Erabaru.net. Lidah buaya adalah salah satu herbal yang paling populer di dunia saat ini.

Tidak hanya menjadi tanaman rumah yang umum, akan tetapi di seluruh dunia industri lidah buaya bernilai sekitar 13 miliar dollar AS.

Lidah buaya telah populer dalam waktu yang sangat lama, dan telah tertulis dalam tablet tanah liat Mesopotamia dari 2200 SM, dan dianggap sebagai “tanaman keabadian” di zaman Mesir kuno.

Bahkan dengan semua tanaman herbal yang telah ditemukan di seluruh dunia, tidak ada yang sebanding dengan lidah buaya.

Christopher Columbus juga berpikir demikian. Dia membawa sejumlah besar lidah buaya dalam pelayaran ekspedisi Dunia Baru.

Bahkan lidah buaya menjadi salah satu dari 4 tanaman favoritnya.

Columbus pernah berkata, “Empat sayuran yang sangat diperlukan untuk kesejahteraan manusia; gandum, anggur, zaitun, dan lidah buaya.

Yang pertama memelihara, kedua membangkitkan spirit, ketiga membawa harmoni, keempat menyembuhkan.”

Lidah buaya dipandang sangat berharga di dunia kuno juga. Ia menjadi simbol agama di Mesir.

Jika Anda ingin menghadiri pemakaman firaun, maka biaya pendaftarannya adalah tanaman lidah buaya.

Menurut legenda lain, Aristoteles meyakinkan Alexander Agung untuk menaklukkan sebuah pulau di lepas pantai dari ujung Afrika untuk menguasai perkebunan lidah buayanya yang terkenal.

Lidah buaya bukanlah tanaman yang biasa. Memiliki daun tebal berbentuk segitiga sejajar dengan gemerigi kecil disisinya.

Lidah buaya merupakan tanaman asli iklim gurun, oleh karenanya seringkali disangka dari keluarga kaktus, akan tetapi sebenarnya termasuk anggota dari keluarga lily, yang masih dekat dengan tanaman bawang dan bawang putih.

Nama aloe berasal dari bahasa Arab, alloeh, yang berarti “zat bersinar pahit”.

Terdapat lebih dari 400 spesies lidah buaya yang berbeda di seluruh dunia, tapi yang terutama dibudidayakan untuk obat adalah aloe vera.

(Kata vera berarti “benar”). Aloe barbadensis adalah nama lain untuk spesies yang sama.

Perawatan kulit

Lidah buaya umumnya aman untuk digunakan semua jenis kulit, dan memiliki sejarah panjang penggunaannya.

Apa yang membuat lidah buaya begitu istimewa adalah sifatnya yang mendinginkan dan melembabkan.

Ketika dipotong, daunnya terdapat jelly transparan yang bisa digunakan untuk mengobati banyak macam kondisi.

Lidah buaya menjadi bahan yang umum digunakan dalam banyak produk perawatan kulit baik untuk melembabkan, menghaluskan, dan melembutkan.

Secara tradisional digunakan sebagai pertolongan pertama untuk masalah kulit seperti luka bakar, ruam-ruam, dan gatal akibat gigitan serangga, masalah inflamasi kulit kronis, eksim, psoriasis, jerawat, ruam, dan herpes.

Penelitian juga menunjukkan lidah buaya memiliki khasiat anti-inflamasi, antivirus, anti-bakteri, dan antijamur.

Penggunaan yang lebih baru dari lidah buaya adalah obat luka bakar akibat radiasi.

Penggunaan ini muncul pada tahun 1930-an, ketika para ilmuwan mulai berkecimpung di sinar-X dan bahan nuklir.

Militer AS mengembangkan salep lidah buaya pada tahun 1950 untuk mengobati luka bakar radiasi, dan salep aloe telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) pada tahun 1959.

Masalah saluran pencernaan

Pemanfaatan lidah buaya yang paling kuno adalah sebagai obat pencahar.

Menurut dokter Romawi kuno, Dioscorides, tanaman lidah buaya dapat “mengecilkan perut, membersihkan perut”.

Namun, penggunaan tersebut juga seiring dengan beberapa kekhawatiran yang serius.

Fitokimia yang bertanggungjawab atas kemampuan lidah buaya sebagai obat pencahar disebut antrakuinon.

Salah satu antrakuinon di dalam lidah buaya, yang disebut aloin, diakui oleh FDA sebagai obat pencahar yang efektif.

Namun, peraturan melarang obat pencahar yang berlebihan mengandung aloin pada tahun 2002 karena masalah keamanan.

Sebuah studi dua tahun belakangan ini yang dilakukan oleh National Toxicology Program (NTP) menemukan bahwa hewan percobaan tikus yang diberikan ekstrak lidah buaya tanpa filterisasi, dapat mengembangkan tumor kanker di usus mereka.

Sebuah perbedaan penting adalah, ekstrak yang digunakan dalam studi NTP terkandung aloin (komponen yang oleh peneliti disebut sebagai kemungkinan penyebab kanker) dalam jumlah tinggi.

Menurut Dewan Sains Aloe Internasional (IASC), yakni sebuah kelompok industri non-profit yang mengesahkan produk lidah buaya untuk keselamatan dan kualitas, produk yang mengandung aloin jarang ditemui di pasaran saat ini.

Sebagian besar produk lidah buaya akan disaring atau “pemurnian” yang membuat mereka aman untuk penggunaan internal.

Proses ini menghilangkan lateks dari tanaman di mana terdapat aloin.

Lateks lidah buaya adalah lapisan kuning pahit yang terdapat pada daun, diantara kulit luar dan gel dalam yang bening.

“Sebagian besar produk yang bersertifikat lidah buaya mengandung kurang dari 1ppm aloin,” kata Devon Powell, direktur eksekutif IASC dalam sebuah pernyataan.

“IASC tidak menjamin produk aloe yang tidak murni dan tidak menyarankan penggunaannya. Meskipun produk yang tidak dimurnikan tidak umum tersedia, kami mendorong kesadaran pengguna dan menghindari produk tersebut.”

Jika label pada produk lidah buaya tidak jelas apakah mengandung aloin, maka efeknya akan berdampak langsung.

Aloin memiliki efek pencahar yang tak terbantahkan yang dapat mengakibatkan kram dan diare. Bahkan dengan menghilangkan aloin, lidah buaya masih dapat menyebabkan buang air besar, tetapi efeknya jauh lebih lembut.

Gel lidah buaya biasanya digunakan untuk penggunaan topikal. Jus lidah buaya (terkadang disebut air lidah buaya) adalah yang umumnya orang manfaatkan untuk masalah internal (meskipun itu juga tersedia dalam bentuk pil).

Jus lebih mudah untuk diminum dibanding gel, tetapi masih sedikit memualkan (akibat aromanya). Dosis jus biasanya berkisar satu sampai empat ons per hari.

Penelitian telah menunjukkan bahwa lidah buaya dapat secara efektif mengobati infeksi mulut, penyakit gusi hingga sakit pilek.

Gel lidah buaya memiliki afinitas khusus untuk penyembuhan membran mukosa, semua jalan ke bawah saluran pencernaan.

Sebuah studi tahun 2004 menemukan, lidah buaya efektif untuk penyakit inflamasi usus.

Subyek yang diberikan jus lidah buaya dua kali sehari selama empat minggu dapat terlihat peningkatan yang signifikan.

Menurut Pusat Nasional untuk Pelengkap dan Pengobatan Alternatif,AS, jus lidah buaya dapat digunakan untuk mengobati asma, epilepsi, dan osteoarthritis.

Penelitian menunjukkan bahwa lidah buaya juga memiliki khasiat melawan kanker dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Di Meksiko, lidah buaya adalah obat rakyat yang digunakan untuk mengobati diabetes. Penelitian awal dari India mengesahkan perawatan dengan bukti tersebut, dapat menurunkan kadar glukosa darah.

Apabila dioleskan, lidah buaya juga bisa mengatasi luka kaki yang sulit disembuhkan dan borok yang dapat terjadi pada penderita diabetes.

Aloe sangat hidrasi dan kaya polisakarida, yang telah terbukti dengan meningkatkan penyerapan nutrisi. Ia mengandung beta karoten, antioksidan vitamin C dan E, serta B12, asam folat, dan kolin.

Cara penggunaan

Lidah buaya adalah tanaman rumah yang dapat hidup selama bertahun-tahun. Karena ia kuat dan tahan kering, akan tetapi karena memiliki kandungan air yang tinggi, ia sangat sensitif terhadap es. Tanaman gurun ini menyukai hidup di bawah sinar Matahari.

Cara menggunakan tanaman ini, potong daun segar dan hilangkan kulit hijaunya, dan oleskan gel ke daerah yang diinginkan.

Sisa daun dapat disimpan dalam kulkas untuk digunakan lagi, akan tetapi khasiat daun potong tersebut dapat memudar seiring dengan waktu.

Penyajian komersial jauh lebih nyaman.

Metode produksi cold press modern dapat membuat produk tersebut stabil, terlindungi kualitas lidah buaya dengan sedikit zat bermanfaat yang hilang. (Epochtimes/Ajg/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular