Satu setengah abad yang lalu, Perang Saudara mengguncang Amerika. Namun ternyata, perang itu sendiri – khususnya, pertempuran penting Gettysburg di Juli 1863 – dipengaruhi oleh batuan.

Sebuah artikel yang baru saja diterbitkan dalam “Geosphere”, jurnal “Geological Society of America”, rincian bagaimana formasi batuan membantu menentukan hasil di Gettysburg, di mana pasukan Union menghentikan upaya nekat Selatan untuk menyerang Utara, dan akhirnya menerima takdirnya untuk bersatu.

Scott P. Hippensteel, seorang profesor ilmu bumi di University of North Carolina di Charlotte, menganalisis geologi Gettysburg. Ia menemukan bahwa campuran diabas yang lebih keras dengan batuan sedimen lembut membentuk fitur seperti Cemetery Hill dan Little Round Top, yang menyediakan posisi pertahanan yang kuat bagi Angkatan Darat Union.

Namun formasi batuan tidak selalu menguntungkan pihak Union. Karbonat, batuan kapur dan batuan dolomit membentuk lokasi medan perang seperti Antietam, posisi di Maryland di mana pasukan Konfederasi memukul mundur serangan Union pada September 1862.

“Pada banyak medan perang, hamparan batuan kapur terbukti bermanfaat bagi pasukan penyerang. Pelapukan yang berbeda dalam pembentukan karbonat menghasilkan lahan medan berbukit yang membatasi jangkauan dan efektivitas senjata kecil dan meriam,” kata Hippensteel dalam tulisannya.

Salah satu contoh yang terakhir adalah kemahsyuran “Sunken Road” di Antietam, di mana 2.600 tentara Konfederasi berhasil menahan 5.500 pasukan Union selama tiga setengah jam, sebagian berkat lahan medan perang yang bergelombang tersebut. Meskipun pasukan Union akhirnya menang, namun mengambil banyak korban jiwa.

Medan perang lainnya dengan fitur demikian termasuk Stones River, Chickamauga, Franklin, Nashville dan Monocacy, sebuah pertempuran pada Juli 1864 di mana pasukan Union menggagalkan serangan Konfederasi di Washington, DC

Hippensteel menganalisis data korban untuk melihat formasi batuan seperti apa yang paling menguntungkan untuk bertahan. Ia menemukan bahwa medan pertahanan para tentara yang terbentuk oleh batuan gamping dan batuan dolomit memiliki tingkat korban sedikit lebih tinggi – 14 persen – dibanding medan pertahanan di atas batuan non-karbonat atau sedimen yang tidak terkonsolidasi, yang tewas dan terluka pada tingkat 12 persen.

“Hal ini menunjukkan, secara terbatas, bahwa keuntungan pertahanan skala kecil daerah lokal setempat yang disediakan oleh batuan kapur, seperti karrens, tidak sepenting seperti keuntungan skala regional bagi pasukan penyerang, termasuk medan bebukit atau tertutup hutan,” tulisnya. (ran)

Share

Video Popular