Oleh: Tian Yuan

Pada September 2014 sampai akhir 2015, harga minyak bumi dunia jatuh secara drastis. Sekalipun pada Maret 2012, harga minyak mentah pernah mencapai rekor 125 USD/ barrel. Meskipun negara-negara penghasil minyak tak henti-hentinya mengalami masalah, misalnya Timur Tengah terus bergejolak, ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) terus berekspansi, Republic of Venezuela hamper mengalami kebangkrutan, Rusia melakukan agresi ke Ukraina dan lain lain, harga minyak mentah dunia tetap saja bertendensi turun. Pada awal 2016, standard harga Brent oil telah jatuh di bawah 30 USD/barrel, mencapai tingkat terendah selama 12 tahun ini.

Teori Peak Oil (Hubbert’s peak) yang pernah populer sesaat, sekali lagi mengalami keraguan serius.

Pada 1956, M. King Hubbert seorang ahli geofisika Amerika Serikat, mulai menggambarkan grafik produksi sumur minyak dan mengemukakan model matematika produk yang dihasilkan oleh sumur minyak yang bersangkutan. Model tersebut menunjukkan, suatu sumur minyak atau ladang minyak mulai dari investasi, produksi sampai berhentinya produksi, jumlah minyak yang dihasilkan akan mengikuti garis lengkung berbentuk genta. Apabila model tersebut diterapkan pada ladang minyak bumi yang sudah diketahui di AS, maka jumlah minyak bumi (tidak termasuk Alaska) yang dihasilkan akan mencapai puncaknya antara akhir 1960-an dan awal 1970-an, kemudian akan terus merosot.

Pada 1971, hasil minyak bumi di 48 negara bagian benua AS mencapai puncaknya sebesar 10,2 juta barrel/ hari, dan setelah mana menurun setiap tahunnya. Pada 1986, jumlah minyak bumi yang dihasilkan di seluruh AS adalah 8,68 juta barrel/ hari, sampai  2001, menurun lagi menjadi 5,8 juta barrel/ harinya, di antaranya hasil dari Alaska juga menurun 50%. Negara-negara penghasil minyak sekunder seperti Prancis pada 1988, Inggris pada 1999 dan seterusnya, juga berturut-turut mencapai puncaknya. Teori Peak Oil dari Hubbert seolah-olah secara parsial telah terbukti.

Kemudian, Hubbert memperluas aplikasi model matematiknya, menyebutkan bahwa minyak bumi di seluruh dunia juga mengikuti pola Hubbert’s Peak. Ilmuwan penganut teori Hubbert pada umumnya beranggapan, bahwa titik puncak minyak bumi dunia terjadi pada pertengahan 1980-an abad 20, bahkan meramalkan jumlah hasil minyak bumi dunia pada 2000 akan turun drastis menjadi 34 juta barrel/ hari. Mereka beranggapan, bahwa peradaban minyak bumi akan berakhir, selanjutnya hanya dapat berinvestasi pada sumber daya pengganti (terbarukan), seperti tenaga surya, bahan bakar biologi dan lain-lain.

Namun kali ini teori Hubbert tidak manjur lagi. Pada pertengahan 1980-an abad 20, jumlah hasil minyak bumi dunia memang terdapat masa penurunan, titik terendahnya adalah pada 1983. Namun penyebab penurunan ini adalah Revolusi Iran, peperangan antara Iran dan Iraq serta turunnya permintaan, bukanlah karena tidak ada lagi minyak untuk ditambang. Setelah itu, jumlah hasil minyak bumi meningkat terus secara tetap, bahkan pada 2000 telah mencapai 74,92 juta barrel/ hari, dua kali lipat di atas ramalan Hubbert. Kegagalan ramalan Hubbert paling tidak ada tiga penyebab.

Pertama, dia begitu saja memindahkan hasil dari satu daerah untuk diterapkan ke seluruh dunia, maka kekeliruan tentu saja dapat terjadi. Pada zamannya Hubbert, konstruksi geologi 48 negara bagian AS secara mendasar telah jelas, kandungan minyak bumi juga telah diketahui dengan sangat akurat. Teknologi pengeboran minyak masa itu sangat kasar, sekali dibor lalu dianggap selesai, dengan demikian prakiraan minyak yang dihasilkan agak sederhana, sekalipun ladang minyak yang ditinggalkan masih mengandung minyak bumi dalam jumlah besar.

Sebab itu teori Hubbert mengalami keberhasilan yang terbatas di Amerika Utara. Sedangkan dalam lingkup dunia, tidak ada orang yang berani mengatakan telah menguasai konstruksi geologi. Seluruh dunia, kandungan minyak buminya juga belum diketahui, yang sampai saat ini masih terus meningkat. Setelah 1980 teknologi pengeboran minyak pada umumnya juga telah mengalami kemajuan besar, metode intensifikasi pengeboran minyak telah sangat meningkatkan efisiensinya. Menurut kalkulasi pengukuran, sebuah ladang minyak yang sama, setelah menggunakan metode intensifikasi pengeboran minyak, hasilnya dapat mencapai 1-1,5 kali lipat.

Kedua, ramalan Hubbert telah mengabaikan kekuatan kemajuan teknologi. Pada zaman Hubbert, masih belum ada teknologi pengeboran minyak di laut dalam. Shale oil dipandang tidak layak di tambang untuk keperluan perdagangan. Setelah memasuki abad 21, metode hydrofracturing dan horizontal drilling telah matang sehingga terjadi revolusi shale oil. Oleh karena adanya shale oil, sejak 2008 produksi minyak mentah AS tiba-tiba berbalik, mulai meningkat. Ketika harga minyak internasional mulai turun pada bulan September 2014, hasil minyak mentah rata-rata AS mencapai 8,87 juta barrel/ hari, bahkan terus meningkat. Kalau dihitung juga light condensate oil dan liquefied petroleumgas (LPG), maka hasil minyak bumi AS per harinya pada 2012 sudah melampaui Saudi.

Ketiga, asal usul minyak bumi mungkin bukan hanya dari satu jalur. Ada orang memperkirakan asal usul minyak bumi adalah dari organisme purba, sebab itu minyak bumi disebut “fossil fuel“. Namun juga ada orang yang memperkirakan, minyak bumi bisa juga berasal dari non organisme. Teori ini memperkirakan, minyak bumi dan hydrocarbon yang membentuk minyak bumi berada di seluruh alam semesta. Ketika terbentuknya bumi, hydrocarbon secara acak terkunci di dalam kerak bumi.

Sejalan dengan bergesernya waktu, panas tinggi dari kerak bumi membuat hydrocarbon merembes dan berkumpul, terbentuklah kawasan yang mengandung minyak. Thomas Gold dan lain-lain orang yang mengikuti teori ini, benar-benar menemukan minyak bumi. Ilmuwan kelompok ini beranggapan, bila teori ini benar, dunia mestinya mengandung minyak bumi dalam jumlah besar, mungkin dapat dipakai selama 500 juta tahun oleh umat manusia.

Bersamaan dengan merosotnya teori Peak Oil, semakin banyak ilmuwan yang percaya, bahwa yang benar-benar mencapai puncak adalah kebutuhan dunia terhadap minyak bumi,  konsumsi umat manusia terhadap fossil fuel akan menurun secara tetap. Konsumsi minyak mentah AS pada 2007 mencapai puncaknya. Kebutuhan minyak mentah Eropa pada 1990an sudah mencapai puncaknya. Dalam dua tahun ini, di Tiongkok konsumsi minyak disel juga menurun dengan tetap. Sesuai perkembangan mobil tanpa pengemudi dan model share economy, penduduk kota masa yang akan datang mungkin tidak perlu lagi memiliki mobil, bila bepergian hanya perlu memanggil mobil menggunakan Uber atau Lyft. Ditambah lagi karena penyebar-luasan dan pendistribusan teknik sumber daya bersih dan sumber daya terbarukan, maka ketergantungan dunia terhadap fossil fuel dalam jangka panjang mungkin dapat saja terjadi titik balik.

Ramalan Hubbert pada saat itu, bagaikan seseorang yang menemukan bahwa tangki minyak mobilnya telah kosong, tapi sudah mulai menyesali bahwa dunia akan tamat. Ilmu pengetahuan umat manusia masih terlalu dangkal. Mengenai kecenderungan umum tentang eksistensi dan kemusnahan bumi, seyogyanya diserahkan saja kepada Sang Pencipta. (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular