Oleh Wu Ying

Malaysia Airlines MH370 yang sudah hilang lebih dari 2 tahun hingga kini belum juga ditemukan, menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah penerbangan. Baru-baru ini, sebuah kepingan rusak yang masih tampak jelas tulisan Roy yang sama dengan label Rolls Royce yang dilekatkan pada mesin pesawat Boeing 777 Malaysia Airlines ditemukan seorang arkeolog di pesisir Afrika Selatan. Otoritas Malaysia mengatakan bahwa pihaknyanya telah mengirim petugas ke Afrika Selatan untuk mengambil kepingan rusak itu demi penelitian.

CNN pada Rabu (23/3/2016) melaporkan, arkeolog Neels Kruger menemukan kepingan rusak itu di sebuah lokasi pesisir bernama Massel Bay, bagian dari Western Cape, Afrika Selatan.

Saat menemukan kepingan itu, Neels Kruger sama sekali tidak menggandengkan penemuan itu dengan reruntuhan pesawat MH370, tetapi setelah ditunjukkan dan ditanyakan kepada orang-orang yang dianggap lebih tahu, ia lalu menyerahkan  kepingan rusak itu kepada Otoritas Penerbangan Sipil Afrika Selatan (SACAA) untuk ditindaklanjuti.

Menteri Transportasi Malaysia, Liong Tiong Lai mengatakan, sesuai laporan sebelumnya, ia menduga bahwa kepingan itu adalah label bertuliskan Rolls Royce yang dilekatkan pada inlet Cowling mesin pesawat Boeing.

Sejak penemuan reruntuhan yang diduga milik pesawat MH370 di Reunion Island, kemudian reruntuhan pantai di Mosambik yang semuanya sudah dikirim untuk diteliti oleh tim ahli dari Australia, tetapi belum ada hasil yang dapat kita peroleh.

Departemen Transportasi Malaysia menyebutkan bahwa terhadap penemuan reruntuhan pesawat di pantai Mosambik, akan diteliti oleh tim investigasi MH370 di Canberra, Australia  disaksikan oleh Biro Keselamatan Transportasi Australia, Departemen Penerbangan Sipil Malaysia (DCA), Maskapai Malaysia Airlines dan Perusahaan Boeing.

Beberapa bulan setelah peesawat MH370 hilang tidak ditemukan, para ahli investigasi mengfokuskan pencarian di posisi akhir dari sinyal satelit yang disebut Busur Ketuju (Seventh arc). Juli tahun lalu, reruntuhan pesawat ditemukan di Pulau Reunion, dan reruntuhan yang ditemukan di Mosambik tahun ini masih sejalan dengan perkiraan daerah sebaran yang diakibatkan oleh gerak arus laut. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular