Oleh Qin Yufei

Otoritas Beijing menyebut penurunan cadangan devisa akhir-akhir ini tidak mencerminkan derasnya arus keluar modal, tetapi lebih dikarenakan imbas dari pembayaran hutang dalam valuta asing oleh perusahaan domestik.

Ekonom Universitas Tsinghua David Lee dalam artikel yang dimuat Wall Street Journal mengatakan bahwa tampaknya keluarga Tiongkok belum sampai berkeinginan untuk menyingkirkan Renminbi (RMB) demi menyimpan Dollar.

Tetapi hasil penelitian dari lembaga penelitian yang dimiliki Financial Times menunjukkan, akibat merosotnya perekonomian dan ketidakpastian nilai tukar Renminbi terhadap Dollar AS, membuah gairah masyarakat khususnya dari kalangan ekonomi menengah ke atas untuk membeli dan menyimpan valuta asing menjadi makin meningkat.

Penelitian Rahasia Financial Times (FTCR) terhadap keluarga Tiongkok dan agen-agen penukaran valas menemukan adanya kenaikan permintaan valas (khususnya Dollar AS) keluarga kelas menengah.

Jajak pendapat FTCR menemukan, 45 % responden dari keluarga menengah Tiongkok memiliki rencana untuk menyimpan 10 % penghasilan mereka dalam bentuk valuta asing. 29 % di antara mereka sekarang sudah menjalankan praktik ini. Sementara itu, 26.7 % responden yang tinggal di kota tingkat 3 menyatakan bahwa mereka juga setuju dengan cara tersebut, meskipun hanya 13 % dari mereka yang sudah menerapkannya.

Salah seorang responden asal Shanghai bernama Ye Qian yang bekerja di kantor sebagai administrator mengatakan, ia baru membeli USD. 2.000 untuk disimpan. Lain lagi dengan Pan Yi, seorang analis perusahaan keuangan di Beijing yang mentargetkan diri untuk memiliki simpanan sebanyak USD. 50.000,- setahun yang dananya disisihkan dari penghasilan setiap bulannya. Dana itu akan ia gunakan untuk membeli produk keuangan dalam valas walaupun hanya menghasilkan keuntungan yang kecil. Ia khawatir terhadap nilai tukar RMB yang tidak stabil juga tentang kemampuan pemerintah dalam menangani perekonomian.

Salah satu indikasi bahwa keluarga Tiongkok menjadi pihak yang ikut mempercepat arus modal keluar karena otoritas keuangan secara diam-diam memperketat kontrol modal, selain juga membatasi warga sipil untuk bertransaksi valas.

Pemerintah pusat pada acara-acara resmi selalu membantah memberlakukan cara baru dalam mengontrol arus modal keluaar. Tetapi hasil penelitian FTCR terhadap agen-agen penukaran valas membuktikan bahwa 1001 jurus dimainkan oleh petugas resmi guna menggagalkan transaksi valas warga sipil.

85 % pejabat perbankan yang disurvei mengakui bahwa mereka memang mempersulit penukaran mata uang asing para nasabahnya. Selain itu sebagian dari mereka juga memperkirakan, otoritas keuangan akan lebih memperketat kontrol modal dalam 6 bulan ke depan.

Meskipun otoritas keuangan mengaku berhasil mencegah arus keluar modal yang sah, tetapi aliran yang tidak sah masih saja deras. 80 % responden dari ahli perbankan mengatakan, “Susah-susah masih bisa membawa uang kontan keluar negeri.”

Terhentinya penurunan nilai RMB saat ini justru membuat keluarga Tiongkok makin bergairah untuk “Memilih pegang Dollar.” Sikap tersebut timbul tak lain karena kemerosotan ekonomi yang menggerogoti keyakinan, selain tidak tahu kepanikan apalagi yang harus dihadapi bangsa dan negara di tahun monyet ini. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular