Oleh Zhang Dun

Uji coba nuklir dan peluncuran rudal yang dilakukan berturut-turut oleh Korea Utara memicu sanksi berat masyarakat internasional. Hal itu juga membuat situasi ketegangan di Semenanjung Korea semakin memburuk. Sarjana yang tergabung dalam wadah pemikir AS beranggapan bahwa ancaman terbesar bagi rezim Korea Utara bukan kudeta ataupun sanksi perluasan yang baru diberlakukan, tetapi wabah penyakit.

Dewan Keamanan PBB pada 2 Maret 2016 mengeluarkan sanksi yang diperluas kepada Korea Utara dengan tujuan untuk memotong aliran dana proyek pengembangan senjata nuklir.

Militer Korea Selatan dan AS mulai 7 Maret 2016 hingga 30 April 2016 mengadakan latihan militer gabungan terbesar dalam sejarah yang juga diikuti oleh militer dari Australia dan Selandia Baru. Latihan militer gabungan itu, menunjukkan tekad kuat masyarakat internasional untuk mendukung usaha PBB mengekang provokasi senjata nuklir Korea Utara.

Di hari pertama latihan militer gabungan itu, Korea Utara mengeluarkan ancaman kepada AS dan Korea Selatan mengatakan akan menyerang lebih dahulu demi tujuan untuk menekan lawan. Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara dalam pernyataannya menyebutkan bahwa jika tombol sudah ditekan, maka seluruh pangkalan militer dari pihak provokator akan menjadi abu dalam sekejap, dan mereka ittu akan terkubur dalam lautan api.

Baru-baru ini, penasihat senior dari Pusat Studi Strategis dan Internasional AS yang mempelajari masalah Korut, Victor Cha dalan wawancaranya dengan media ‘Vice’ mengatakan, Korea Utara sekarang ini sedang berbangga dengan senjata nuklir yang mereka miliki, untuk membujuk agar mereka mau meninggalkan senjata nuklir, tampaknya sudah terlambat.

Victor Cha kemudian mengatakan bahwa meskipun Kim Jong-un memiliki kepribadian yang sulit dipahami orang lain, namun para pemimpin Korut lapisan atas tentu jelas memahami bahwa rezim akan runtuh bila mereka sampai menekan tombol peluncuran rudal balistik ke AS.

Pengacara AS etnis Tionghoa Gordon Chang menerbitkan artikel yang dimuat media Daily Beast menyebutkan, ini hanya satu bentuk gertak sambal ala Korea Utara. Sesungguhnya mereka saat ini tidak memiliki rencana untuk meluncurkan serangan nuklir.

“Tetapi, yang lebih dikhawatirkan adalah bila senjata nuklir Korut itu dijual kepada organisasi teroris, seperti ISIS misalnya,” tulis dalam artikel itu.

Meskipun banyak pihak percaya bahwa rezim Korea Utara akan runtuh akibat timbulnya kudeta atau sanksi berat, namun menurut Victor Cha, ancaman terbesar bagi negara diktator itu adalah wabah penyakit. Hanya ini yang belum meledak di sana.

Amnesty International (AI) pernah menyebutkan bahwa sistem perawatan kesehatan di Korea Selatan hampir tidak berkembang, persedian obat tidak cukup. Dokter rumah sakit tidak jarang harus melakukan operasi seperti amputasi dengan tanpa menggunakan obat anestesi dan dilakukan di bawah penerangan sinar lilin, karena daya listrik kurang atau bahkan padam.

Banyak rakyat dari negara berpenduduk 24 juta jiwa itu yang bermasalah dengan kesehatan akibat kekurangan gizi kronis, berpenyakit termasuk TBC, anemia dan lain sebagainya. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular