Presiden Jerman, Joachim Gauck yang sedang melakukan pelawatan di Tiongkok, pada 23 Maret 2016 mengunjungi Universitas Tongji Shanghai dan melakukan pidato dalam gedung kampus. Ia mengutuk sitem pemerintahan dan ketiranian rezim Jerman Timur yang komunis. Tetapi media corong Partai Komunis Tiongkok/ PKT tidak berani memberitakan isi pidato Joachim.

“Sebagai salah satu negara bekas komunis Uni Soviet, itu adalah sebuah negara yang memaksa rakyatnya untuk terus bungkam, membiarkan rakyatnya hidup dalam tembok tinggi yang mengurung mereka dan terus mempermalukan orang-orang yang berani melakukan penolakan atau tanpa mau mematuhi kehendak para pemimpin yang berkuasa,” pernyataan Joachim.

Joachim mengutuk kelaliman komunis dan menceritakan pengalamannya sendiri ketika masih hidup di masa pemerintahan Jerman Timur sebelum runtuh di hadapan 100 lebih mahasiswa dan dosen yang hadir di Universitas Tongji pada Rabu (23/3/2016).

Di bawah pemerintahan Jerman Timur, tidak ada kebebasan, kesetaraan, pemilihan umum yang distorsi dan kehilangan kredibilitas. Hal itu mengakibatkan legitimasi rezim yang berkuasa dipertanyakan dan karena itu pula saling curiga antar kelompok yang berkuasa dengan yang dikuasai terus berlangsung.

Tetapi isi pidato Presiden Joachim itu sampai 24 Maret 2016 pun tidak diberitakan oleh media corong PKT.

Analis masalah totaliter asal Tiongkok yang sudah tinggal di Jerman, Zhong Weiguang mengatakan, “Yang ditekankan oleh Presiden Joachim dalam isi pidatonya adalah bahwa Partai Komunis Tiongkok sesungguhnya berjalan mengikuti jejak Partai Komunis Jerman Timur, sehingga dapat dikatakan, PKT adalah replika dari Partai Komunis Jerman Timur.”

Joachim Gauck berusia 76 tahun yang berasal dari Jerman Timur itu menjadi dihormati rakyat karena menegakkan hak asasi manusia dan terus berjuang untuk menggulingkan ideologi komunisme.

Ayah Joachim adalah seorang aktivis pembela HAM yang ditangkap secara rahasia dan dibuang ke Siberia oleh Partai Komunis Jerman Timur ketika Joachim masih berusia muda. Pada 1983, Joachim menjadi pendeta yang kemudian dimasukkan ke golong misionaris yang anti komunisme oleh Partai Komunis Jerman Timur karena mengungkap kebenaran dan terus mempropagandakan perdamaian.

Joachim ditunjuk sebagai utusan khusus pemerintahan federal setelah Tembok Berlin runtuh pada 1989. Ia bertanggung jawab untuk mengelola arsip-arsip rahasia mantan keamanan pemerintah Jerman Timur. Dan membuka kesempatan kepada khalayak ramai untuk membacanya.

Pada 2000 ia pensiun dari Kepala Dinas Kearsipan Negara dan terpilih sebagai Presiden Jerman ke 11 pada Maret 2012.

Zhong Weiguang mengatakan, “Ini merupakan jejak sejarah yang dialami sendiri oleh Presiden Joachim Gauck. Ia sepenuhnya dapat menyadari bahwa komunitas itu telah menghancurkan ruang privasi individu, kehidupan pribadi dan jiwa politik masyarakat. Joachim pasti juga tahu bahwa setiap orang yang hidup di negara komunis pasti sama dengan yang hidup di negara lain non komunis, mereka merindukan kebebasan, merindukan kehidupan yang manusiawi.”

Seorang orator jalanan di Chongqing, Han Liang dalam orasinya mengatakan, “Komunisme adalah pencipta bencana terbesar bagi umat manusia. Partai Komunis Tiongkok membuat kerugian tak ternilai untuk bangsa Tiongkok. Membuat situasi HAM di Tiongkok berubah mundur. Moralitas manusia juga mundur, kebudayaan tradisional mengalami kerusakan total.”

Runtuhnya Tembok Berlin 1989 memberikan inspirasi kepada Zhong Weiguang bahwa PKT pasti akan menyusul runtuh. Mengapa demikian?

Itu semua akibat dari PKT yang membangun masyarakat dengan prinsip-prinsip yang bertentangan dengan kemanusiaan. Karena organisasi ilegal, dan apapun yang dilakukan oleh orang-orang yang berusaha untuk mempertahankan komunitas itu pasti tidak akan dapat dibenarkan, masyarakat tidak akan mentorerirnya. Jadi organisasi itu tidak akan berlangsung lama.

Sejak buku Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis beredar pada 2004 hingga kini, sudah ada 231 juta anggota Partai Komunis Tiongkok dan organisasi afiliasinya menyatakan mundur sebagai anggota dan menolak ideologi komunisme, memboikot cuci otak melalui budaya Partai. Masyarakat internasional juga telah memberikan solidaritas atas upaya itu. Para peneliti dunia percaya bahwa PKT akan sulit untuk tetap bertahan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular