Oleh: Gao Tianyun

Seekor panda yang naïf memesona berbicara bahasa Inggris, memakan mie, melanglang buana di dataran Tiongkok yang begitu klasik, memberantas kejahatan dan membela kebenaran, menegakkan keadilan. Sejak 2008 hingga awal 2016, trilogi film animasi “Kungfu Panda” produksi DreamWorks telah ditayangkan berturut-turut, dan mencetak box office serta menuai komentar bagus. Demam “Kungfu Panda” telah mendorong kebudayaan Tiongkok (kuno) yang begitu gemerlap bagi dunia.

Film “Kungfu Panda” begitu merakyat sekaligus anggun, cocok bagi tua-muda, teknik animasi juga begitu sempurna, alur cerita juga begitu pas. Film yang mengisahkan seekor panda bernama Po (Jack Black), berlatar belakang seorang pelayan warung mie bertumbuh menjadi ksatria naga yang melindungi kampung halamannya. Di bawah bimbingan Master Shifu dan Master Oogway, Po perlahan menemukan jati dirinya selama proses belajar kungfu, memahami makna hidup, dan merampungkan misi melindungi keadilan.

Elemen khas Tiongkok yang berlapis-lapis, menampilkan momentum yang memukau: gunung hijau dan air jernih, kabut dan asap menggulung, tembok kota dengan menaranya, singgasana berhias brokat, meriam dan kapal perang, barongsai-liangliong, spanduk bertulisan kaligrafi, sumpit dan bakpao, senjata wushu, ramalan, pelangi, Taichi, kungfu. Panda Po tampil pada kombinasi pemandangan yang begitu bercorak warna, terus menanjak sepanjang jalan menuju tujuan tertinggi para ksatria.

Hal yang menonjol pada film ini adalah selain pencitraan kultural yang begitu kaya, sutradara juga menekankan pemikiran filosofi dan jiwa budaya Tiongkok. Itulah yang membedakan makna film ini dengan film animasi lainnya. Diiringi dengan musik yang melodis, diantara lukisan pemandangan yang tenang, di tengah kelopak bunga persik yang berguguran, arti yang mendalam menjadi terungkap, pujian penonton pun mengalir.

Pengaturan Takdir

Dalam kebudayaan Tiongkok terdapat penjelasan mengenai takdir, mengutamakan “manusia dan langit saling terhubung”, “langit menyatu dengan manusia.”  Di tengah alam semesta manusia merasakan panggilan dan pengaturan Langit dan bertindak sesuai kehendak Langit. Tanpa disadari semuanya telah diatur, kehendak Langit tidak bisa dilawan.

Film “Kungfu Panda” – I mendesain beberapa setting yang memaparkan nasib. Seperti, saat digelar Kontes Wushu (bulim) di Lembah Damai, Master Oogway yang bermoral tinggi akan menobatkan sang ksatria naga. Po pergi untuk menyaksikan kontes, karena terlambat sedikit ia tidak bisa masuk ke arena. Ia menyalakan sejumlah mercon agar bisa melayang ke udara untuk masuk ke ajang kontes, dan jatuh persis di hadapan Master Oogwai yang sedang menjulurkan jari telunjuknya. Master Oogwai berkata, “Dialah ksatria naga.”

Seluruh penonton terperangah, “Apa tidak salah, Panda gemuk ini adalah si ksatria naga?”

Master Shifu ingin memperbaiki kesalahan, “Ini adalah suatu kesalahan, tidak mungkin dia.”

Master Oogwai berkata perlahan, “Tidak ada yang kebetulan, tidak ada yang di luar dugaan.”

Macan tutul salju bernama Tai Long adalah peran penjahat dalam film ini, dan ilmu kungfunya sangat tinggi. Beberapa tahun silam ia dipenjara oleh Master Shifu dan Master Oogwai di penjara gunung yang sangat terpencil. Suatu hari, Master Oogwai tiba-tiba mendapatkan firasat, Tai Long mungkin akan melarikan diri dan melakukan kejahatan lagi. Oleh karenanya ia mengirim utusan angsa untuk memeriksa keadaan, dan berpesan pada sipir penjara agar memperketat penjagaan.

Sebilah bulu angsa jatuh di penjara, Tai Long menggunakan bulu tersebut untuk membuka kunci rantainya, dan melarikan diri dari penjara. Di tengah bahaya, Po harus gigih berlatih kungfu untuk menghadapi musuh. Akhirnya, di tengah pertarungan sengit, Po berhasil memahami kunci untuk menguasai jurus maut, dan berhasil mengalahkan Tai Long. Jika bukan karena ditantang Tai Long, maka Po pun tidak mungkin dapat berkembang menjadi ksatria yang sesungguhnya. Lebih dulu terjadi sebab, setelah itu terjadi akibat, semuanya begitu misterius.

Keadilan Pasti Menang

Pada setiap film “Kungfu Panda” selalu ditampilkan duel antara kebaikan melawan kejahatan. Barisan kebaikan dipimpin oleh kedua orang master bersama dengan Po, sedangkan kejahatan masing-masing dibawakan oleh macan tutul salju Tai Long yang begitu hebat, burung merak bernama Shen, dan iblis monster bernama Kai. Tai Long tadinya merupakan murid Master Shifu, seiring dengan meningkatnya teknik kungfunya, niat jahatnya juga ikut membesar. Master Shifu tidak mengijinkan dia untuk mewarisi rahasia wushu, sehingga membuat Tai Long marah dan memicu pertarungan yang terjadi kemudian. Burung merak bernama Shen diusir oleh kedua orang tuanya karena berhati sesat.

Peramal kambing meramalkan jika ia tidak menyesali diri dan bertobat, maka dia akan dikalahkan oleh seorang ksatria hitam putih. Untuk menyingkirkan ancaman di kemudian hari, Shen pun membunuh seluruh keluarga panda. Ia mengira setelah membunuh seluruh panda maka dia tidak akan perlu khawatir lagi. Siapa sangka, panda kecil Po berhasil terselamatkan, dan setelah melalui berbagai rintangan, Po dengan gaya ksatria naga berhasil mengalahkan burung merak. Sebelum Po turun tangan, beberapa kali Shen diberi kesempatan untuk bertobat, tapi si burung merak bersikeras pada pendiriannya, akhirnya menemui ajal.

Master Shifu dan Master Oogwai adalah simbol kebijaksanaan. Keduanya menggunakan cara yang berbeda untuk menggali kemampuan Po, membimbingnya untuk terus maju. Setelah menang melawan Tai Long, Po menjadi sombong, pada saat itu Master Shifu mengingatkan dirinya untuk terus memperhatikan kedamaian di dalam hati. Saat kedua kalinya Po menang, Master Shifu kembali menjelaskan: kau belum menemukan dirimu yang sebenarnya, masih harus menempuh perjalanan berikutnya.

Begitulah, penonton mengikut jejak langkah Po, terus mencari sepanjang jalan, menyaksikan panda ksatria meningkatkan kejiwaan dan meraih kemampuan wushu yang terus menerus bertumbuh. Po memenangkan pertarungan melawan musuh, akhirnya memimpin orang banyak berlatih kungfu, penonton yang menyaksikan pemandangan itu pun menjadi terbawa suasana. Hubungan antara ilmu kungfu dengan hidup manusia, terpampang selapis demi selapis hanya mengandalkan seekor panda ala Amerika yang berbicara dalam bahasa Inggris. Memang aneh.

“Kungfu” dan “Panda” adalah dua elemen unik yang terpenting bagi Tiongkok, yang telah dipaparkan begitu jelas dan memukau, dan diminati seluruh dunia. Hal ini cukup menimbulkan guncangan bagi para penonton etnis Tionghoa. Banyak resensi film yang cukup tajam dan mendalam, merefleksikan introspeksi akan unsur kebudayaan pada masyarakat modern ini. Satu hal yang disepahami bahwa film ini menampilkan ketulusan budaya Tiongkok, orang asing berhasil menyerap elemen kebudayaan Tiongkok dan menampilkannya sedemikian apik, box office ini memang pantas mereka raih. Mengapa RRT tidak bisa melakukannya? (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular