Oleh: Yang Yifan

Belakangan ini, media massa Tiongkok melaporkan, ada jurnalis media massa mereka yang mudik ke kampung halamannya di Tiongkok Timur Laut untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri kondisi hancurnya tata susila tradisional saat ini. Orang kampung tidak patuh dan bahkan agresif terhadap orang tua, tidak berbakti, kesepian dan kesendirian para orang tua. Hiburan di kampung yang tanpa kendali, seks bebas dan perceraian, serta hobi berjudi, berjudi tanpa kendali dan lain-lain.

Menurut majalah Tiongkok “Finance and Economics (Caijing)” 14 Februari yang memuat artikel jurnalis Gao Shengke, yang setiap tahun akan melewatkan tahun baru Imlek dengan mudik ke kampung-halamannya di Tiongkok Timur Laut. Artikel menyebutkan, serba-serbi kampung halaman yang ia tuliskan tahun ini terasa kejam dan mengenaskan, namun justru merupakan gambaran sebenarnya dari tempat itu. Artikel menyebutkan, bahwa segala nuansa tata susila kepatuhan dan keberbaktian kepada orang tua, moralitas dan keadilan di kampung-halamannya telah benar-benar mati. Ia hanya dapat membuat rekaman penggalan-penggalan diantaranya, merekam perubahan mendadak trend masyarakat, pasang surut eksistensi keluarga, serta seluruh proses kematian sebuah kampung halaman.

Suasana tutup tahun manula kesepian dengan generasi muda yang memberontak

Hari sebelum dan sesudah tahun baru Imlek, Gao Shengke mengunjungi beberapa orang tua dalam klan. Merayakan tahun baru Imlek di Tiongkok Timur Laut, semestinya adalah momentum beberapa generasi bersama-sama menikmati kebahagiaan berkumpul dalam satu klan. Namun semakin dekat tahun baru, kehidupan para orang tua dalam kampung semakin terasa kesepian dan kesedihannya, selang waktu untuk dimaki dan dipukul juga semakin pendek. Umpatan yang paling sering diucapkan oleh anak cucu adalah, “Hai, tua bangka, kenapa kamu tidak cepat pergi (dibaca: mati).”

Di saat-saat tahun baru, orang kampung yang berusia tinggi hidup dengan penuh keresahan, mereka semakin merasa berdosa karena telah hidup panjang usia. Keinginan untuk bunuh diri sudah ada sejak dulu, namun karena orang-orang seusia yang sama tua saling menghibur dan menasehati, sekalipun sudah tidak ada lagi keinginan mati, namun masih sulit terhindar dari siksaan hidup.

Ketika mempersiapkan makan malam tahun baru, seorang nenek di kampung yang berusia di atas 80 telah dicaci maki tuntas sampai ke “nenek moyang 8 generasi keatas” oleh menantu wanitanya. Beberapa hari yang lalu, orang tua tersebut didorong jatuh oleh seorang anggota keluarga, tersungkur di bawah tangga batu. Orang tua ini dengan luka memar dibantu tongkat menyalakan api dapur. Karena makanan yang disiapkan dinilai tidak memenuhi selera, meja makan digulingkan oleh menantu wanitanya sehingga makanan berserakan di atas lantai. Sembari mengemasi serpihan piring dan mangkuk, si orang tua hanya bisa menundukkan kepala sangat rendah tanpa berani mengucapkan sepatah katapun. Orang tua itu memberitahu Gao Shengke, menerima perlakuan demikian dari anak-anak adalah karena dia hidup terlalu panjang usia, telah membebani generasi muda.

Artikel menyebutkan, di kampung halamannya, cerita seperti nenek tetangga ini merupakan cermin kehidupan sekelompok orang tua. Dalam beberapa tahun ini, tatkala ia mudik ke kampung halaman dikunjungilah para orang tua yang berusia di atas 75 tahun. Mereka hidup dengan nasib yang jelek, tua tanpa ada yang memelihara. Ironisnya, mereka mempunyai banyak anak cucu, bahkan hampir semuanya lengkap hidup sekampung.

Nenek Tian (nama samaran, 89) memiliki lebih dari 30 anak dan cucu, pada pagi hari tahun baru Imlek tahun ini, dia terus menanti ada anak cucu yang datang menengoknya, namun sampai petang hari, dia masih tetap kecewa. Pada hari tersebut yang pertama kali mengunjunginya adalah seorang tua yang usianya lebih muda 5 tahun dan lebih kesepian dari dirinya. Pada hari berikutnya, sesuai ketentuan yang dibuat oleh suaminya ketika masih hidup, setiap anak dari nenek Tian harus mengirimkan 200 yuan (Rp. 404.000) “dana untuk hari tua.” Dalam setahun, selain mengirim dana 200 yuan itu, anak cucu sudah jarang sekali muncul.

Agar orang tua cepat meninggal dan secara diam-diam, sebagian menantu perempuan yang kejam malah melakukan penghematan dengan pengurangan takaran makan sehari-hari, agar orang tua dalam jangka panjang dapat meninggal secara alami karena kelaparan. Orang-orang tua sekalipun mengetahui hal tersebut, namun tidak berani menyiarkannya.

Bersenang-senang, hubungan seksual dengan siapa saja dan perceraian tanpa kendali

Disebutkan di dalam artikel, selama tahun baru, beberapa wanita petani melalui Wei Xin (WeChat, setara dengan WhatsApp, BlackBerry Messenger dan sebagainya tapi khusus pemakai di daratan Tiongkok, dibawah pengawasan/sensor pemerintah Partai Komunis Tiongkok/ PKT, red.) telah berbincang-ria dengan kawan di internet yang menyatakan dirinya “sangat kaya,” tanpa mengetahui dengan jelas asal usul mereka, namun telah terpikat oleh persyaratan-persyaratan “memiliki X buah rumah, memiliki X buah mobil, memiliki uang yang tidak ada habisnya.” Mereka malah dengan sengaja mengurangi usia mereka beberapa tahun sampai belasan tahun, bahkan setiap saat telah mempersiapkan suatu “pertemuan” yang hingar binger. Apabila pihak lawan persyaratannya baik, mereka berencana untuk tidak balik lagi ke kampung.

Dua tahun yang lalu, beberapa wanita kampung yang modis membawa pulang square dancing yang menjadi mode sampai sekarang. Beberapa orang kampung sepulangnya dari sawah, belum sempat membasuh diri dan makan, sudah dengan cepat terjun ke dalam kelompok tarian. Seiring dengan itu mulai menjalarlah kebiasaan kaum lelakinya terlibat kriminalitas dan perempuannya terjerumus ke pelacuran serta angka perceraian yang semakin meningkat. Kebiasaan dan adat istiadat telah runtuh, dalaam pandangan orang tua, perceraian adalah pelecehan terhadap leluhur, melanggar adat kebiasaan umum.

Praktik berjudi semakin marak

Kebiasaan umum bermain mahyong dan poker selama 20 tahun terakhir ini tak pernah surut malah subur. sekelompok pria dan wanita paruh baya dan anak-anak muda, ketika musim sibuk bercocok tanam, siang hari bertanam di sawah, malam hari setelah makan langsung pergi ke tempat berjudi hingga lewat tengah malam. Ketika musim santai, keramaian tempat berjudi dapat berlangsung sampai beberapa hari dan malam, sampai uang dalam saku ludes akibat kalah berjudi. Dalam merayakan tahun baru Imlek, sampai dengan akhir bulan, tempat judi selalu merupakan saat-saat paling ramai. Ada orang yang karena merasa taruhannya terlalu kecil merasa “kurang merangsang,” pergi ke kampung yang jauh atau ke kota untuk mencari tempat berjudi.

Degradasi moral masyarakat kampung semakin parah

Artikel menyebutkan, kampung ini berpenduduk tidak sampai seratus keluarga, dikelilingi oleh pegunungan, banyak orang kampung yang seumur hidupnya belum pernah turun gunung. Lebih banyak lagi orang tua yang buta huruf, namun justru para orang tua seperti itu justru merupakan sekelompok terakhir orang yang penyabar, polos dan penyayang di daerah pegunungan ini. Sayangnya mereka satu per satu telah meninggal dunia. Sedangkan menurut kenangan para manula tersebut, sejak didirikannya kampung itu sampai sebelum kebiasaan masyarakat berubah, masyarakat kampung ini selalu hidup sederhana dan jujur, penuh tata susila dalam klan, merupakan masyarakat kampung dengan tradisi yang lugu dan baik hati.

Ada netizen yang berkomentar, “Kebiasaan dan moralitas masyarakat tidak lagi seperti dulu, terus merosot, yang paling mengerikan adalah manusia sudah tidak lagi mempunyai iman, degenerasi moral masyarakat semakin parah, uang diatas segalanya dan moralnya anjlok, fenomena ini bukan monopoli pedesanan di Tiongkok Timur Laut saja.”

Para netizen ramai-ramai menghimbau agar kembali mengembangkan budaya tradisional (ajaran Khonghucu) Tiongkok seperti: setia, berbakti, dapat dipercaya, kasih sayang, adil dan akhlak. (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular