Oleh: Gao Tianyun

Apa komentar penonton daratan Tiongkok?

“Saat film pertama Kungfu Panda diluncurkan, saya merasa malu bagi kalangan perfilman RRT, bahan yang begitu bermutu di depan mata tapi dimanfaatkan oleh orang-orang Hollywood. Tapi jika direnungkan kembali, bahkan jika scenario ini diberikan pada RRT, belum tentu akan bisa menghasilkan film yang merajai box office dunia, inilah yang dinamakan kesenjangan..”

“Meskipun intisarinya adalah milik Amerika, tapi setidaknya pada sisi permukaan benar-benar menggambarkan elemen Tiongkok. Dan sedikit banyak juga terpengaruh oleh para etnis Tionghoa. Sebaliknya menengok film animasi RRT, hal-hal permukaan ini pun tidak ingin diperlihatkan, ada yang menggunakan elemen permukaan ala Jepang, dan intisarinya entah darimana.”

Kebudayaan milik orang Tionghoa, mengapa orang Tionghoa justru tidak mampu membuat film seperti itu? Ada yang mengatakan, kebudayaan tradisional Tiongkok kurang akan landasan massal yang dapat dinikmati, lalu menjadi dicintai, dicintai karena membanggakan, dicintai sehingga terus dikembangkan. Juga diutarakan bahwa sangat banyak kawula muda yang bersikap menganggap remeh kebudayaan tradisional. Ini memang fakta. Apa alasannya? Menjawab pertanyaan ini, harus menelaah lagi masalah agama dan norma etika di Tiongkok.

Peradaban Tiongkok berusia 5000 tahun dan terkenal di seluruh dunia. Apa yang tercakupi dalam kebudayaan tradisional Tiongkok? Apakah nilai intinya? Dimanakah intisari itu terlihat? Dalam hal ini, jika tidak memiliki pemahaman yang jelas, maka akan sulit menampilkan keindahan dan kelebihan kebudayaan suatu bangsa. Hal yang sangat disayangkan adalah, saat ini di dataran Tiongkok, kebudayaan tradisional telah hampir seluruhnya dimusnahkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), moralitas merosot, intisari dari norma etika dan tradisi telah lekang, yang tersisa hanya sedikit elemen kulit luarnya untuk menopang kekayaan budaya yang sebatas penampilan saja.

Selama lebih dari 60 tahun terakhir, PKT tidak segan-segan menghancurkan kebudayaan tradisional Tiongkok dan norma kehidupannya. Kerusuhan saat Revolusi Kebudayaan, “merusak empat konsep leluhur,” mengkritik ajaran Konfusius, serta menindas para budayawan. Penguasa mengerahkan segala kekuatan untuk mencampakkan kebudayaan bangsa Tiongkok, merupakan suatu tindakan tidak berakal sehat dan gila dalam sejarah manusia. Dataran Tiongkok yang indah telah dirusak sedemikian rupa oleh aksi/gerakan politik, meskipun tragedi tersebut telah berlalu, namun racun yang tersisa tidak bisa dibersihkan hingga tuntas. Atheisme dan budaya partai komunis masih terus meracuni masyarakat, menyusup ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat Tiongkok selama beberapa generasi sama sekali tidak memahami makna serta intisari dan keindahan kebudayaan bangsanya sendiri, juga sulit untuk mencari akar spritualnya. Kebudayaan yang terputus adalah tragedi bagi suatu bangsa, namun itulah fakta yang terjadi di Tiongkok saat ini.

Selain itu, PKT selalu mengintervensi sampai ke bidang seni budaya sekali pun, membuat para pekerja seni sangat menderita dan tidak bisa berkreasi. Orang yang berusaha mendobrak zona larangan tersebut akan mendapat hukuman berat, filmnya akan dilarang tayang, dan sutradara masuk dalam daftar hitam. Seminggu lalu, artikel di sebuah blog menghimbau agar Dua Rapat Pleno membahas “kemanakah agama kepercayaan di RRT?” yang hanya bertahan sehari kemudian artikel tersebut dihapus. Sensor pendapat yang membelenggu kebebasan berpendapat telah membunuh inspirasi dan daya tarik untuk berinovasi.

Masyarakat Barat yang demokratis sangat mengedepankan norma universal, menghormati kemanusiaan, setiap individu berhak memiliki ruang yang memadai untuk mengekspresikan diri. Daya cipta seni budaya harus berkembang bebas, tidak kekurangan akan unsur keadilan dan inspirasi. Oleh karena itu penonton melihat, di film “Kungfu Panda” gambar Taichi berputar dengan sangat indah. Pemandangan ketika Master Oogwai pergi berubah menjadi bianglala meninggalkan dunia sangat menggugah. Sutradara Barat telah berani menampilkan konsep dewa dan keberadaan alam mistik. Dari segi spiritual/mentalitas, meskipun panda Po terkesan lamban, namun ia tetap tegar mempertahankan keadilan. Keteguhan itu telah menuai tepuk tangan dan rasa haru para penonton di gedung bioskop.

Peradaban adalah mustika bangsa yang patut dihargai dan dibanggakan oleh orang Tiongkok. Orientasi kehidupan, nutrisi pemikiran, dan harapan masa depan, seluruhnya tertanam di dalam sungai kebudayaan yang telah mengalir sekian ribu tahun itu. Kebudayaan Tiongkok pernah menjadi manfaat bagi dunia, juga akan berdampak kembali pada dunia. Kali ini “Kungfu Panda” telah kembali menghembuskan angin (trend) Tiongkok yang indah itu, dan menggugah cukup banyak hati penontonnya. (sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular