Erabaru.net. Percayakah Anda ? Wilayah di dunia dengan jumlah penduduk panjang usia terbanyak itu justru terletak di daerah terbelakang dan minim perawatan medis modern, namun, mereka (daerah) memiliki karakteristik yang sama, yaitu di dataran tinggi, dan faktor utamanya ternyata adalah kurangnya kandungan “oksigen”!

Bama, sebuah kabupaten kecil di Yungui, Provinsi Guangxi, Tiongkok, suku Hunza yang tinggal dan hidup di kaki Pegunungan Himalaya, wilayah Vilcabamba di Pegunungan Andes, Ekuador dan daerah Abkhazia di Pegunungan Kaukasus, Rusia atau daerah dataran tinggi lainnya, merupakan beberapa desa panjang umur yang diakui secara internasional saat ini.

Orangtua yang usianya mencapai ratusan tahun itu sudah sangat umum di daerah-daerah ini.

Menurut catatan tahun 2004, ada sekitar 74 orang berusia di atas 100 tahun di Desa Bama, atau dari setiap 3200 orang itu ada satu yang berusia lebih dari 100 tahun.

Atau ada satu orang yang berusia lebih dari seratus tahun dari per 1.3 juta penduduk dunia, dengan tingkat kepadatan lebih dari 400 kali.

Banyak makalah akademis terkait penyakit dengan daerah dataran tinggi menyebutkan, bahwa mereka yang tinggal dan hidup di daerah dataran tinggi itu jauh lebih sehat.

Rasio terserang penyakit kardiovaskular, infark miokard, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, asma, kanker dan penyakit lainnya bagi mereka yang tinggal di dataran tinggi itu jauh lebih rendah daripada mereka yang tinggal di dataran rendah.

Selain itu, perbandingan kematian akibat kardiovaskular pada penderita dialisis di dataran tinggi juga jauh lebih rendah dibanding dengan mereka yang tinggal di dataran rendah.

Sementara rasio hidup pasien di dataran tinggi yang menjalani transplantasi jantung juga jauh lebih tinggi daripada pasien yang tinggal di dataran rendah.

Mengapa mereka yang tinggal di dataran tinggi, memiliki banyak manfaat bagi tubuh ?

Menurut ilmuwan, faktor kuncinya adalah kandungan “oksigen” di dataran tinggi jauh lebih rendah. Sementara mereka yang tinggal di dataran rendah memiliki jumlah oksigen yang memadai di dalam tubuh mereka, yang justru mungkin lebih berisiko dengan adanya “kelebihan” kandungan oksigen.

Karena bahaya oksidatif terhadap jaringan atau organ yang terpapar langsung dengan oksigen seperti jantung, pembuluh darah, trakea, rongga mulut, mata dan organ vital lainya itu sangat besar dampak buruknya.

Faktor ini jugalah yang menegaskan kondisi kesehatan mereka yang tinggal di dataran tinggi itu memang jauh lebih jarang diserang penyakit kardiovaskular, stroke, asma dan penyakit lainnya.

Radikal bebas oksigen” adalah faktor utama pemicu penyakit

Terlalu banyak oksigen akan meracuni tubuh.

Di masa lalu kita hanya tahu bahwa hipoksia (kekurangaan oksigen) dapat membahayakan kesehatan, namun, hasil penelitian ilmiah yang baru justru menemukan, bahwa oksigen yang sedemikian pentingnya ini juga dapat menyebabkan penyakit kanker ! Kita perlu oksigen untuk bernapas, namun, ketika kita menghirup udara yang lebih banyak mengandung oksigen itu mungkin dapat menyebabkan terbentuknya kanker paru-paru.

Menurut sebuah penelitian yang di publikasikan dalam jurnal Peer J pada 2015 lalu, bahwa tumor yang diderita orang-orang yang tinggal di dataran rendah itu jauh lebih tinggi daripada mereka yang tinggal di daerah dengan kandungan oksigen yang rendah di dataran tinggi.

Artikel yang dipublikasikan itu mendapatkan penghargaan penelitian dasar Abramson Cancer Center dari the University of Pennsylvania Medical School, Amerika Serikat, dan dinobatkan sebagai salah satu makalah terbaik dalam bidang biologi kanker oleh Peer J pada Juli 2015.

Artikel itu ditulis oleh dua mahasiswa PhD dari University of California, San Francisco-UCSFU dan University of Pennsylvania, Amerika Serikat.

Mereka telah membandingkan tingkat penyebab kanker di seantero Amerika Serikat, mulai dari alam pegunungan yang indah hingga padang tanaman gandum yang menggelombang, dan mereka temukan bahwa rasio menderita kanker di ketinggian yang turun 1000 meter setiap kali itu akan lebih tinggi 13%, perubahan ini tidak terjadi pada kanker payudara, kolorektal dan kanker prostate.

Oksigen sebenarnya adalah “radiosensitizer” yang kuat, yang dapat menghasilkan “racun” dan “memicu mutasi,” “oksigen radikal bebas” ini adalah faktor utama penyebab berbagai penyakit, termasuk penyakit kanker dan aterosklerosis.

Tipisnya udara di pegunungan, membuat jaringan di dalam tubuh juga secara otomatis akan lebih rendah terkontak dengan oksigen, sehingga dengan demikian tubuh bisa terhindar dari racun oksigen atau mutasi kanker, kata Clarice Weinberg, kepala peneliti dari US National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS), AS.

Clarice mengambil contoh penyakit kanker paru-paru, perubahan kanker pada kanker paru-paru sering terjadi pada lobus paru-paru bagian atas, di sini organ paru-paru berperan sebagai oksigenasi, yang langsung terkontak dengan bagian oksigen.

Ketika mengurangi asupan oksigen, dapat mengurangi kemungkinan paru-paru diserang oksigen.

Ini juga menjelaskan mengapa angka kematian karena kanker paru-paru orang-orang yang tinggal di dataran tinggi itu jauh lebih rendah dibanding mereka yang tinggal di tanah datar. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share

Video Popular