- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Tsunami ‘Kuno’ Setinggi 260 Meter Bisa Terulang Lagi

Gunung berapi raksasa di sebuah pulau runtuh selama letusan, menghasilkan longsor besar yang pada gilirannya menyebabkan tsunami yang sangat menakutkan, gelombang setinggi sekitar 850 kaki atau sekitar 260 meter kaki bergerak dengan kecepatan 30 mil dan menelan apa pun di jalan.

Mungkin terdengar tidak masuk akal, namun itu sudah pernah terjadi setidaknya sekali dan beberapa ilmuwan mengatakan itu benar-benar bisa terjadi lagi.

Bukti bahwa gunung berapi setinggi 9.300 kaki (2834,64 meter) di pulau Fogo, salah satu gunung berapi terbesar dan paling aktif di dunia, runtuh selama letusan pada 73.000 tahun yang lalu dan menghasilkan gelombang begitu besar yang menyapu sekitar Pulau Santiago. Temuan ini, telah diterbitkan dalam jurnal “Science Advances”, meningkatkan kemungkinan bahwa Fogo atau gunung berapi lain bisa menyebabkan kejadian yang sama menakutkan di masa kini.

“Pengamatan kami lebih lanjut menunjukkan bahwa runtuhnya punggung gunung mungkin memang serempak terjadi dan mampu memicu tsunami tinggi dan berkekuatan besar, menambah potensi bahaya mereka,” para ilmuwan mencatat dalam artikel.

Penulis utama studi tersebut, Ricardo Ramalho, adalah seorang ilmuwan observasi bumi di Columbia University. Dia mengatakan dalam siaran pers bahwa runtuhnya gunung berapi besar yang demikian tidak terjadi terlalu sering, “kita perlu memperhitungkan ini ketika kita berpikir tentang potensi bahaya dari sifat-sifat vulkanik jenis ini.”

Ramalho dan rekan-rekan peneliti yang bekerja di pulau Santiago beberapa tahun yang lalu ketika mereka melihat fenomena aneh pada 650 kaki (198,12 meter) di atas permukaan laut, batu-batu raksasa, sebesar mobil pengiriman, yang ternyata cocok dengan janis batu laut yang membatasi garis pantai pulau  tersebut.

Satu-satunya penjelasan yang dapat ditemukan oleh para ilmuwan adalah bahwa gelombang raksasa harus mengambil 770 ton batu dan memuntahkannya ke atas. Mereka datang dengan ukuran gelombang yang dihitung dengan menjumlah energi yang dibutuhkan untuk memindahkan batu-batu besar tersebut.

Ketika Ramalho dan ahli geokimia Lamont-Doherty, Gisela Winckler, mengukur isotop helium elemen yang tertanam di dekat permukaan batu-batu tersebut, mereka menemukan bahwa batu-batu itu telah terbaring di tempat terbuka selama sekitar 73.000 tahun.

Kesimpulan itu yang pasti telah menimbulkan beberapa kontroversi ilmiah, karena tidak semua ilmuwan percaya bahwa gunung berapi akan runtuh tiba-tiba dan menghasilkan tsunami besar. Tetapi yang lain telah berteori tentang keruntuhan masa prasejarah yang jauh lebih besar dan menghasilkan megatsunami di kepulauan Hawaii, gunung etna di Italia, dan Pulau Reunion di Samudra Hindia.

Penelitian terbaru ini, bagaimanapun, tampaknya memberikan bukti terbaik bahwa peristiwa seperti itu sudah pernah terjadi. Para peneliti mencatat bahwa pulau-pulau vulkanik lainnya, termasuk beberapa di Samudera Atlantik timur laut, dekat dengan daerah yang padat penduduk.

“Ini tidak berarti setiap runtuh terjadi secara serempak. Tapi itu mungkin tidak jarang seperti yang kita pikir,” kata Ramalho. (ran)