Erabaru.net. Pada 20 tahun lalu, super komputer DeepBlue buatan IBM mampu menaklukkan juara dunia catur saat itu Garry Kasparov. Sementara pada 9 Maret 2016 lalu, master Go asal Korea Selatan, Lee Sedol untuk pertama kalinya bertarung melawan AlphaGo, kecerdasan buatan Google. Lee Sedol akhirnya menyerah pada langkah ke 186 dan kalah dari AlphaGo.

Melihat hasil pertandingan yang dimenangkan teknologi kecerdasan buatan Google ini, pandangan para ilmuwan pun beragam, apakah ini merupakan kabar yang menggembirakan ataukah menjadi bencana bagi manusia.

Melansir laman Central News Agency, laga yang dijuluki sebagai “pertandingan terbesar abad ini” oleh media-media di Korsel digelar di Hotel Four Seasons, Seoul. Secara mengejutkan AlphaGo mengalahkan Lee di laga pertama yang digelar pada Rabu (9/3/2016). Lee Sedol, juara dunia permainan Go asal Korea Selatan mengaku “kehabisan kata” setelah dua kali dikalahkan oleh teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) milik Google.  “Saya kalah telak. Sejak awal pertandingan, tak sekalipun saya memimpin.”

Di laga kedua, ketika keduanya terperangkap dalam kesulitan melangkah, atau boleh dikata langkah penentu menang dan kalah, secara mengejutkan “AlphaGo mengambil langkah yang mustahil diambil oleh (pemain) manusia”, dan lagi-lagi ini membuatnya terkejut.  Sekarang permainan baru dimulai, AlphaGo memang menunjukkan sisi yang menakjubkan, namun, belum saatnya menarik kesimpulan.”

Pengembangan kecerdasan buatan berbahaya

Di sisi lain, banyak ilmuwan dan pengusaha prihatin dengan perkembangan kecerdasan buatan. Fisikawan terkemuka asal Inggris Stephen Hawking mengatakan bahwa bahaya terpendam dari kecerdasan buatan (AI) ini  berpotensi membuat manusia menuai kepunahan. Dalam 100 tahun ke depan, robot kecerdasan buatan akan berbalik mengendalikan manusia, tandas Hawking.

Pada Juli tahun lalu, Hawking dan pendiri Tesla Motors Elon Musk bersama dengan 1000 ahli robot memperingatkan dalam sebuah surat terbuka mereka, bahwa sistem senjata otomatis akan menjadi Kalashnikov (perancang senjata kecil asal Rusia, dikenal sebagai pengembang senapan AK-47) masa depan. Surat terbuka tersebut menyerukan “larangan sepenuhnya sistem senjata serang otomatis di luar kontrol efektif secara manual”, untuk mencegah terjadinya perlombaan dalam bidang senjata pintar global.

Elon Musk menggambarkan kecerdasan buatan itu seperti “membangkitkan setan”. “Kita harus esktrim hati-hati menangani kecerdasan buatan. Jika saya harus menebak apa ancaman hidup terbesar bagi umat manusia itu, saya pikir itu adalah kecerdasan buatan”, kata Musk.

Sementara itu, pendiri Microsoft Bill Gates juga cemas dengan perkembangan kecerdasan buatan, kecerdasan buatan tingkat rendah dapat menjadi alat sebagai pengganti tenaga kerja manual, tapi yang saya takutkan adalah sistem “kecerdasan super” yang akan hadir dalam beberapa dekade mendatang itu akan semakin mengkhawatirkan”. Seiring dengan pengembangan lebih lanjut dari kecerdasan buatan, tentu saja, ada potensi bahaya yang besar, masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri, tetapi apa yang akan dilakukan dengan teknologi ini.

AlphaGo, super komputer yang dikembangkan Google akhirnya berhasil mengalahkan Lee Sedol, master Go asal Korea Selatan, dan tampaknya, kecerdasan buatan kini semakin berkembang. Sehubungan dengan kecerdasan buatan ini, pandangan dari para ilmuwan, pengusaha terkenal pun beragam, ada yang berpendapat sebagai perkembangan yang baik, ada juga yang sebaliknya mengatakan bahwa teknologi kecerdasan buatan akan membawa bencana bagi umat manusia.

Berikut adalah prediksi sejumlagh tokoh terkenal terkait perkembangan kecerdasan buatan di masa depan yang dirangkum Majalah Time (TIME) :

  • Ray Kurzweil, seorang penemu, futuris, sekaligus direktur teknik Google, 68 tahun, sangat optimis.

Saya percaya jelang tahun 2029, teknologi kecerdasan buatan bisa mencapai tingkat tinggi dari kecerdasan manusia. Karena ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi membantu penyembuhan penyakit dan membersihkan lingkungan, “di bawah kendali situasi berbahaya, kita memiliki kewajiban moral untuk mewujudkan harapan ini.”

Ditilik dari sudut pandang pragmatis jangka panjang, kecerdasan buatan adalah masalah akhir abad ini. Jika pada saat itu, umat manusia tidak menemukan cara yang lebih baik untuk mengakhiri robot dari kecerdasan buatan yang bertindak semaunya, maka tanamkan chip di kepala mereka (robot), dan non-aktifkan”.

  • Bill Gates, seorang pengusaha, filantropis dan pendiri Microsoft, berusia 60 tahun, khawatir Kecerdasan buatan tingkat rendah dapat menjadi alat sebagai pengganti tenaga kerja manual, tapi yang saya takutkan adalah sistem “kecerdasan super” yang akan hadir dalam beberapa dekade mendatang itu akan semakin mengkhawatirkan”.
  • Stephen Hawking, fisikawan, penulis, pelopor fisika tentang lubang hitam, 74 tahun, khawatir :

Kecerdasan buatan memiliki dua kemungkinan yakni keajaiban atau bencana, ini adalah “prioritas utama dalam sejarah umat manusia,” dan bisa jadi juga merupakan masalah pokok yang “terakhir”, kecuali kita belajar bisa  menghindari risiko.”

  • Elon Musk, seorang pengusaha, pendiri SpaceX, Tesla Motors, 44 tahun, khawatir :

Kecerdasan buatan adalah “ancaman terbesar dalam kehidupan kita,” ini ibarat “membangkitkan setan”. (Jhon/asr)

Share

Video Popular