JAKARTA – Greenpeace Indonesia meluncurkan peta digital online yang memungkinkan publik memantau kebakaran lahan dan deforestasi yang sedang terjadi. Peta ini diklaim merupakan peta yang pertama kali hadir di Indonesia yang memperlihatkan secara lengkap siapa pemilik lahan yang terdeteksi api.

Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia Teguh Surya, mengatakan Indonesia saat ini sedang memulihkan diri dari bencana kebakaran hutan dan gambut tahun lalu, yang sebagian besar dipicu oleh pembabatan hutan dan pengeringan gambut dengan tidak bertanggung jawab.Menurut  Surya, Setelah kebakaran Presiden Joko Widodo mengumumkan rencana Pemerintah dalam perlindungan dan pemulihan kawasan hutan yang terancam atau rusak.

Oleh karena itu, Greenpeace meluncurkan peta interaktif ‘Kepo Hutan’ untuk mendukung terwujudnya komitmen kuat Presiden tersebut. Peta interaktif ‘Kepo Hutan’ adalah sebuah peta yang memberi keleluasaan bagi masyarakat luas untuk melihat informasi terperinci konsesi perusahaan dan bagaimana keterkaitannya terhadap lahan gambut, titik-titik api, dan peringatan deforestasi.

Teguh Surya menuturkan, keterbukaan yang dijanjikan pemerintahan Jokowi dalam Nawacita yang merujuk pada agenda Satu Peta, merupakan kebutuhan mendesak yang saat ini belum terpenuhi. Bahkan, bencana asap muncul kembali, terutama di Provinsi Kalimantan Timur dan juga di Riau yang pemerintahannya telah memberlakukan siaga darurat kabut asap.

“Greenpeace membuka informasi ini untuk memacu perkembangan Satu Peta yang tersendat, dan agar publik dapat turut membantu mencegah bencana kebakaran berulang, dengan memantau titik-titik api pada hutan dan gambut, ” ujarnya saat peluncuran peta online Greenpeace, Rabu (16/3/2016).

Penasihat hukum kebijakan publik  mengatakan platform peta baru yang diluncurkan Greenpeace mengungkap banyak hal tentang tata kelola hutan Indonesia yang belum sepenuhnya terbuka. Dia berharap, transparansi merupakan bukti pemerintahan yang akuntabel, dan dapat memberantas korupsi.

Menurut mantan Wakil Ketua KPK itu jika semua orang mendapat akses informasi untuk melihat dari siapa saja hak atas hutan dialihkan, dan kepada siapa hak itu diberikan, peta-peta ini akan mampu mencegah kerugian sumber daya negara yang timbul dari korupsi dalam hal konsesi, dan meningkatkan kepatuhan dalam tata kelola lahan.

Peta interaktif ini dirancang menggunakan teknologi open source dari Global Forest Watch, dan pertama kalinya menyediakan kumpulan data komprehensif dari perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri dan pengusahaan kayu alam, serta izin pertambangan batubara.

Greenpeace telah mengumpulkan data konsesi dari berbagai sumber, termasuk peta dalam bentuk cetak dan PDF. Data kompilasi yang dimiliki oleh Greenpeace juga disandingkan dengan data-data lain yang juga tersedia pada platform, seperti data titik api, jenis tutupan hutan dan kedalaman gambut, deforestasi, serta sebaran habitat orangutan dan harimau. (asr)

Share

Video Popular