Oleh Chen Juncun

Pejabat Korea Selatan mengatakan bahwa gempa ‘buatan’ berskala rendah yang terjadi di wilayah Korea Utara pada Rabu (16/3/2016) itu sangat mungkin terjadi karena ledakan biasa tetapi bukan  ledakan nuklir.

Yonhap mengutip sumber dari Dinas Meteorologi Korea Selatan memberitakan bahwa gempa yang terdeteksi berkekuatan 2.2 SR berpusat di 34 km wilayah tenggara Pyongyang dengan kedalaman sekitar 1 km pada Rabu (16/3/2016) sekitar pukul 12:30 itu sangat mungkin terjadi karena sebuah ledakan non-nuklir.

Menurut pejabat berwenang Dinas Meteorologi bahwa data yang terkumpul  tidak menunjukkan gempa tersebut diakibatkan oleh ledakan yang bersumber dari nuklir. Gempa itu terjadi setelah rezim Korea Utara berkoar akan melakukan lebih banyak uji coba ledakan nuklir. Kim Jong-un baru-baru ini mengklaim bahwa negaranya telah berhasil membuat hulu ledak nuklir yang diminiaturisasi dan distandarisasi guna dimuatkan ke dalam peluru kendali balistik. Meskipun AS lebih percaya bahwa Korea Utara belum memiliki kemampuan seperti itu.

Kim Jong-un pada Selasa (15/3/2016) kembali mengeluarkan pernyataan akan segera melakukan uji coba peledakan untuk memastikan kapasitas kemampuan rudal mininya itu.

Terhadap pernyataan provokatif tersebut, ahli urusan Korea Utara dari Korea Selatan percaya, uji coba kelima mungkin akan dilakukan pada April atau Mei mendatang untuk memperingati hari kelahiran Kim Il-sung (15 April), pada saat sebelum Konferensi Ketujuh Partai Buruh Korut pada 7 Mei 2016 mendatang.

Peledakan bila dilakukan sebelum konferensi yang baru diselenggarakan setelah 36 tahun itu akan memiliki pengaruh provokatif lebih besar dan kuat. Membuat dunia takut. Uji coba nuklir keempat dilakukan Korut pada 6 Januari 2016 lalu yang menimbulkan gempa berkekuatan 5.1 SR di lokasi peledakan Punggye-ri. Gempa itu terdeteksi dari Tiongkok sampai  Eropa. Tetapi Dinas Meteorologi Korea Selatan menyebut sebagai gempa ‘buatan.’ (sinatra/rmat)

Share

Video Popular