Oleh Xu Jialin

Cerita tentang pembunuhan anggota Islamic State/ IS oleh para penembak jitu sering bisa kita ikuti di media. Diantaranya, seorang sniper asal Inggris yang menembak dan membunuh targetnya dari jarak ribuan meter. Ada juga penembak jitu misterius asal Libya yang menembak mati sejumlah pemimpin IS. Baru-baru ini, seorang sniper senior asal Irak memberitahu media bahwa ia menjadi relawan untuk melawan pasukan IS dan berhasil membunuh 173 orang anggota militan itu.

Laporan the Mirrow 16 Maret menyebutkan, penembak jitu berusia 62 tahun itu, Abu Tahseen memiliki jenggot lebat yang sudah memutih, pernah terlibat dalam 5 kali pertempuran. Dan kini bergabung dalam organisasi paramiliter al-Hashd al Shaab. Kepada the Mirrow ia mengatakan bahwa sejak awal Mei tahun lalu ia sudah melakukan penembakan jarak dekat terhadap anggota IS.

Dalam sebuah video yang dirilis terlihat Abu Tahseen yang berada di ketinggian sebuah bukit gunung, mengintai lawan melalui telelens yang berada di atas senapan panjang di tangannya, lalu menarik pelatuk yang mengakibatkan target mati tertembak. Seluruh proses itu hanya terjadi dalam beberapa detik.

Abu Tahseen pernah ikut dalam Pertempuran Yom Kippur atau juga disebut Perang Timur Tengah Keempat, Perang Ramadhan atau Perang Oktober. Ia juga terlibat dalam Perang Irak – Iran, Perang Kuwait, Perang Teluk. Dan selaku relawan sekarang ia mengambil bagian dalam perang melawan IS yang ditempatkan di Baiji Utara dan Bukit Makhoul, Irak.

Dalam video tersebut Abu juga berbicara soal kemampuan senapan yang ia miliki dan menjelaskan bagaimana ia melakukan proses penembakan anggota kelompok IS.

Daily Mail pada 17 Maret 2016 melaporkan, video itu dibuat pada Desember tahun lalu, Abu Tahseen saat itu mengabarkan bahwa ia sudah menembak mati 173 orang anggota militan IS, bahkan mungkin lebih banyak dari angka itu.

Abu Tahseen yang memakai sabuk pinggang berisikan peluru mengatakan, senapannya memiliki kekuatan dorong yang besar, dapat membuat korbannya terdorong mundur sampai 1 meter sebelum ia jatuh ke tanah. Ia juga merasa bangga dengan lokasi di mana ia ditempatkan. Juga bercerita bagaimana anggota IS takut sampai bertemu dengan dirinya termasuk senapan yang ia bawa. Sambil menunjuk daerah luas di bawah bukit tempat ia berdiri, ia mengatakan, “Lihatlah tempat ini, saya berani menjamin bahwa tidak ada orang yang berani memasuki daerah itu”.

Para sniper memainkan peran penting dalam berperang melawan militan IS. Belum lama ini, 3 orang pimpinan IS di wilayah Libya yang diduduki mereka mati tertembak satu per satu dalam waktu 10 hari. Siapa penembak jitu itu?

Sampai sekarang masih menjadi misteri. Tetapi tindakannya telah membuat panik para teroris di Libya. Beberapa bulan lalu, sniper dari Pasukan Khusus Inggris (SAS) hanya menggunakan 3 butir peluru untuk membuat 5 orang anggota IS menemui ajal. Tak lama kemudian, ia menggunakan peluru penembus perisai menembak mati 3 orang anggota IS dari jarak 1 km dan berhasil menyelamatkan sekitar 20 orang warga sipil yang ditawan mereka.

Aksi sniper SAS di Suriah utara juga berhasil menewaskan seorang pemimpin kelompok IS dari jarak lebih dari 1.2 km. (sinatra/rmat)

 

Share

Video Popular