Oleh: Tian Yuan

Menentang “Pembenaran Politik”

Trump berani mendobrak kemunafikan dan kepura-puraan, langsung menohok. Bagi politisi Amerika Serikat, tidak peduli dari partai mana pun, “pembenaran politik” adalah teknik bahasa yang wajib untuk dikuasai. Apa yang dimaksud pembenaran politik?

Intinya adalah be-retorika (kata-kata manis) yang mendistorsi dan teknik untuk menyangkal fakta. Seperti Partai Demokrat yang menyebut imigran gelap sebagai “imigran tanpa surat,” seolah mereka tidak melanggar undang-undang keimigrasian AS, dan hanya lupa mengurus surat ijinnya saja. Padahal semua orang tahu bahwa itu hanyalah cara mereka untuk mengambil hati warga pemilih dari keturunan Latin. Atau seperti istilah “terorisme Islam” atau ekstimis Islam” yang selama ini tak pernah digunakan oleh Obama maupun Hillary Clinton.

Setelah peristiwa pemboman kota Paris dan serangan teroris di California, mereka selalu tidak lupa menggunakan kata-kata “Islam adalah agama yang damai” dengan niat mengambil hati kaum muslimin. Beberapa tahun silam, di banyak pusat perbelanjaan di AS setiap akhir tahun tidak lagi mengucapkan kata-kata “Merry Christmas,” melainkan berganti menjadi “Happy Holidays,” tujuannya adalah mengambil hati para kaum atheis dan orang-orang non Kristiani. Semua itu adalah wujud dari “pembenaran politik.” Trump ingin membangun tembok pembatas yang tinggi di perbatasan Amerika-Meksiko, dan mengusulkan agar umat muslim asing dilarang masuk ke wilayah AS, sama sekali tidak mengandung unsur pembenaran politik, dan bagi orang-orang yang membenci perilaku politisi AS, betul-betul adalah angin segar yang baru bagi mereka. 

Ekonomi Amerika

Ekonomi AS juga merupakan salah satu alasan banyaknya orang yang mendukung Trump. Setelah berkuasa Obama berjanji akan mengembangkan ekonomi dan memperkecil kesenjangan kaya miskin. Tapi faktanya, setelah 3 kali The Fed melakukan stimulus QE, bursa efek mulai menanjak naik, berbagai angka statistik terlihat bagus, tapi rakyat biasa AS justru merasakan sebaliknya. 12 Januari 2016 lalu, American Association of County merilis laporan riset terbarunya, dari sebanyak 3.069 kabupaten di AS, hanya 7% di antaranya yang telah kembali pada tingkat pengangguran, volume ekonomi, dan harga property, seperti sebelum krisis moneter tahun 2008 silam, dan 93% sisanya masih berada dalam krisis.

Dalam 8 tahun terakhir, pendapatan kaum menengah di Amerika terus merosot, kesenjangan kaya miskin telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Di saat yang sama, hutang negara AS telah menanjak menjadi USD 20 trilyun, dan hutang negara yang disebabkan oleh Obama sendiri saja telah jauh melampaui total hutang seluruh presiden AS sebelumnya, akan tetapi ekonomi tetap tidak membaik. Dalam survey masyarakat selama dua tahun terakhir ini, lebih dari dua pertiga warga AS berpendapat bahwa AS telah salah melangkah.

Banyak orang Amerika was-was, khawatir “American Dream” telah hancur, mereka khawatir kehidupan anak cucu mereka akan lebih memprihatinkan. Perasaan seperti ini terutama lebih dirasakan oleh masyarakat kalangan menengah. Sebelum 1990, seorang pekerja kasar bisa menghidupi satu keluarga dengan beberapa orang anak, bisa memiliki mobil, rumah, liburan ke luar negeri, dan kehidupan yang sangat memuaskan. Tapi sekarang, sepasang suami istri pekerja kasar yang sama-sama bekerja penuh waktu, masih sangat sulit menanggung seluruh beban kredit rumah, kredit mobil, dan pendidikan anak.

Di pasar Amerika telah dipenuhi dengan produk Made in China yang berkualitas rendah, tapi di pasar RRT maupun India justru tidak sepenuhnya terbuka bebas terhadap AS, karena kedua negara tersebut memiliki seribu satu alasan. Selain bea masuk, untuk melarang produk AS masuk ke negaranya. Lewat outsourcing dan global procurement, perusahaan Amerika meraup keuntungan besar, namun bukan begitu halnya dengan buruh di AS yang kehilangan pekerjaannya. Dan selama upah buruh di RRT dan India lebih rendah daripada di AS, maka mengalirnya dana dan sumber daya ke luar seperti ini tidak akan pernah berhenti, kondisi buruh di AS hanya akan terus memburuk dan memburuk. Kalangan menengah sejak dulu telah mengeluh akan hal ini, tapi belum pernah bisa mendapatkan duta politisi yang bisa membawa aspirasi mereka.

Trump adalah seorang calon presiden dalam 20 tahun terakhir ini, yang menempatkan “perdagangan adil (fair trade)” berada di atas posisi “perdagangan bebas (free trade).” Tak heran jika para lulusan SMA dan warga kulit putih lulusan sekolah tinggi adalah orang-orang yang paling mendukung Trump. 

Tangan Media Massa

Trump juga memiliki tangan media massa yang luar biasa hebat, bisa dikatakan Trump bisa mempermainkan media massa papan atas AS di dalam genggamannya (seperti New York Times, Washington Post, dan 3 stasiun TV besar). Warga AS umumnya berpendapat, media tersebut di atas merupakan perpanjangan tangan Partai Demokrat, yang diam-diam maupun terang-terangan selalu mendukung Hillary Clinton dan menjatuhkan calon-calon dari Partai Republik. Trump tahu betul, apa pun yang dikatakannya akan selalu dicela dan diserang oleh media massa, sehingga Trump pun secara spontan menciptakan sejumlah pernyataan yang mengejutkan atau mengarang sejumlah berita baru. Walhasil, frekuensi munculnya Trump di berbagai berita jauh lebih sering jika dibandingkan dengan calon lainnya, bahkan beberapa pengunjuk rasa yang diusir dari pertemuan Trump pun bisa menjadi berita besar berskala nasional. Ini seolah menjadi promosi gratis bagi Trump di media papan atas.

Sorotan sejumlah media terhadap Trump seolah telah mencapai tingkat tergila-gila. Tanggal 8 Maret lalu, Trump menang di tiga negara bagian. Setelah pemilu dimulai, CNN, FOX, dan MSNBC meliput konferensi pers yang digelar untuk kemenangan Trump mulai dari awal hingga selesai, dengan durasi selama 45 menit. Dari ketiga stasiun TV tersebut, hanya MSNBC yang menayangkan rekaman pidato kemenangan Hillary Clint usai konferensi pers Trump tersebut. Sedangkan konferensi pers Sanders dan Kasich sama sekali tidak digubris.

Jika Anda menyaksikan pidato spontan Trump, Anda akan mendapati bahwa selain berkata-kata tajam, Trump tidak bisa apa-apa, bahkan sering kali memberi kesan pernyataannya tidak nyambung pada orang yang mendengar. Meski demikian, berbagai media massa dari sayap kiri, kanan, maupun netral, semua memberikan pentas yang begitu besar bagi capres ini, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Karisma Diri

Faktor pribadi juga merupakan alasan sebagian warga menjadi pengikut Trump. Ia adalah seorang pengusaha sukses dan dikagumi banyak orang. Meskipun kesuksesannya bukan dicapainya dari nol, tapi Trump juga seorang legenda karena mampu menyulap jutaan dolar menjadi milyaran dolar. Sebelum berkampanye, Trump telah menulis beberapa buku laris mengenai bisnis dan perdagangan, dan memiliki banyak fans di seluruh dunia. Banyak orang percaya, jika Trump berhasil menjiplak keberhasilannya menjalankan bisnis untuk menjalankan pemerintahan negara, maka masa depan ekonomi Amerika akan gemerlap. Bagi warga yang berpikir seperti ini, maka Trump adalah harapan bagi bangkitnya AS. (sud/whs/rmat)

TAMAT 

Share

Video Popular