Ketika kita mengagumi suatu kecanggihan terobosan baru iptek, cobalah kita manfaatkan kesempatan ini untuk merenungkan sejenis apakah si pemikir Albert Einstein itu. Albert terlahir dua dekade sebe-lum awal abad ke-20, namun sejenis apakah pemikiran Albert yang datang dengan ide-ide yang harus menunggu terbukti kebenarannya sampai dekade kedua abad ke-21?

Tokoh yang bertanggung jawab karena memprediksi keberadaan gelombang gravitasi sebagai batu bata terakhir dalam teori relativitas umum, sering kali dilukiskan dalam karikatur rambut berdiri seperti tersengat listrik dengan lidah yang menyembul keluar: si jenius yang sedikit gila tapi menyenangkan, tampak berbeda dengan orang lain pada umumnya.

Gambaran sosok Albert yang sesungguhnya mungkin berbeda dari warna-warni itu. Dia sebenarnya produk dari lingkungan yang berpendidikan baik, terlebih lagi sangat luas, termasuk seni dan hu-maniora.

Sangat sedikit yang tahu jika Albert Einstein juga seorang pemain biola yang handal, dan bahkan hampir tidak ada yang mengetahui bahwa dia tidak berminat mengejar iptek, Albert pernah mengatakan bahwa dia menginginkan menjadi seorang musisi.

“Saya hidup dengan berangan-angan dalam musik. Saya melihat hidup saya dalam terminologi musik.”

Melihat peran musik dalam pemikiran Albert membuka beberapa pencerahan bagaimana dia membentuk gagasan-gagasan ipteknya paling mendalam. Contoh yang dianjurkannya antara lain terlibat secara intim dengan kompleksitas iptek musik, Albert mampu membawakan kualitas estetika yang unik dalam teori-teorinya. Dia menginginkan ipteknya menjadi kesatuan, harmonis, benar-benar mengekspresikan, dan menyampaikan rasa keindahan dari bentuk.

Albert pernah mengaku saat memikirkan iptek dalam terminologi citra dan intuisi, sering kali dia menggambarkannya langsung dari pengalamannya sebagai musisi, kemudian ia hanya mengubah hal tersebut ke dalam logika, kata-kata dan matematika.

Musik dari alam semesta

Dari sekian banyak hal yang bermunculan untuk mempertimbangkan dalam penemuan gelombang gravitasi, mungkin salah satu di bawah ini akan sangat menggelitik minat Albert. Suara yang luar biasa ini:

Dalam mengkonversi gelombang gravitasi menjadi gelombang suara, kita memiliki peluang istimewa yang menakjubkan untuk bisa mendengar gema ledakan yang terjadi miliaran tahun yang lalu dari sebuah galaksi yang jauhnya tak terbayangkan.

Riak suara ledakan tersebut dalam ruang-waktu membutuhkan seribu juta tahun untuk mencapai kita, meluncur melalui kehampaan semesta dengan kecepatan 299.000 kilometer per detik.

Seperti pukulan keras bass drum di suatu tempat terpencil yang mewakili transposisi literal, muncul dari sebuah suara latar kosmik yang menakjubkan. Disesuaikan agar lebih mudah diterima oleh telinga manusia, kedengarannya agak menakutkan, seperti kerikil jatuh ke dalam sumur air.

Sulit membayangkan bahwa menjatuhkan kerikil ke dalam air dapat menghasilkan efek suara beriak yang sama dengan tabrakan lubang hitam super yang jauhnya miliaran tahun cahaya di alam semesta.

Aneh tapi juga pas; hal tersebut sebagian menunjukkan kekuatan elemental suara, terkait selama ia bergerak, sinyal kehidupan, dinamisme dan penciptaan.

Tak peduli apakah itu suara tepuk tangan, dawai biola yang beresonansi, atau lubang hitam yang 30 kali lebih besar dari Matahari kita yang berputar satu sama lainnya 100 kali per detik, sesuatu akan dipindahkan.

Dalam dua tindakan pertama, molekul udara yang dipindahkan akan membentur molekul udara tetangga. Getaran tersebut terus berlanjut sebagai sebuah gelombang sampai ia membentur sesuatu yang dapat menyerap atau menghentikannya, seperti gendang telinga misalnya.

Pada contoh kosmik, itu adalah ruang dan waktu yang dipindahkan, menciptakan berbagai jenis gelombang, yang dapat melakukan perjalanan melalui kevakuman alam semesta selama ribuan tahun.

Selain Albert merasa gembira bahwa prediksinya telah diakui, juga akan terpesona oleh suara riak gravitasi tersebut. Menurut Albert Einstein pribadi, suara, dalam bentuk musik, memberinya kesenangan lebih dari apa pun di dalam hidupnya.

Jauh dari sekedar pengalihan atau hobi semata, musik telah menjadi bagian dirinya yang tampaknya telah memainkan peran dalam proses kerja ilmiah Albert.

Istri kedua Albert, Elsa, pernah menceritakan kisah, suatu hari Albert tampak benar-benar hanyut dalam pikirannya, mengembara ke piano dan bermain selama setengah jam sambil sesekali mencatat.

Mengurung diri di dalam kamar selama dua minggu (secara ganjil tiba-tiba muncul untuk bermain piano), kemudian ia muncul dengan konsep kerja teori relativitas umum.

Tentu saja, bermain piano dan teori relativitas umum tidak terkait dalam arti langsung atau nyata. Pada satu tingkat, cerita tersebut menunjukkan bahwa bagi Albert, bermain piano memiliki efek yang sama dengan berjalan-jalan bagi kebanyakan orang. Proses berpikir dengan berjalan-jalan dapat melepaskan jus kreativitas.

Beethoven tahu itu, seperti juga halnya yang dilakukan orang-orang Yunani kuno, belum lagi oleh banyak generasi penulis.

Namun ada tingkatan yang lebih mendalam hingga ke hubungan iptek-musik di dalam pikiran Albert. Ada beberapa bukti bahwa musik memainkan peran yang sangat membentuk dalam penemuan-penemuan ilmiahnya yang terpenting.

Untuk memahaminya, penting kiranya untuk mengetahui latar belakang musik Albert Einstein, serta dua pencipta musik favoritnya, komponis J.S. Bach dan W.A. Mozart.

Pelajaran biola

Kita cenderung melupakan bagaimana Albert Einstein muda tidak hanya seorang penonton, akan tapi hampir sejenis bohemian yang memainkan biola adalah seorang terkenal dan selebritis dari aspek persona publik.

Albert sering ditemukan di atas panggung tampil kuartet dengan beberapa musisi terbesar era ini, membebaskan dirinya dengan penuh percaya diri seakan tidak ada perbedaan.

Kisaran rangsangan intelektual Albert diperoleh dari bermain musik, dan dampaknya terhadap pendekatan visioner bagi ilmu pengetahuan, sebaiknya tidak dianggap remeh.

Hal itu bukanlah suatu kebetulan bahwa dua komposer yang paling dicintai Albert, mewakili praktisi paling terkenal dari pendekatan yang sangat disukai publik dalam musik klasik Eropa: nada suara dalam pelayanan struktur formal.

Nada suara adalah sebuah konsep, seperti gravitasi, yang (hampir) semua orang tahu tentang naluriah, dengan atau tanpa pelatihan khusus. Musik dengan “pusat tonal” telah ada selama sekitar setengah milenium, dan dapat di dengar dalam musik yang muncul dari era Renaissance Italia, hingga populer, terus ke musik film dan TV hari ini.

Bahkan analogi gravitasi biasanya diperpanjang menjadi metafora ketika menjelaskan nada suara: itu adalah musik yang memiliki pusat gravitasi, titi nada (pitch) yang terdengar paling stabil, lebih seperti home base dari titi nada lainnya -Matahari di dalam sistem tata surya dari titi nada-planet.

Titi nada-titi nada lainnya “mengorbit” di sekitar titi nada pusat suara, dengan berbagai tingkat tarikan gravitasi menuju pusat. Beberapa diantaranya lebih lemah dan lebih jauh, sedangkan yang lainnya dekat dan merasakan tarikan yang lebih kuat.

Kebanyakan orang yang mendengar Preludio dari Partita Bach untuk Violin No 3, akan dapat mengidentifikasi titi nada tengah ini (disebut “tonik”) hanya dengan mendengarkan pembukaan dan kemudian bersenandung apa pun bunyi not yang terdengar paling penting. (Epochtimes/Ajg/Yant)

Share

Video Popular