Oleh: Tian Yuan  

Pengamatan Pilpres Amerika 2016

Pencalonan Trump pada pilpres AS 2016 ini sangat berbeda dengan sebelumnya. Ia bukan seorang politisi dan tidak ada pengalaman politik, tapi mendapat dukungan dari warga pemilih. Ia tidak seperti politisi konvensional yang selalu memamerkan prestasi sebelumnya dan berbicara panjang lebar soal kebijakan politik di masa mendatang, tapi suka melancarkan serangan pada lawannya secara ambigu dalam setiap perdebatan.

Ia berani mengutarakan hal yang tidak berani dibicarakan politisi pada umumnya, melontarkan program imigran yang memicu kemarahan publik, namun tetap mendapatkan dukungan dari warga pemilih berdarah Latin. Selain masalah imigran gelap dan anti-teroris, untuk masalah politik kenegaraan penting lainnya Trump sama sekali belum menunjukkan sikap yang jelas juga tidak berpengalaman di bidang eksekutif, tapi sepertinya warga pun tidak peduli.

Pencalonan diri Trump telah menjatuhkan entah berapa banyak kacamata tokoh pengamat maupun komentator politik senior di Amerika Serikat. Awalnya mereka memvonis Trump tidak akan berani mencalonkan diri, tapi akhirnya Trump benar-benar mencalonkan diri. Lalu mereka menyatakan Trump tidak akan memenangkan satu pun negara bagian, tapi akhirnya Trump terus meraih kemenangan dan berhasil mempertahankan posisi memimpinnya di Partai Republik. Mereka mengatakan semakin tinggi Trump melambung akan semakin menyakitkan jika jatuh, pasti akan terluka parah, tak disangka, Trump terus bertengger di atas. Sekarang masih ada yang mengatakan Trump tidak akan dicalonkan oleh Partai Republik, tapi pernyataan itu sudah agak berbelok: Mereka berkata meskipun Trump dicalonkan, tetap tidak akan didukung. 

Mitos Tentang Trump

Ada yang mengatakan bahwa Trump adalah seorang ekstrimis, yang menimbulkan efek polarisasi terhadap warga pemilih. Sesungguhnya ungkapan ini tidak sepenuhnya benar. Selain membangun tembok tinggi pada garis perbatasan AS-Meksiko, dan melarang kaum muslim asing masuk ke wilayah AS, hingga sekarang Trump belum mengemukakan satu pun kebijakan politik konkrit untuk masalah lainnya. Jika dengan dua masalah ini saja lalu Trump dicap sebagai seorang ekstrimis, sepertinya agak berprasangka. Banyak hal menjelaskan, pada banyak hal Trump adalah seorang moderat, bahkan cenderung pro sayap kiri. Inilah salah satu alasan mengapa kaum pembentukan dari Partai Republik dan kaum kebijakan konservatif sosial yang diwakili Cruze menentang Trump.

Pencalonan diri Trump telah memicu antusiasme warga pemilih AS untuk memberikan suara. Statistik menunjukkan, sejak dimulainya pemilihan tahun ini, hingga 1 Maret lalu sebanyak 15 negara bagian telah merampungkan pemungutan suara, sebanyak 9,8 juta orang warga pemilih Partai Republik telah memberikan suara, dan dari Partai Demokrat hanya 6,8 juta orang. Warga pemilih Partai Republik yang berpartisipasi telah melampaui rekor 9,6 juta orang saat Obama mencalonkan diri tahun 2008 silam, dan mencapai jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Di antaranya terdapat pengikut setia Partai Republik, juga warga pemilih yang independen, bahkan banyak juga pengikut Partai Demokrat mendukung Trump.

Ini menjelaskan bahwa meskipun dalam hal imigran Trump menjauhkan sebagian pemilih, tapi justru telah menggerakkan lebih banyak warga lainnya untuk bergabung dalam kampanye pilpres Partai Republik. Di pihak Partai Demokrat, antusiasme pemilih memberikan suaranya hanya bisa diungkapkan dengan suam-suam kuku. Berbagai hasil poling juga menyebutkan, kecuali di kalangan evangelis, Trump cukup unggul, ini juga menjelaskan bahwa Trump memiliki daya tarik.

Ada juga yang mengatakan, jika Trump dicalonkan sebagai presiden oleh Partai Republik, berarti malah mendorong Hillary Clinton untuk duduk di kursi kepresidenan, sebenarnya tidak juga. Trump memiliki kekurangan, akan tetapi Hillary Clinton juga banyak kelemahan. Kelemahan siapa yang tidak bisa diterima oleh pemilih, maka lawannya akan semakin dekat ke Gedung Putih. Ini yang disebut “di antara dua keburukan pilih yang paling ringan.”

Ada yang meramalkan jika Trump dicalonkan, Partai Republik pasti akan terpecah, dan akan dukung calon lain. Ini mungkin saja terjadi, tapi jika hal ini dilakukan hasilnya hanya ada satu, yakni mendorong Hillary Clinton masuk ke Gedung Putih. Bagi mereka ini, antara Presiden Trump dengan Clinton kedua, siapa yang akan lebih membuat mereka tersiksa?

Kalaupun ada yang ingin berbuat begitu pun, diperkirakan akan berpikir seribu kali sebelum berbuat. Sekarang ini, jika Trump berhadapan dengan Hillary Clinton  pada ajang pilpres, siapa yang akan keluar sebagai pemenang, belum bisa dipastikan. Meskipun Hillary Clinton kelihatannya cukup hebat, tapi sebenarnya sedang terjebak masalah, yang akan dibahas dalam artikel lain.

Sesuai tradisi, pernyataan dari politisi AS harus teratur dan terorganisir, harus ambigu sehingga membuat berbagai kelompok yang berkepentingan merasa ingin mendukung mereka, harus bersikap moderat, harus merangkul semua kalangan, tidak boleh menyakiti kelompok mana pun, terhadap kelompok berkepentingan harus bisa berkompromi, dan memperjuangkan kepentingan mereka setelah terpilih.

Jika melanggar “jimat pelindung jabatan” tersebut, maka ibarat menyenggol kabel tegangan tinggi politik (istilah bahasa Inggris ‘the third rail’ yang berarti zona larangan politik), yang akan berakibat dimusuhi dari berbagai arah dan menabrak tembok penghalang, bahkan mungkin karir politik seseorang akan berakhir. Itulah sebabnya di kalangan pejabat AS sangat sulit ditemukan politisi yang berani berkata lugas apa adanya dan mempertahankan prinsipnya. Trump mendobrak tabu-tabu ini secara tuntas. Dan dukungan terhadap dirinya justru berasal dari cara bermain Trump yang tidak konvensional ini. 

Lugas

Trump lugas dan spontan, berani mengungkapkan hal yang tidak berani diungkapkan oleh banyak warga AS. Seperti, sekarang di AS terdapat 12 juta orang imigran gelap. Mereka tidak hanya telah merampas pekerjaan di kalangan pekerja tingkat bawah, menyebabkan pengangguran dan upah kerja menjadi menurun, bahkan di antara mereka juga ada yang berprofesi pembunuh, penyelundup, dan pengedar narkoba masuk ke AS. Seperti kasus Kate Stanley yang terjadi di California, seorang imigran gelap asal Meksiko bernama Sanchez menembak mati wanita AS bernama Kate Stanley yang berusia 32 tahun. Sanchez pernah 5 kali dideportasi keluar dari wilayah AS, tapi setiap kali ia berhasil menyusup masuk kembali, dan melakukan beberapa tindak kriminal.

Di bawah kebijakan “suaka” kota San Francisco, setelah polisi kota San Francisco menangkap Sanchez mereka menolak melaporkannya pada Kantor Imigrasi Amerika. Oleh karena itu secara tidak langsung polisi kota San Francisco ikut bertanggung jawab atas kematian Kate Stanley. Jika mereka menyerahkan Sanchez pada pemerintah federal, mungkin Kate Stanley tidak akan terbunuh. Sebenarnya lebih penting melindungi para imigran gelap, atau melindungi harta benda dan nyawa warga AS  sendiri, bagi orang awam mungkin bukan masalah. Tapi cara San Francisco ini telah memberikan suatu jawaban yang nyata bahwa di kota ini imigran gelap lebih penting daripada warga AS sendiri. Hal ini membuat banyak warga AS sangat marah.

Ada yang mungkin akan mengatakan, warga AS juga bisa saja menjadi penjahat, mengapa harus membesar-besarkan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh para imigran gelap?

Masalahnya adalah, pemerintah AS berkewajiban melindungi keselamatan jiwa setiap orang WN Amerika beserta harta bendanya. Inilah tanggung jawab utama pemerintah. Jika pemerintah AS setia dan efektif menjalankan undang-undang keimigrasian dalam Peraturan Federal (Code of Federal Regulations) yang ada saat ini, maka masalah pelanggaran hukum oleh imigran gelap tidak seharusnya terjadi. Karena pemerintah federal tidak bisa menegakkan hukum, sehingga terjadilah sejumlah imigran gelap menyusup ke wilayah AS dan menjadi penjahat, mengedarkan narkoba.

Kasus pelanggaran yang berakibat membahayakan keselamatan jiwa serta harta benda milik warga AS seharusnya tidak terjadi. Warga AS sangat kecewa terhadap pemerintah federal. Trump mengobarkan usul agar dibangun tembok tinggi di garis perbatasan Amerika-Meksiko, bahkan mendeportasi seluruh imigran gelap, kebijakan ini dengan sendirinya menarik sejumlah warga pemilih. (sud/whs/rmat)

 

 

Share

Video Popular