- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Kitab Wahyu di Milenium Baru: Fenomena Aneh Pertanda Peringatan dari Langit (2)

Oleh: Xiao Dao

Hidup di antara Langit dan Bumi, masyarakat kuno mendapat hikmah dan pencerahan kehidupan dari bulan, bintang dan matahari. Mereka memercayai hubungan mikroskopik antara manusia dengan Langit, adanya ikatan batin dengan Langit. Sinar korona, gerhana Matahari, gerhana Bulan, komet dan pelangi, semua fenomena aneh itu merupakan cerminan bumi dan manusia, adalah pertanda yang diberikan Langit bagi manusia.

Dalam ilmu nujum Babilonia, bintang di langit merefleksikan manusia di bumi, juga merefleksikan kejayaan maupun kehancuran umat manusia. Sama halnya dengan tanda sidik jari di tangan, nasib manusia telah terpatri pada gugus bintang di langit, segalanya telah diatur sedemikian rupa.

Di langit nun jauh di sana terdapat sebuah bintang dan sebuah konstelasi, yang memutuskan takdir kita. Sebuah bintang yang jatuh dari langit adalah kejatuhan seorang manusia, lahirnya suatu bintang juga merupakan kelahiran seorang manusia di bumi. Dalam pola pikir seperti itu, manusia dibebaskan dari debu, naik ke langit. Bagi manusia yang terjebak di bumi, ini adalah suatu motivasi yang sangat besar, bahwa takdir kita bukan berada di tanah berdebu ini, melainkan ada di tengah gugus bintang yang gemerlap.

Alam semesta kita sedang mengalami suatu perubahan teramat besar. Memasuki milennium baru, benda langit dalam jumlah besar telah terlahir dan hancur lebur. Dari Bimasakti hingga tepi alam semesta yang bisa diamati oleh manusia hingga saat ini, didapati bintang baru terlahir dari tengah ledakan (starburst) yang cemerlang. Di segala penjuru alam semesta yang terdalam, ledakan sinar Gamma memancarkan energi berkekuatan dahsyat tak terhingga. Menurut pola pikir masyarakat kuno, jika perubahan seluruh alam semesta ini terefleksi dengan fenomena alam dan manusia di bumi, maka perubahan besar di alam semesta ini, seperti ledakan besar beruntun di galaksi ini, lahirnya bintang super baru, hancurnya bintang Kerdil Putih, bisa dibayangkan, itu menandakan sesuatu yang luar biasa, suatu perubahan di tengah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Setiap kali langit berguncang bumi bergonjang-ganjing, banteng bumi menggeliat. Setiap kali angin badai bergolak di angkasa dan mengeluarkan amarah yang menggelegar, manusia diam-diam gemetar ketakutan, dan mengira hari kiamat telah tiba.

Karena iklim yang aneh, di musim dingin yang hangat bunga pun bisa bermekaran seperti di musim semi. Lebah yang rajin dan tulus mengira musim semi telah tiba, sibuk mengepakkan sayap kecilnya dan terus menerus menyedot serbuk sari bunga. Di musim dingin yang seharusnya lebah beristirahat justru sibuk bekerja seperti di musim semi. Serangga kecil ini akan kelelahan, dan mengalami fenomena seperti manusia yakni mati karena terlalu letih. Begitulah, lebah pun lenyap dari muka bumi ini. Ternyata, bagi mahluk hidup di atas bumi ini, “kelainan iklim” ini sangat mematikan.

Dibandingkan dengan lebah yang begitu kecil, musnahnya dunia fauna lebih mengejutkan lagi. Di bumi ini, mahluk hidup yang di ambang kepunahan mencapai 40%. Perubahan di dunia fauna terefleksi dengan galaksi angkasa. Pada tahun cahaya nun jauh di sana, ledakan sebuah bintang sebelum mati, memancarkan cahaya dan panas menembus langit sampai ke depan mata. Di saat yang sama, hewan liar di atas bumi, sedang mati-matian berjuang bertahan hidup di tengah iklim yang semakin tidak cocok untuk hidup ini, bernafas berat di hari yang begitu panas menyengat ini.

Fenomena Aneh di Dataran Timur Kuno

Bumi sedang berada di tengah air bah dan bara panas. Sekarang ini, kondisi di Tiongkok patut diperhatikan. Di satu sisi karena Tiongkok merupakan negeri peradaban kuno yang beruntung masih tetap eksis (walaupun peradaban kuno itu sendiri telah nyaris musnah), di sisi lain, karena peristiwa yang terjadi di dataran Tiongkok yang disebut Tanah Dewata itu, jauh lebih berbahaya dibandingkan tempat mana pun di dunia ini.

Di Tiongkok, fenomena langit yang paling menonjol adalah kabut tebal yang menyelimuti hampir separuh negeri itu. Di tengah kabut pekat, manusia yang berjalan terlihat ibarat sosok-sosok bayangan, seolah sebuah negeri hantu di antara langit dan bumi.

Bencana alam yang melanda negeri kuno ini bisa dikatakan menduduki peringkat teratas dunia. Banjir besar di Sungai Yangtze pada 1988 mengakibatkan 14 juta jiwa kehilangan tempat tinggal. Gempa dahsyat Wenchuan pada 2008 menewaskan 70.000 jiwa (angka konservatif versi pemerintahan Partai Komunis Tiongkok/ PKT). Badai salju pada Juni 2015 di koridor Hexi provinsi Gansu, lebih dari 100 ekor Yak (sapi berbulu) mati beku. Di tengah udara panas yang berhembus, di langit terlihat awan skala yang membawa sial, langit senja yang merah membara ibarat api membakar langit barat. Yang paling menonjol adalah munculnya pemandangan “naga menyedot air” di Danau Hongze di provinsi Jiangsu, turunnya salju di Gurun Taklamakan di Xinjiang, dua matahari di Pulau Hulu di provinsi Liaoning. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG