Oleh: dr. Soe Hyo – Seok

Mengapa meskipun telah berinvestasi ratusan juta dollar per tahun dalam bidang penelitian, manusia tidak bisa memenangkan peperangan melawan kanker? Dalam pandangan saya, ada dua alasan utama.

Salah satunya adalah pendekatan fundamental reduktif yang biasanya diambil untuk mengobati kanker. Artinya, pengobatan Barat mengejar penelitian tentang kanker di berbagai bagian tubuh manusia secara terpisah, melihat tubuh sebagai kumpulan komponen seolah-olah seperti sebuah mesin.

Ini adalah kesalahan besar dari sudut pandang kedokteran tradisional Korea, karena semua organ dan sistem tubuh manusia saling berhubungan erat satu sama lain.

Alasan kedua adalah, perhatian yang diberikan hanya untuk mengobati penyakitnya daripada mengatasi akar penyebab. Pengobatan Barat berkonsentrasi pada pengobatan kanker yang telah memanifestasikan diri, dari pada mencegahnya secara fundamental.

Dengan demikian, terapi kanker utama seperti operasi, kemoterapi, dan radiasi hanya bertujuan untuk mencapai keberhasilan parsial, dan pendekatan mereka dalam menargetkan dan menghancurkan sel-sel ganas juga menyebabkan kanker menjadi bersifat licik. Setelah perawatan ini, sel-sel kanker menjadi lebih giat atau aktif, dan kemudian muncul kembali di tempat lain.

Jadi apakah ini berarti kanker telah menjadi kendala bahwa manusia tidak dapat mengatasinya? Saya sungguh tidak percaya begitu saja.

Pemain kunci dari sistem kekebalan tubuh

Sistem getah bening adalah jaringan organ, kelenjar, saluran, dan pembuluh seluruh tubuh yang membentuk bagian utama dari sistem kekebalan tubuh.

Sistem kekebalan tubuh manusia adalah ansamble kompleks dari organ limfatik dan sel-sel yang seperti militer, yakni bertanggungjawab atas pertahanan tubuh terhadap setiap dan semua entitas berbahaya. Dua puluh empat jam per hari, sistem kekebalan melindungi tubuh dari semua jenis penyerang, termasuk bakteri, virus, parasit, dan berbagai polutan, serta sel-sel mati tubuh sendiri.

Limfosit, sejenis sel darah putih, merupakan pemain kunci dalam sistem kekebalan tubuh. Tiga jenis utama dari limfosit adalah sel-T, sel-B, dan pembunuh alami (NK) sel.

Sel-T diklasifikasikan lebih lanjut sebagai: sel-T pembunuh, yang menempel dan menghancurkan virus atau sel kanker; sel-T penolong, yang meningkatkan kekebalan dengan menginduksi sel-B untuk menghasilkan antibodi; dan penekan sel-T, yang menghambat reaksi kekebalan.

Diantaranya, sel-T pembunuh adalah sel-sel kekebalan yang memburu dan melenyapkan sel-sel asing (heterogen) yang terinfeksi oleh virus atau telah diubah menjadi sel kanker. Sel-T pembunuh ini telah dilatih di timus untuk membedakan antara sel-sel tubuh sendiri (sel autologous) dan sel asing.

Jika jumlah total sel-T berkurang, atau jika sel-T yang tidak cukup terlatih dalam timus, mereka bisa gagal untuk mengidentifikasi sel-sel kanker. Mereka juga bisa gagal untuk mengenali sel-sel tubuh sendiri, yang dapat menyebabkan penyakit autoimun.

Sel-B memproduksi antibodi, yang memerangi bakteri tertentu atau virus. Tubuh manusia mampu memproduksi lebih dari satu miliar antibodi.

Terakhir, kita memiliki beberapa miliar sel NK dalam darah kita. Sel NK adalah bagian dari sistem imun bawaan dan dengan demikian tidak perlu dilatih untuk mengenali patogen. Mereka secara otomatis menyerang sel-sel yang memiliki kadar rendah protein tertentu, yang disebut antigen leukosit manusia (HLA). Sel-sel kanker dan sel yang terinfeksi oleh virus memiliki tingkat rendah HLA.

Penyebab mendasar kanker

Setelah bertahun-tahun berpraktek klinis, kesimpulan saya bahwa kanker adalah hasil dari sistem getah bening yang rusak, khususnya gangguan fungsi limfosit. Meskipun limfosit bertugas menjaga kesehatan tubuh kita dengan menyerang dan menekan serbuan virus, namun terkadang mereka menyerang sel-sel sehat tubuh sendiri.

Jadi apa yang menyebabkan mereka melakukan hal ini?

Anda bisa membayangkan sistem kekebalan tubuh seperti struktur masyarakat. Di dalam masyarakat, pemberontakan pecah ketika pemerintah pusat kehilangan kemampuan untuk mengontrol rakyat. Sebuah pemerintah pusat yang lemah akan menyebabkan kegagalan berbagai institusi pemerintah, seperti militer, dan sebagai hasilnya, tentara tidak akan dilatih dengan benar.

Di dalam tubuh, kekuatan militer yang kurang terlatih, sel-sel dari sistem kekebalan tubuh, tidak akan mampu membedakan antara sel-sel tubuh dan sel-sel asing.

Amandel yang ada di belakang tenggorokan merupakan kelenjar getah bening yang penting dan pemimpin dari sistem kekebalan tubuh, jadi jika amandel melemah, maka sistem kekebalan tubuh yang kacau dapat menyerang diri sendiri.

Selain itu, ketika amandel lemah, kemampuan membedakan dari sel-sel kekebalan tubuh, yang diperlukan untuk menekan serangan pasukan, menjadi lemah, dan sel-sel kekebalan tubuh gagal melakukan peran mereka sebagai kekuatan pembasmi. Hal ini dapat memperburuk penyakit karena mereka lalai membasmi patogen.

Pasien biasanya tidak menyadari adanya gangguan fungsi sistem limfatik dan tidak mengalami gejala sama sekali pada tahap awal kanker. Namun, ketika tumor kanker bisa diketahui dan gejalanya semakin jelas, maka operasi pengangkatan tumor dan radiasi atau kemoterapi biasanya tercakup dalam sesi perawatan.

Akan tetapi radiasi dan kemoterapi adalah setara dengan menggunakan senjata pemusnah massal terhadap sel-sel pemberontak. Termasuk jenis senjata yang menyebabkan korban sipil yang luas, dan kemungkinan perdamaian di masyarakat menjadi lebih jauh karena pasukan pemberontak yang tersisa akan melarikan diri ke daerah lain dan terus menghasut kekacauan.

Jadi apakah ada solusi lain?

Mengalahkan kanker dengan membersihkan paru-paru

Dalam rangka untuk menekan pasukan pemberontak dan mencapai perdamaian sejati, perlu untuk membangun kembali tatanan yang tepat dalam masyarakat. Ini berarti kontrol pusat harus dikembalikan dengan mengembalikan kekuatan pemimpin dan mengamankan kontrol atas sistem pertahanan. Bahkan, sebagian besar pasukan pemberontak akan melemparkan senjata mereka dan menyerah, begitu mendengar berita bahwa sang pemimpin telah kembali memerintah dan mengembalikan kemampuan kontrol pusat.

Dengan demikian, kesehatan tubuh dapat dikembalikan jika limfosit kembali berfungsi normal melalui penguatan amandel. Mereka kemudian dapat secara mendalam mengepung dan memusnahkan sel-sel kanker.

Menurut pengalaman saya, setelah menjalani perawatan dua bulan untuk membersihkan paru-paru, amandel akan menjadi lebih sehat. Setelah empat bulan, amandel yang telah dibentengi akan mampu menekan sel-sel kanker.

Jika tumor kanker tidak tumbuh lagi setelah empat bulan, ini merupakan indikasi bahwa kanker bisa ditaklukkan. Secara umum, tumor kanker yang berukuran kurang dari 5 cm dapat diobati.

Saya juga telah menemukan bahwa ada peluang untuk menyembuhkan pasien kanker dengan tumor yang kurang dari 5 cm, bahkan jika tidak ada perubahan dalam ukuran tumor setelah menjalani 10 bulan pembersihan paru-paru. Namun, ini dibatasi bagi pasien yang tidak menjalani terapi radiasi. Tingkat kesembuhan bagi pasien yang telah menyelesaikan radiasi dan kemoterapi adalah sangat rendah.

Saya ingin menekankan satu hal di sini, bahwa meskipun sulit untuk menyembuhkan kanker, ketika tumor masih lebih besar dari 5 cm, tetapi hal itu mungkin untuk menekan pertumbuhan lebih lanjut dari tumor. Hal ini dapat membuat pasien dengan kanker stadium lanjut jauh lebih nyaman.

Jika kekebalan dapat cukup diperkaya melalui pembersihan paru-paru, adalah mungkin untuk mencegah metastasis ke bagian lain dari tubuh, dan meskipun tumor tidak dapat dihilangkan, si pasien bisa hidup dengan rasa sakit yang pada hakekatnya telah berkurang.

Saya teringat jelas kata-kata terakhir dari seorang biarawan Katolik yang pernah saya rawat. Dia menderita kanker paru-paru terminal dan meninggal setelah sekitar satu tahun menjalani pembersihan paru-paru. Salah satu rekan saudaranya mengunjungi saya setelah kematiannya untuk menyampaikan kata-kata terakhirnya. Pasien tersebut mengatakan bahwa karena perawatan yang dia terima dari saya, “Saya benar-benar bersyukur karena mampu mati dengan nyaman, tanpa rasa sakit yang parah seperti penderitaan di masa lalu.”

Saya percaya bahwa kematian yang nyaman adalah hak asasi manusia, dan bahkan jika kita tidak dapat menyembuhkan penyakitnya, kita harus memberikan pasien tersebut meninggal dengan bermartabat.

Mayoritas orang sehat percaya bahwa mereka belum menemukan kanker. Namun, hal ini tidak benar. Kenyataannya setiap hari ada ribuan sel-sel kanker dapat berkembang dalam tubuh kita. Sel kanker ini secara menyeluruh dapat dibasmi oleh sistem kekebalan tubuh yang sehat, yang memungkinkan kita untuk hidup dalam kesehatan yang baik tanpa mengalami gejala kanker.

Dengan demikian, kanker tidak terwujud dalam tubuh bukan karena kita belum terpapar olehnya, melainkan karena kekebalan alami kita dapat mengatasi itu. Kanker hanya dapat termanifestasi ketika sel-sel kanker berha-sil mengalahkan sistem kekebalan tubuh.

Dengan demikian, saya katakan bahwa fortifikasi imunitas melalui pembersihan paru-paru adalah cara untuk mengatasi kanker. (EpochtimesAjg/Yant)

Bersambung

Dr. Seo Hyo Seok adalah direktur Rumah Sakit Pengobatan Pyunkang Korea, yang memiliki tujuh cabang di Korea Selatan, satu di Stanton University, California, dan satu lagi di Atlanta, keduanya di AS. Dr. Seo termasuk peringkat atas dari Kyung Hee University, Korea, dan telah bertahun-tahun melakukan penelitian untuk mengembangkan formula herbal Pyunkang-Hwan, yang dapat meningkatkan kekebalan dengan memperkuat fungsi paru-paru. Ia telah membantu penyembuhan lebih 155.000 pasien dari berbagai kondisi.

Share

Video Popular