Sumber kebudayaan manusia bersejarah lama. Sejak dahulu hingga sekarang, banyak cerita populer serta karya sastra yang tersebar turun-temurun. Dalam perasaan terharu, tiba-tiba mengingat kembali, menemukan yang mempengaruhi orang banyak adalah bagian gambaran kehidupan dari naluri gema kehidupan mencari kampung halaman kehidupan.

Banyak sekali legenda yang terkenal adalah karya besar. Yang diceritakannya adalah terciptanya bumi, terbentuknya alam semesta, asal-usul umat manusia, dan sumber awal segala makhluk. Menjelajahi suatu tema yang abadi: jiwa itu sesungguhnya berasal dari mana? Hal itu sudah dimulai sejak awal diciptakannya manusia.

Tentang asal-usul manusia, ada dongeng Dewi Nuwa sang pencipta manusia dari Timur, dan juga “dewa” lainnya yang menciptakan manusia dari Barat. Semuanya menceritakan asal-usul umat manusia adalah dari tempat yang suci di luar bumi, diciptakan oleh Dewa (dalam agama Barat dikatakan Tuhan) dalam dunianya.

Oleh karena itu, awal dari suci kembalinya jiwa secara abadi menampakkan dambaan umat manusia terhadap daerah sumber asal dirinya. Legenda Yunani pernah menceritakan tempat tinggal para dewa di gunung Olimpus, kitab suci pun pernah bercerita tentang taman Firdaus, semuanya adalah suci, indah, dunia lain yang membuat manusia mengejar dambaan hati. Namun justru itulah kampung halaman semula dari jiwa manusia.

Dalam dunia fana ini, manusia terus-menerus mencari sumber jiwa yaitu rumah. Sajak Dinasti Tang, ”Di depan tidak kelihatan orang zaman dulu, di belakang tidak kelihatan orang yang datang, merindukan langit dan bumi yang lama dan tenang, membuat hati sedih dan bercucuran air mata.” Jiwa pun harus menghadapi tema yang kekal abadi, di antara langit, bumi dan manusia suatu jiwa sedang menengadah ke langit dan berkeluh kesah: “Berasal dari manakah saya ini? Dan akan pergi ke manakah saya ini? Dia menderap di antara sejarah, di antara ruang waktu. Mempunyai makna yang dalam, dan tidak layu sepanjang masa dan sepanjang zaman.”

Kesan dari “rumah” telah menjadi taman gembira di dunia luar yang dilukiskan dalam buku Catatan Bunga Persik yang jauh dari berbagai ketenaran, kepentingan, nafsu dan keinginan dunia fana, itu adalah semacam dambaan dari orang-orang dan saling berharmonisasi dengan alam, kehidupan yang menyenangkan. “Tanah yang lapang dan datar, rumah-rumah serba rapi. Ada sawah yang bagus, kolam yang indah, ada pohon murbei, bambu, pematang sawah yang simpang siur, sekali-sekali terdengar ayam berkokok dan anjing menggonggong. Yang bercocok tanam hilir mudik, pakaian pria dan wanita yang beraneka ragam, semuanya seperti orang asing saja; rambut pirang terurai ke bawah, dengan sendirinya riang gembira.”

Dalam buku kenamaan Hong Lou Meng (A Dream of Red Mansions) pun digambarkan tema sama seperti ini. Babak pertama dari buku tersebut melukiskan: Paoyi dalam kehidupan masa lampaunya adalah anak laki-laki Senying dalam kayangan yang setiap hari menyiram sebatang rumput Jiangzhu dengan air suci, agar kelak dapat berkultivasi menjadi bidadari, niat menjadi bidadari serta berbuat kebajikan, mengikuti anak laki-laki turun ke dunia manusia, membalas budinya dengan air mata. Bidadari itu adalah Lim Dai Yi. Selain itu masih ada sejumlah siluman ikut turun ke dunia fana bersamanya, menjelma menjadi lakon lain di sisinya. Jalan cerita ini menjelaskan keberadaan asal mula manusia, dia berasal dari alam semesta yang tak terhingga. Dia adalah akar dari jiwa, sekaligus titik tolak dan pulang kembali ke perjalanan yang jauh dari kehidupan.

Kemudian, penulis juga menceritakan adanya keberadaan kenyataan duniawi yang semu dan tidak nyata, yakni memberitahu kepada manusia bahwa dunia ini tak layak untuk terus ditempati, dan jangan lupa pulang kembali ke asalnya. Figur dalam buku  Haolekecu telah menyingkap kondisi hayati mahkluk hidup:

Buku Hong Lou Meng menyingkap secara jelas tentang hidup-mati seseorang, baik kaya maupun miskin serta perjodohan, bahwa semuanya sudah ditakdirkan sebelumnya, sungguh manusia itu tidak akan bisa mengubah takdir. Semua manusia itu punya kehidupan di masa lampau dan akan datang, budi baik di masa lampau itu harus dibalas, utang di masa lampau pun harus dibayar pula; di luar dari ruang waktu kita ini, masih  ada banyak lagi pengertian waktu lainnya yang berbeda, atau ruang waktu yang tak mempunyai konsepsi waktu; manusia begitu lahir, maka suratan takdirnya pun sudah berada di luar ruang waktu yang lain. Kehidupan manusia itu bagaikan sebuah sandiwara, ada awal, proses, dan akhir, sebelum sandiwara dimulai maka skenarionya sudah disiapkan.

Namun, berbalik ke asal dan kembali ke jati dirinya yang asli itu hanya bisa dilakukan dengan bersandarkan pada kultivasi ortodoks. Berbincang tentang kultivasi (mengolah jiwa) dalam karya sastra terkenal dari buku “Catatan Perjalanan ke Barat” (Xi You Ci), jalan ceritanya melampaui ruang waktu, malang-melintang dari dulu sampai sekarang, dari tempat yang istimewa hingga ke daerah yang unik, surga duniawi, serta sarang momok di neraka, membentang sebuah dunia yang luas.

Dalam bukunya menceritakan perjalanan yang amat sangat sukar dan bahaya serta jauh sekali lokasi yang ditempuh dari keempat orang antara murid dan gurunya yang menuju ke Barat (India) itu. Kalau bicara secara konkret adalah delapan puluh satu rintangan dirancang oleh para siluman itu, akhirnya mereka yang mengambil kitab suci itu menyingkirkan rintangan yang ada dan menaklukkan siluman itu. Telah menceritakan, demi melalui kultivasi kembali ke dunia yang mulia hingga menemui kesulitan dan bahaya yang ditempuh dalam perjalanan untuk mengambil kitab suci, juga telah melalui penggemblengan yang sukar itu dapat  berkultivasi menjadi Buddha.

Buku Falun Dafa yang judul karangan aslinya Zhuan Falun akhirnya telah menceritakan sumber asal-usul umat manusia dan perjalanan umat manusia berbalik ke asal kembali ke jati dirinya. “Di dalam alam semesta, kami melihat jiwa manusia bukan berasal dari masyarakat manusia biasa. Terciptanya jiwa manusia yang asli terjadi dalam ruang alam semesta. Karena di dalam alam semesta ini ada banyak sekali materi yang berguna untuk menciptakan jiwa, dari interaksi di antara materi ini dapat terbentuk jiwa; itu berarti bahwa jiwa manusia yang paling dini juga berasal dari alam semesta. Manusia ingin berbalik ke asal kembali ke jati dirinya, ini barulah tujuan sesungguhnya menjadi manusia, ….”

Orang mengatakan: saya datang ke masyarakat manusia biasa ini, ibarat tinggal di hotel, tinggal beberapa hari lantas pergi, buru-buru pergi. Ada orang yang lantas rindu daerah ini, sudah lupa rumah sendiri.

Falun Dafa bukanlah agama, tak punya ritual, tempat peribadatan dan kelompok yang mengikat. Falun Dafa memberitahu akan misteri alam semesta ini, yakni “Sejati, Baik, Sabar” adalah ikhtisar karakter dasar dari alam semesta, juga adalah hukum alam semesta yang paling dasar. “Sejati, Baik, Sabar” telah menciptakan dan memprakarsai segala-galanya yang ada dalam alam semesta, segala substansi mengandung karakter itu. Buddha, Tao, dan dewa adalah kehidupan yang berada pada ruang lingkup yang berbeda dalam alam semesta, mereka mempunyai identifikasi dan pemahaman dalam tingkat yang berbeda terhadap “Sejati, Baik, Sabar.”

Falun Dafa memberitahu kita akan sumber kehidupan serta hakikat kehidupan manusia, jiwa manusia sesungguhnya bukanlah demi menjadi manusia, manusia adalah kehidupan yang datang dari tingkat yang berbeda dalam alam semesta, semuanya mempunyai sebuah tempat tinggal yang luar biasa indahnya, oleh karena itu berbalik ke asal kembali ke jati diri, berasimilasi dengan “Sejati, Baik, Sabar”, berbalik ke kampung halaman kehidupan yang sesungguhnya, itu barulah tujuan dan makna sesungguhnya dari kehidupan ini. (Sumber: Zhengjian.org/fdjr/asr)

 

Share

Video Popular