komentar politik.

Meskipun beberapa orang bersedia untuk berbicara soal isu politik, tetapi mereka sejak awal sudah wanti-wanti untuk tidak menuliskan nama mereka. Membuat orang yang awam merasakan juga seolah ada suatu kekuatan tak terlihat yang terus memantau.

Pemerintahan junta militer berkuasa selama beberapa dekade di Myanmar membuat masyarakat sangat sensitif terhadap politik, takut untuk menyampaikan pikiran mereka. Bayangan ini masih berakar sampai sekarang terutama saat pemerintahan sedang beralih kekuasaan seperti sekarang.

Jalan masih panjang bagi NLD yang minim kandidat

Ketua organisasi amal dan penyelamatan Maung Sein mengatakan bahwa masyarakat Myanmar tidak peduli siapa yang menjadi presiden. Jika kita benar-benar mendalami konstitusi akan tahu, pada kenyataannya militerlah penguasa Myanmar yang sebenarnya. Dan masyarakat sudah dibiasakan dengan hidup tanpa memikirkan bagaimana esok hari.

Maung Sein percaya bahwa NLD semestinya sudah mempersiapkan kandidat 5 tahun sebelum pemilihan, namun karena yang berkuasa adalah junta militer ditambah lagi dengan berbagai faktor yang menghambat, sehingga NLD yang berhasil memenangkan kursi parlemen kurang siap untuk menampilkan pemimpin.

Ia percaya, selain dari pihak militer yang dibutuhkan NLD untuk berkuasa di pemerintahan baru adalah kandidat presiden, ketua majelis, gubernur Rangon dan menteri luar negeri. Namun sejauh ini calon yang mantap hanya untuk calon Ketua Majelis dan Gubernur Rangon. NLD bisa dikatakan sedang kekurangan kandidat, apalagi mereka kurang percaya kepada etnis Tionghoa, fenomena minus kandidat sudah mulai muncul. Tampaknya era baru bagi Myanmar masih berjarak cukup jauh. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular