Erabaru.net. Orang yang tidak bisa mengendalikan ledakan kemarahan mereka baik verbal maupun fisik mungkin memiliki masalah dalam mengontrol kemarahan.

Para peneliti telah menemukan bahwa orang-orang sangat pemarah seperti menderita kondisi kejiwaan yang dikenal sebagai Intermittent Disorder Explosive (IED).

Selain itu, orang dengan kondisi ini lebih dari dua kali lebih berpontensi memiliki parasit Toxoplasma gondii di dalam otak mereka, ini pertama kalinya hubungan antara kedua hal tersebut ditemukan.

Parasit ini relatif umum dan ditemukan pada sekitar 30 persen dari populasi. Hal ini biasanya tidak berbahaya pada orang dewasa yang sehat.

Namun, sekitar 9 persen dari orang sehat tersebut memicu kondisi toksoplasmosis, yang umumnya hanya memiliki gejala seperti flu ringan yang berlangsung beberapa minggu.

Di antara orang-orang yang menderita Intermittent Disorder Explosive (IED), angka ini bahkan lebih tinggi dan di dalam pengujian tes, 22 persen dari orang yang dipelajari dinyatakan positif toksoplasmosis.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Dr Emil Coccaro dari University of Chicago, menekankan bahwa mereka belum menemukan apakah parasit toxoplasma menyebabkan IED, atau sebaliknya, atau bahkan keduanya terkait oleh beberapa faktor lainnya.

Dr Coccaro menjelaskan, ‘Pekerjaan kami menunjukkan bahwa infeksi tersembunyi dengan adanya parasit Toxoplasma gondii dapat merubah kimia otak dengan cara meningkatkan risiko perilaku agresif. “

Toxoplasma gondii ditularkan melalui daging yang kurang matang, air yang terkontaminasi, dan dalam kotoran kucing yang terinfeksi.

Ia berada di otak, dan berkaitan dengan beberapa kondisi kejiwaan skizofrenia dan gangguan bipolar yang mempunyai kecenderungan bunuh diri.

Gangguann bipolar adalah salah satu masalah kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis.

Misalnya dari yang murung, tiba-tiba bisa berubah menjadi sangat bahagia atau sebaliknya. Pada fase turun atau yang disebut sebagai periode depresi, penderita gangguan bipolar biasanya akan terlihat sedih, lesu, dan tidak bergairah.

Sedangkan pada fase naik atau mania, penderita kondisi ini bisa menjadi sangat bersemangat, enerjik, dan banyak bicara.

Intermittent Disorder Explosive (IED) didefinisikan sebagai ledakan keras yang terjadi berulang dan spontan, baik berupa serangan verbal maupun fisik,yang tidak proporsional dengan situasi yang memicu mereka.

IED diduga mempengaruhi sebanyak 16 juta orang Amerika, dimana lebih banyak daripada gabungan antara gangguan bipolar dengan skizofrenia.

Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 358 orang dewasa, individu yang positif terinfeksi toksoplasmosis secara signifikan  mencetak skor lebih tinggi dibanding skor kemarahan dan penyerangan.

Apakah ini sebab dan akibat masih belum jelas, namun rekan penulis, Dr Royce Lee memperingatkan, “Kami belum memahami mekanisme yang terjalin, ia bisa menyebabkan respon rangsangan kemarahan meningkat, mempengaruhi modulasi otak lewat parasit, atau bahkan membalikkan penyebab dimana individu-individu agresif cenderung memiliki lebih banyak kucing atau lebih banyak makan daging setengah matang.”

Temuan ini dilaporkan dalam Journal of Clinical Psychiatry baru-baru ini.

Apakah Toxoplasma gondii ?

Toxoplasma gondii adalah parasit yang dapat menginfeksi sejumlah spesies, termasuk simpanse, tikus dan bahkan manusia, tapi perlu untuk menghabiskan bagian dari siklus hidupnya pada seekor kucing untuk bereproduksi.

Kucing kemudian mengeluarkan parasit, dan ketika hewan datang dan bersentuhan dengan tinja, parasit melompat ke dalam hewan tersebut sebagai inang yang baru.

Hewan yang terinfeksi menjalin kontak dengan kucing sebelum dimakan, dengan begitu parasit menemukan jalan ke dalam perut pemangsa.

Namun goresan cakaran dari kucing atau paparan urine atau feses bisa memungkinkan parasit untuk melompat ke manusia sebagai gantinya.

Hal ini diyakini parasit tersebut sebenarnya sudah berada dan tinggal di sebanyak 60% dari manusia.

Bahkan ada yang beranggapan bahwa itu dapat meningkatkan perilaku pengambilan risiko pada manusia, dan bahkan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kecelakaan mobil. (ran)

Share

Video Popular