Dalam doktrin Buddhis, aborsi itu adalah perbuatan dosa, karena janin yang tidak tahu apa-apa itu sengaja dibunuh, dan hanya pada saat usia hidupnya di dunia sudah berakhir, ia baru akan reinkarnasi. Selama puluhan tahun menanti reinkarnasi atau terlahir kembali di ruang dimensi lain, ia menderita kelaparan dan kedinginan, sangat menyiksa, oleh karena itu balasan atas aborsi itu akan segera menghampirinya, misalnya bangkrut, sakit, kena musibah dan sebagainya.

Para perempuan Tiongkok adalah kaum wanita yang paling menganggap remeh masalah aborsi, karena di luar dugaan banyak anak-anak gadis menurunkan berat badan mereka dengan cara aborsi, ini sama saja dengan menggali kuburannya sendiri. Dalam realitas kehidupan kita, banyak yang hanya tahu sedikit tentang bahaya dan konsekuensi aborsi, jangankan mereka yang belum menikah atau para ABG yang masih hijau, bahkan banyak generasi tua juga belum tentu banyak mengetahuinya !

Berikut adalah contoh dari peristiwa nyata yang dirangkum oleh seorang dokter berkatian dengan aborsi.

Pada umumnya, kaum perempuan yang usianya kurang dari 20 tahun (terutama 16-18 tahun), tubuh mereka belum sepenuhnya matang, jika pada usia tersebut hamil lalu melakukan aborsi, sangat besar sekali bahayanya terhadap tubuh. Rasio sejumlah besar penyakit ginekologis (terkait penyakit pada sistem reproduksi-rahim, vagina dan ovarium) yang akan diderita mereka kelak jauh lebih tinggi dari perempuan normal. Saat hamil lalu aborsi bukan saja sangat berbahaya, tetapi juga dapat menimbulkan efek samping yang serius. Dan akibat aborsi tidak sempurna, pihak rumah sakit Municipal Hsiao Kang, Kaohsiung, Taiwan, baru-baru ini menerima tiga kasus terkait tulang atau jaringan embrio yang tertinggal di dalam rongga rahim, sehingga menyebabkan kemandulan pada pasien.

Menurut penuturan dokter, bahwa seiring dengan kian terbukanya pandangan mengenai seks, kini semakin banyak juga kasus kehamilan yang tidak diharapkan, bahkan ada istilah yang dikenal sebagai “puncak aborsi September”, tapi pengguguran atau aborsi dapat menyebabkan pendarahan, peradangan, perlengketan dinding selaput lendir dalam rongga rahim dan infertilitas, serta akan menyebabkan kematian jika serius.

Beberapa waktu lalu, rumah sakit Municipal Hsiao Kang, Kaohsiung, Taiwan, menemukan tiga kasus kemandulan langka yang disebabkan sisa (jaringan) tulang embrio yang tertinggal di dalam rongga rahim setelah pengguguran (aborsi). Kasus pertama menimpa seorang wanita 24 tahun bermarga Lin, ia mengalami kemandulan setelah menikah, dari hasil pemeriksaan USG, dokter menemukan sesuatu seperti alat kontrasepsi di dalam rahimnya, tapi nyonya Lin ini tidak memasang IUD di dalam rahimnya. Setelah diperiksa lebih lanjut dengan histeroskopi, dokter menemukan sekerat tulang janin yang tertinggal di dalam rahimnya, dan setelah tanyajawab, baru diketahui ternyata pasien telah mengandung dulu 6 tahun lalu sebelum nikah, ia menggugurkan kandungan saat hamil empat bulan, dan dokter menyimpulkan itu adalah akibat yang disebabkan oleh aborsi ketika itu.

Kasus kedua terjadi pada seorang wanita 26 tahun bermarga Li, empat tahun lalu, Li aborsi karena janin meninggal dalam kandungan, setelah itu terjadi pendarahan dan dismenore (nyeri haid) yang tidak wajar, namun, nyonya Li tidak memperhatikannya, tapi karena curiga dirinya mandul, ia lalu melakukan pemeriksaan dengan USG di rumah sakit, dan dari hasil pencitraan diagnostik, dokter menemukan alat kontrasepsi di dalam rahimnya. Melalui pemeriksaan histeroskopi diagnostik, dokter mengangkat 7 potong tulang janin dari dalam rahim nyonya Li. Setelah itu, pendarahan dan dismenore tidak wajar yang dideritanya itu pun hilang sejak operasi.

Sementara kasus ketiga yang menimpa seorang wanita 25 tahun juga karena kemandulan, setelah diperiksa, dokter menemukan jaringan janin sudah mengalami kalsifikasi di dalam kandungan, saat ditanya lebih lanjut oleh dokter, baru diketahui ia pernah melakukan aborsi saat hamil 8-9 minggu di masa remajanya 7 tahun lalu.

Menurut keterangan dokter kandungan, bahwa sisa tulang yang tertinggal di dalam rongga rahim biasanya akan menyebabkan pendarahan abnormal dalam rahim, menstruasi banyak dan lama, dismenore dan infertilitas. Bagi para wanita yang pernah aborsi sebaiknya berhati-hati jika mengalami gejala seperti tersebut di atas ; pasien yang pernah aborsi dihimbau sebaiknya lakukan pemeriksaan apabila terjadi pendarahan atau nyeri haid pertama yang tidak wajar pasca operasi.

Jika Anda adalah salah satu wanita yang pernah melakukan aborsi lebih dari tiga kali, Anda bisa konsultasikan atau bertanya pada dokter kandungan yang berpengalaman, mereka akan memberitahu Anda, bahwa Anda mungkin bisa hamil, tetapi sulit untuk bisa memiliki anak lagi di kemudian hari! Sang anak (janin) akan gugur dengan sendirinya saat 7-8 bulan masa kehamilan Anda ! Karena setelah aborsi lebih dar 3 kali, mulut rahim wanita sudah terbuka lebar, ditambah lagi dengan kondisi / kualitas hidup (gizi) sekarang yang jauh lebih baik, dimana sebagian besar bayi akan jauh lebih berbobot (berat badan), sehingga bayi akan gugur dengan sendirinya karena rahim tidak bisa lagi menahan janin.

Suatu hari ada seorang mahasiswi tingkat dua, pernah 3 kali aborsi, saat (hamil) keempat kalinya, ia berkata pada dokter : Saya ingin melahirkan anak ini ! Namun, dokter mengatakan sudah tidak mungkin lagi, sontak mahasiswi itu pun menangis terisak setelah mendengar keterangan dokter.

Terlalu banyak contoh kasus seperti itu yang tidak diuraikan satu persatu di sini. Asal tahu saja, aborsi akan mendatangkan gangguan mental serius yang terpendam, menurut penelitian ilmuwan Amerika, bahwa rasio menderita depresi pada wanita yang pernah melakukan aborsi itu 3 kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak pernah aborsi. Dan di luar duguaan tingkat bunuh diri wanita yang melakukan aborsi adalah 5 kali lebih tinggi daripada wanita yang tidak pernah melakukan aborsi. Namun, yang paling sulit dipahami secara nalar, dimana dari hasil penelitian terkait menyebutkan, bahwa mereka yang pernah melakukan aborsi, tingkat kematian yang tak terduga (kecelakaan lalu lintas, dibunuh dan kematian tak wajar lainnya) mereka juga 3 kali jauh lebih tinggi daripada wanita yang tidak pernah melakukan aborsi.

Mengapa bisa begitu akibat dari aborsi itu, komunitas ilmiah juga tidak bisa menarik kesimpulan yang pasti, para ilmuwan juga merasa sangat aneh, banyak konsekuensi dari aborsi itu sekilas tampak seperti tidak ada hubungannya sama sekali, seperti misalnya apa hubungannya kecelakaan lalu lintas, pemerkosaan dan pembunuhan itu dengan aborsi ? inilah yang membingungkan para ilmuwan.

Sebagian besar bangsa-bangsa di dunia percaya dengan keberadaan roh bayi. Adapun yang dimaksud dengan roh bayi disini adalah roh dari bayi yang digugurkan. Konon katanya, bahwa sesosok jiwa (kehidupan) yang dapat dilahirkan sebagai manusia itu adalah sesuatu yang sangat sulit, ketika jiwa prima ini dengan susah payah masuk ke dalam rahim induk, dan terbentuk menjadi manusia, namun, tak disangka kemudian dengan begitu mudah dan kejamnya dihancurkan (aborsi) begitu saja, sehingga membuat sang bayi sedih dan sakit hati, imbasnya si bayi itu kemudian terus mengejar dan mengganggu sang ibu, sementara di dalam ruang multi dimensi, mereka (roh bayi) memiliki energi dan melakukan pengrusakan, dan ini adalah sumber dari segala sesuatu yang selalu tidak berjalan lancar sebagaiman diharapkan oleh para wanita yang pernah melakukan aborsi.

Buddha mengatakan bahwa setiap perbuatan itu ada karmanya, bukannya tidak membalas, tapi saatnya belum tiba, apalagi aborsi, dan hal ini bukankah sesuai sebagaimana yang diuraikan di atas ! Dihimbau kepada Anda semua terutama kaum wanita, janganlah melakukan aborsi ! dan kepada para gadis remaja sebaiknya tetap berpegang teguh pada kesetiaan dan kewanitannya ! Sementara bagi kaum pria harus tahu mana yang patut dan mana yang tidak !(NTDTV/Jhn/Yant)

Share

Video Popular