Oleh CNA Jenewa

Pemerintah Suriah dan kelompok oposisi Senin (14/3/2016) kemarin mulai duduk kembali di meja perundingan. Namun analis percaya bahwa masalah nasib Presiden Assad, pemilihan umum serta bentuk pemerintahan baru kelak akan menjadi kendala terbesar dalam perundingan.

Terselenggaranya pembicaraan damai di gedung PBB Eropa, Jenewa ini merupakan upaya terbesar dari masyarakat internasional demi mengakhiri perang saudara di Suriah yang sudah berlangsung selama 5 tahun.

Lebih dari 270.000 jiwa telah melayang selam 5 tahun perang saudara Suriah itu berkobar.

Analis politik menyebutkan, sejak perundingan yang gagal pada Februari lalu, banyak hal telah berubah. Namun perbedaan besar antara pemerintah dan kelompok oposisi menambah rumitnya proses perdamaian. Dan hambatan utama yang dihadapi adalah menyangkut nasib Presiden Assad, pemilihan umum serta bentuk pemerintahan baru kelak.

Di saat perundingan sebelumnya, api di medan peperangan khususnya di utara Alleppo masih saja berkobar, sehingga mengganggu perundingan. Tetapi sejak 27 Februari AS bersama Rusia terlibat menengahi perjanjian gencatan senjata. Kedua pihak yang saling berperang mulai mentaati, meskipun tembakan sesekali masih terdengar.

Utusan Khusus PBB Staffan de Mistura mengatakan, perundingan kali ini direncanakan akan berlangsung selama 2 pekan terutama untuk merundingkan soal pengeterapan konstitusi baru bagi pemerintahan baru yang akan dibentuk. Selain itu juga menetapkan aturan main dalam pemilihan parlemen dan presiden yang akan digelar dalam 18 bulan mendatang.

Direktur Pusat Penelitian Timur Tengah Universitas Oklahoma, Joshua Landis menyebut topik di atas “tidak realistis.”

Kepada AFP ia mengatakan, meskipun kelompok oposisi dan negara Barat seirama menuntut Bashar al-Assad untuk mundur, tetapi Assad masih kuat dan tidak ada tempat untuk pergi.

Kelompok oposisi utama Suriah (High Negotiation Committee) berulang kali menegaskan, Assad tidak akan memainkan peran di Suriah masa mendatang. Juru bicara kelompok itu Salem al-Meslet mengatakan, “Kami tidak akan menerima Assad, boneka Putin untuk mendominasi Suriah.”

Bagi komite negosiasi, mundurnya Assad dinilai penting agar pembentukan suatu badan termasuk memberikan wewenang kepada eksekutif yang ditunjuk untuk menangani masalah transisi pemerintahan bisa berjalan lancar.

Tetapi sebelum perundingan dimulai, Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem mengatakan bahwa jika kelompok oposisi berharap memperoleh kekuasaan yang tidak mampu mereka raih di medan perang, niscaya perundingan damai itu akan menemui kegagalan.

Reuters melaporkan, Walid Muallem mengomentari usulan Staffan de Mistura yng menghendaki pemilu diadakan dalam 18 bulan, mengatakan, “Delegasi pemerintah akan menentang upaya untuk memasukkan rencana tersebut ke dalam setiap agenda perundingan. Kami tidak akan membahas masalah yang berkaitan dengan kedudukan presiden dengan siapa pun. Bila ini adalah pikiran mereka, saya sarankan agar mereka tidak usah datang untuk berunding.”

Pemerintahan Assad berulang kali menyerukan kelompok oposisi agar membentuk ‘Pemerintah Persatuan’ daripada pemerintahan transisi. Rusia dan Amerika masing-masing mendukung faksi yang saling berperang, tetapi bekerjasama dalam upaya untuk menemukan solusi pemecahan masalah.

Lebih dari separo wilayah Suriah telah dikuasai oleh organisasi teroris IS dan cabang al-Qaeda yang ikut menghambat pelaksanaan perjanjian politik. Joshua Landis kemudian mengatakan, “Meminta para pihak di Suriah menyepakati perundingan akan gagal karena konflik ideologis dan teritorial mereka sudah terlalu dalam. Tetapi semua pihak masih mengandalkan senjata dari pemasok, dan untuk itu mereka terpaksa menyesuaikan kemauan pemasok.”

Ahli urusan Suriah dari Washington Institute of Near East Policy, Andrew Tabler percaya bahwa perdamaian yang digantungkan pada upaya AS dan Rusia belum cukup.

“Apakah AS dan Rusia sama-sama sepakat dengan pengertian bahwa penyelesaian konflik Suriah itu penting? Jawabannya adalah pasti. Tetapi apakah ada solusinya? Belum!“ kata Andrew Tabler. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular