Oleh: Xie Tianqi

Dalam Lianghui (2 Sidang Pleno Tahunan dari “Kongres Rakyat Nasional & Lokal dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok” yang berlangsung bersamaan di Beijing) Partai Komunis Tiongkok/ PKT, kubu Xi Jinping dan kelompok Jiang Zemin bertikai diam-diam. Peristiwa sensitif terus bermunculan, suasana menjadi sangat ganjil.

Pada 4 Maret 2016 lalu, jaringat Unbounded News Network milik pemerintah zona otonomi khusus Xinjiang tiba-tiba merilis sebuah artikel yang menyerang Xi Jinping, bahkan mengancam Xi Jinping akan “keselamatan diri sendiri beserta keluarga.” Pada sore hari 8 Maret, Kongres Rakyat Nasional perwakilan Xinjiang dibuka, wartawan asing mempertanyakan “Apakah perwakilan mendukung kepemimpinan Xi Jinping?”

Pertanyaan yang merupakan pertanyaan bersifat “memojokkan” tapi hanya dijawab dengan “Nanti dibicarakan lagi” oleh Sekprov Xinjiang yang bernama Zhang Chunxian. Pada 13 Maret, kantor berita Xinhua memuat artikel berjudul “Catatan Reporter: Mencari Keyakinan Ekonomi RRT di Dalam Maupun Luar Hotel Kuntai.” Dalam artikel tersebut muncul kata-kata “Pemimpin terakhir Tiongkok.” Aksi mengacau, mengancam, dan menantang dari kubu Jiang Zemin terhadap Xi Jinping terus terjadi.

Berbagai pemberitaan terkait peristiwa di atas dihapus (di internet) dengan cepat. Berita mengungkapkan, serangan media massa provinsi Xinjiang terhadap Xi Jinping tersebut dikendalikan oleh Zhang Chunxian beserta istrinya dari belakang layar. Petinggi Beijing telah mengutus tim investigasi untuk menyelidiki konspirasi politik di balik kejadian ini. Selain itu dari kubu Xi juga terus melontarkan sinyal akan merombak kembali Departemen Propaganda Pusat, serta menangani Liu Yunshan (salah satu dari 7 anggota Komite Tetap Politbiro PKT yang pro kubu Jiang) dan Liu Qibao (kepala Departemen Propaganda Sentral PKT). Media asing mengungkapkan, malam hari, Senin (14/3/2016), Dewan Politbiro menggelar rapat mendadak. Sinyal yang begitu intens ini merupakan serangan balasan kubu Xi.

Pada 16 Maret 2016, Lianghui PKT berakhir. Tak lama setelah konferensi pers PM Li Keqiang, siang hari antara pukul 13:00 sampai 15:00 waktu setempat, Komisi Kedisiplinan Pusat terus mengeluarkan surat edaran. Wakil Sekkota Ningbo provinsi Zhejiang yang merangkap walikota bernama Lu Ziyue dan Wakil Ketua Komisi Tetap Kongres Rakyat Provinsi Liaoning bernama Wang Yang, dicopot dari jabatannya. Keduanya dikabarkan terkait terlibat kasus Ling Jihua.

Setelah Wang Yang, dua minggu kemudian pejabat kader provinsi Liaoning dicopot. Di hari yang sama berita menyebutkan, kantor berita Xinhua menyebut Xi Jinping sebagai “pemimpin terakhir Tiongkok” selama Lianghui berlangsung, yang berakibat dianggap sebagai “penyimpangan politik” dan “menimbulkan dampak buruk”, sehingga editor yang terlibat dijatuhi sanksi. Selain itu, seorang reporter Xinhua perwakilan Islandia bunuh diri dengan melompat dari gedung tinggi. Berbagai masalah yang timbul di kantor berita Xinhua (yang selama ini merupakan sarang kubu Jiang) memicu kemarahan pihak Beijing.

Setelah Lianghui berakhir kubu Xi bertindak secepat kilat “menumpas macan” dan menyelesaikan sistem di Departemen Propaganda, sekaligus juga secara intens melontarkan sinyal menyasar Jiang Zemin.

Pada 16 Maret, di sarang Jiang Zemin merebak rumor. Media RRT dengan intens memberitakan, kerap terjadi penipuan persewaan rumah di Shanghai, sarana pemesanan makanan lewat internet di Shanghai yakni “Hungry Yet” dipanggil yang berwajib dan diinvestigasi, pegawai sebuah bank di Shanghai dihukum karena telah menjual informasi nasabah, jebakan transaksi oleh broker property di Shanghai, warga ajukan banding lawan broker, 60% kalah. Warga urbanisasi yang berdomisili di Shanghai mengalami penurunan, 150.000 orang minggat.

Berita yang paling menarik adalah, berita utama di situs Financial News Network (caixin.com) yang dekat dengan kubu Xi Jinping, pada taloid “Century Weekly” edisi terbaru milik caixin diterbitkan artikel berjudul “Macan Listrik: Feng Jun.” Artikel tersebut mengungkap kasus korupsi yang melibatkan Feng Jun sebagai “macan listrik.” Dikatakan pada Oktober 2014 silam, hanya 3 jam setelah dilengserkan dari jabatannya, Feng Jun langsung memaparkan seluruh kasus suap dan korupsi yang melibatkan “macan besar” kota Shanghai yakni Dai Haibo dan Ai Baojun, berikut perusahaan di provinsi Jiangsu lainnya dengan nilai sangat besar.

Dai Haibo dan Ai Baojun dituding sebagai komplotan putra sulung Jiang Zemin yakni Jiang Mianheng, dan terlibat dalam kelompok kepentingan keluarga Jiang Zemin. Provinsi Jiangsu adalah kampung halaman Jiang Zemin dan Zhou Yongkang, kaum birokrat di Jiangsu telah banyak dibasmi tuntas dalam beberapa tahun terakhir.

Artikel juga menjelaskan Feng Jun pernah “mentaati setiap detil perintah atasan,” menjalankan sistem “Tiga Terpusat Lima Besar (San Ji Wu Da)” proyek pembangunan sistem jaringan listrik negara. Surat edaran menunjukkan, CEO perusahaan listrik negara pada waktu itu yakni Liu Zhenya menerapkan “San Ji Wu Da” dan dimutasikan ke Shanghai pada September 2012 untuk memaksakan penerapan sistem tersebut. Berita mensinyalir Feng Jun mendapat perintah dari Liu Zhenya. Dan Liu Zhenya juga merupakan orang kepercayaan mantan anggota Dewan Tetap Politbiro Pusat dari kubu Jiang yakni Zeng Qinghong, juga pernah memberikan keuntungan besar bagi keluarga Zeng Qinghong lewat perusahaan bernama Luneng Shandong Co. Ltd. Tahun lalu setelah perusahaan listrik negara diinspeksi, beredar berita bahwa Liu Zhenya telah diinvestigasi.

Berita tentang “Macan Listrik Feng Jun” jelas merupakan sinyal kuat bahwa kubu Jiang Zemin yang bercokol di Shanghai berikut keluarga Jiang, serta keluarga Zeng Qinghong akan menjadi sasaran berikutnya. Artikel tersebut secara khusus menonjolkan Feng Jun yang langsung mengakui semuanya begitu dilengserkan. Selain Dai Haibo dan Ai Baojun, apakah Feng Jun juga menyeret Jiang Mianheng, Liu Zhenya, Han Zheng, dan tokoh-tokoh di balik konspirasi itu?

Jawabannya tidak sulit ditebak.

Tablid “Century Weekly” edisi terbitan 14 Maret 2016, dan berita di situs Financial News Network memilih hari terakhir usainya Lianghui untuk memuat artikel yang menggoreng kasus “macan listrik” Feng Jun. Hal ini jelas menunjukkan kubu Xi Jinping telah menempatkan posisi untuk meningkatkan kekuatan menyerang kubu Jiang begitu usainya kedua rapat pleno. Di hari berakhirnya Lianghui, kubu Xi terus meningkatkan intensitas gebrakan, suasana semakin menegangkan, diperkirakan gebrakan-gebrakan keras akan terus dilancarkan bertubi-tubi. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular