JAKARTA –   Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said selaku ketua harian Dewan Energi Nasional (DEN), Jumat (18/3/2016) memimpin rapat DEN dalam rangka finalisasi rancangan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, pemerintah telah menetapkan Kebijakan Energi Nasional terkait dengan konservasi energi.

Menurut Sudirman,  pembangunan infrastruktur listrik, kilang, dan energi baru terbarukan (EBT) fokus di sisi pasokan dan Indonesia sudah semestinya mengejar kesenjangan dalam pembangunan infrastruktur energi, meski demikian pengelolaan konservasi energi menjadi tugas yang harus dilaksanakan.

“Ada satu sumber daya yang kita abaikan selama ini, yakni bagaimana mengelola konservasi energi,” kata Sudirman dalam siaran persnya.

Menurut Sudirman, jika negara tidak melakukan apapun maka ada satu titik di mana minyak dan gas akan habis termasuk batubara akan habis dalam 60 tahun ke depan. Maka dari itu, pemerintah harus betul-betul menjaga dan berusaha menemukan cadangan baru termasuk sisi demand dan penghematan.

Menteri ESDM menegaskan bahwa anggapan Indonesia kaya dengan sumber daya energi fosil sudah waktunya dikritisi, karena sejatinya sumber daya fosil pada satu waktu akan juga berakhir. Di sisi lain cadangan batu bara Indonesia hanya 5,7% dari cadangan dunia, namun menjadi eksportir batu bara terbesar di dunia.

Sudirman menuturkan pada sisi kebijakan energi nasional, pemerintah memang telah menempatkan energi sebagai modal pembangunan nasional bukan komoditas, tetapi regulasi yang ada belum sepenuhnya sejalan. Hal tersebut dinilai merupakan beberapa contoh paradoks pengelolaan energi nasional.

Dewan Energi Nasional mencatat beberapa indikator belum efisiennya pemanfaatan energi dapat dilihat dari harga BBM dan listrik yang masih bersubsidi, insentif untuk pelaksanaan efisiensi energi dan konservasi energi masih terbatas, belum konsistennya pelaksanaan disinsentif bagi pengguna energi yang tidak melaksanakan efisiensi energi dan konservasi energi.

Selain itu konservasi energi belum diterapkan secara mandatory (wajib) di sektor industri dan transportasi. Berdasarkan hal tersebut di atas, pemerintah menyusun strategi konservasi energi yang terdiri dari penciptaan manajer energi dan auditor energi kemudian pembangunan penerangan jalan umum cerdas dan kewajiban label hemat energi dan Minimum Energy Performance Standard (MEPS) untuk Compact Fluorecent Lamp (CFL) dan AC.

Kementerian ESDM menargetkan pada tahun 2016 jumlah manajer energi akan bertambah menjadi 242 orang dari jumlah sebelumnya pada tahun 2015 sebanyak 192 orang. Sementara itu, jumlah auditor energi yang pada tahun 2015 berjumlah 127 orang meningkat menjadi 167 orang. Sedangkan pembangunan penerangan jalan umum cerdas ditargetkan mencapai 10 kabupaten/kota dan kewajiban label hemat energi dan MEPS untuk CFL dan AC akan diterapkan untuk kulkas, penanak nasi, pompa, motor listrik, dan setrika.

Untuk mencapai target-target tersebut, pemerintah telah menyusun strategi Pengembangan Kampanye Konservasi Energi yang terdiri dari Penyadartahuan, Perubahan Perilaku dan Aksi. Penyadartahuan mencakup kampanye media massa dan media sosial. (asr)

Share

Video Popular