Oleh: Lin Yan

Astronom senior Seth Shostak yang menjabat Direktur Search for Extraterrestrial Intelligence-SETI mengatakan, bahwa abad ini mungkin adalah abad terakhir umat manusia menguasai Bumi, karena bayi hasil rekayasa genetika dan kecerdasan buatan akan menghasilkan kehidupan baru menggantikan manusia dan menguasai planet kita.

Shostak dalam blognya mengatakan khawatir pengembangan rekayasa genetika dan kecerdasan buatan pada akhirnya akan menghasilkan “spesies asing” yang mengendalikan manusia dan menduduki planet Bumi pada 2100 mendatang.

“Apakah ini merupakan abad terakhir bagi umat manusia?” demikian tanda tanya Shostak dalam blognya seperti dilansir Daily Express,” Inggris, 19 Januari 2016 lalu.

Ia mengatakan bahwa seiring dengan peningkatan anak-anak dari hasil rekayasa genetika, anak cucu mungkin akan menyambut kehadiran terakhir manusia.

“Anak-anak kita yang didesain ulang itu akan dengan cepat mengubah spesies kita. Kita pada akhirnya dapat menghasilkan generasi yang tidak sama dengan manusia seperti kita pada umumnya, perbedaannya seperti anjing dan serigala,” tulis Shostak dalam blognya.

Menurut Shostak (72), bahwa munculnya kecerdasan buatan akan memberi dampak terbesar pada masa depan umat manusia.

“Perubahan-perubahan ini tidak hanya membentuk masa depan kita, tapi juga menghasilkan sesuatu yang berbeda dan tak terbayangkan,” ujarnya.

Shostak memperkirakan bahwa menjelang 2100, orang-orang sekarang dapat menghasilkan kecerdasan buatan (Artificial general intelligence-AGI atau AI), yang dilengkapi dengan kesadaran, kepekaan, pengetahuan dan kecerdasan buatan mumpuni lainnya dari karakteristik manusia pada umumnya, tidak lagi hanya terbatas pada suatu kecerdasan tertentu, dan mesin kecerdasan buatan mungkin hanya seukuran iPad besarnya.

“Tentu saja, Anda bisa menepisnya, apakah semua yang saya katakan ini akan terjadi dalam abad ini, tapi apakah menurut Anda hal ini tidak akan terjadi dalam beberapa abad ke depan? Orang-orang yang hidup di abad ke-11 mungkin merasa gelisah dengan teknologi sekarang, namun mereka tidak sulit untuk mengenali siapa kita hari ini, sementara kita mungkin mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi orang-orang seribu tahun kemudian,” tulis Shostak. (Epochtimes/ joni/rmat)

Share

Video Popular