Oleh Zheng Xiaohan

Tiga kali ledakan yang terjadi di kota Brussel Belgia pada Selasa (22/3/2016) menyebabkan 31 orang tewas dan 270 orang lainnya mengalami luka. Sementara beberapa orang masih belum ditemukan dalam pencarian. Pada Rabu (23/3/2016) media memberitakan bahwa seorang dari pelaku serangan bom bunuh diri di Brussel itu ikut terlibat dalam pembuatan alat peledak yang digunakan dalam serangan teror Paris.

Menurut Fox News bahwa Najim Laachraoui yang berusia 24 tahun pernah terlibat dalam serangan di Paris pada tahun lalu. Ia adalah salah satu pelaku bom bunuh diri di Bandara Zaventem, Brussel.

Jaksa Belgia Frederic Van Leeuw menunjuk sebuah foto yang dirilis otoritas Belgia mengatakan bahwa orang yang berada di tengah itu dipastikan adalah Ibrahim El Bakraoui, orang yang berada di kanan dengan baju berwarna muda itu adalah kawanan teroris yang sekarang sedang dalam pengejaran polisi. Sedangkan orang yang berada di sebelah kiri itu adalah pelaku bom bunuh diri yang namanya belum diketahui.

Namun tak lama kemudian, Fox News memperoleh informasi dari sumber bahwa pelaku yang berada di sebelah kiri itu adalah Najim Laachraoui. 2 orang pelaku bom bunuh diri yang berbaju warna gelap itu sama-sama menggunakan sarung tangan hanya sebelah saja, mungkin sebagai upaya untuk menyembunyikan detonator di dalamnya.

Menurut Fox News bahwa Najim Laachraoui adalah pembuatan bom yang diledakkan di stasiun KA Brussel dan di Paris tahun lalu. Dalam penggerebekan polisi terhadap sebuah apartemen di Schaerbeek sejak Selasa sore sampai Rabu siang, petugas menemukan detonator, cat kuku, aseton peroksida dan bahan kimia lainnya yang lazim digunakan anggota teroris IS dalam melakukan serangan bunuh diri. Bahan-bahan tersebut tidak berbeda dengan yang digunakan dalam serangan teror Paris tahun lalu.

Menurut Washington Post bahwa Najim Laachraoui adalah pemuda yang dibesarkan di wilayah Schaerbeek, Brussel yang masyarakatnya kebanyakan beragama Islam. Ia diyakini pernah mengikuti pendidikan SMA di sekolahan Katolik, di sana ia belajar teknik elektronik dan mekanik.

Jaksa mengatakan bahwa Najim pergi ke Suriah pada Februari 2013 tetapi tidak diketahui kapan kembali ke Eropa.

Wall Street Journal memberitakan bahwa Najim adalah orang penting dalam membantu perekrutan anggota IS juga berperan dalam memberikan pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan. Kejaksaan dalam sebuah dokumennya menyebutkan bahwa ia dengan mengendarai sebuah mobil Mercedes bersama pelaku serangan teror Paris Salah Abdeslam pernah terlihat muncul di perbatasan antara Austria dengan Hungaria.

Najim menggunakan nama samaran menyewa sebuah tempat tinggal di Auvelais. Tempat tinggal ini digerebek polisi pada 26 November tahun lalu. Di sana DNA Najim ditemukan dan melalui penelitian membuktikan bahwa DNA itu sama dengan salah seorang pelaku serangan teror di Paris.  (sinatra/rmat)

Share

Video Popular