Oleh: dr. Patricia A. Muehsam

Bernapas adalah perangkat –yang paling sering diabaikan, paling mudah dilakukan, dan paling mudah dicapai– yang kita miliki untuk meningkatkan kondisi kesehatan tubuh-pikiran kita. Diketahui ada keterkaitan langsung antara mengolah pernapasan dan kesehatan.

Artikel berseri ini, akan membahas tentang kekuatan maha besar dari “mengolah pernapasan”: hal-hal yang diajarkan oleh kearifan kuno dan ditegaskan oleh ilmu pengetahuan modern pada kita.

Bernapas dengan tidak tepat dapat menyebabkan atau memperburuk penyakit dan masalah kesehatan. Belajar untuk bernapas dengan benar akan berdampak sangat cepat dan sangat besar pada kondisi mental, emosional, dan fisik atas ketidakseimbangan tubuh atau penyakit dan menyiapkan tubuh-pikiran kita pada kondisi optimal menuju kesembuhan.

Konsep mengolah pernapasan yang diibaratkan sebagai kehidupan merupakan prinsip dasar penyembuhan tradisional yang telah mendunia. “Qi” dan “prana” dipertimbangkan sebagai kekuatan hidup dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok dan Ayurveda.

Pada bagian pertama ini, diskripsi cara mengolah pernafasan yang benar, menunjukkan perbedaan antara bernapas dengan perut dan dada, dan pengetahuan tentang pernapasan.

Pengalaman awal kita bersentuhan dengan “bernapas” adalah hal yang paling alami. Cara bernapas yang benar adalah bernapas dengan tidak kentara. Bayi bernapas secara alamiah melalui perut. Jika Anda mengamati cara bayi bernapas, Anda akan melihat perutnya membesar saat menarik napas.

Saat kanak-kanak, seiring dengan tumbuhnya kewaspadaan dan kesadaran diri, mungkin kita akan kehilangan cara bernapas yang spontan dan alami. Banyak diantara kita, telah melupakan bagaimana bernapas dengan perut seperti yang pernah kita lakukan saat bayi. Kita menjadi terbiasa melakukan pernapasan melalui dada, menahan perut dan bernapas melalui dada.

Lingkungan masyarakat dan budaya juga memengaruhi bagaimana kita bernapas. Pria dan perempuan secara tidak sadar telah menerima persepsi bahwa perut rata, berdiri tegap, dan membusungkan dada adalah hal yang diperlukan. Persepsi tesebut dengan sendirinya menghalangi bentuk alami pernapasan perut.

Kondisi emosional juga memengaruhi pernapasan kita. Ketakutan, kegelisahan, kemarahan, dan perasaan depresi secara tidak sadar dapat mengaktifkan pernapasan dada, menghambat pernapasan perut, dan bahkan memaksa kita menahan atau berhenti bernapas sesaat.

Bernapas melalui perut secara sederhana membiarkan perut kita mengembang saat kita menarik napas, kebalikan dari menarik napas melalui dada. Dada mungkin saja bisa sedikit mengembang, namun kebanyakan napas diambil dengan membiarkan perut kita mengembang. Dengan membiarkan perut mengembang ketika menarik napas, kita menyediakan ruang bagi paru-paru untuk mengembang lebih sempurna. Usus bergeser memberikan jalan dan menyediakan ruang untuk paru-paru.

Pernapasan melalui perut terkadang diarahkan sebagai pernapasan diafragmatis. Kita sebenarnya tidak sedang melakukan pernapasan dengan diafragma. Diafragma diibaratkan sebagai pintu ayun yang diturunkan untuk memberi kesempatan agar paru-paru mengembang ketika kita membiarkan perut kita mengembang saat menarik napas.

Artikel selanjutnya, akan menjelaskan hubungan antara pernapasan dan emosi, pengetahuan tentang pernapasan, bagaimana bernapas melalui dada dapat menyebabkan dan memperburuk penyakit, manfaat pernapasan perut, dan anjuran untuk melakukan pernapasan perut. (Epochtimtes/Feb)

Bersambung

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular