Erabaru.net. Rumah, adalah tempat untuk beristirahat, memelihara kesehatan, menambah daya dan vitalitas.

Untuk itu, demi dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri atau keluarga, sebenarnya minimal berapa banyakkah benda yang dibutuhkan?

Orang Jepang lantaran kerap kali mengalami gempa, tsunami dan bencana alam, mulai muncul trend kehidupan minimalis, mereka menemukan bahwa hidup dengan ilmu pengurangan, ternyata dapat membuat hidup mereka menjadi lebih bebas dan menyenangkan.

Yang disebut minimalisme adalah pola hidup yang mengurangi hasrat tentang material sampai pada taraf paling rendah yang dibutuhkan dalam hidup.

Orang-orang terkenal di dunia seperti Steve Jobs dan ibu Teresa dari Kalkuta juga merupakan pelaksana minimalisme.

“Kebanyakan orang di dalam perjalanan hidupnya, telah membawa serta bagasi yang berat bahkan kelewat berat.

Dominique Loreau adalah seorang guru besar aesthetics of life Perancis, karyanya L’art de la simplicite (Kehidupan Sederhana yang Ideal), mendorong kita agar menempuh kehidupan yang sederhana dan menikmati keindahan serta relaksasi yang berasal dari kesederhanaan.

Minimalisme bukan asal membuang segala benda sampai bersih, melainkan dengan cermat memikirkan apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh diri kita.

Setelah dikurangi, sesuatu yang “penting” baru dapat terlihat.

Ada beberapa cerita klasik penganut minimalisme di Jepang, mari kita simak.

Rumah Sato Mai kosong melompong

Sato Mai adalah penulis komik (manga) Jepang yang laris di Amazon, dramanya “Rumahku Kosong Melompong”, dituturkan berdasarkan pengalamannya, larisnya bukan main.

Benarkah rumah Sato Mai kosong melompong? Memasuki rumah Sato Mai, begitu melewati pintu masuk, tak nampak sepasang sepatu pun, di ruang tamu juga tidak ada sofa maupun meja kecil, di dapur hanya terlihat peralatan makan untuk 4 orang, di atas meja tulis hanya terdapat sebuah laptop, memasuki tempat tidur, tidak ada nachtkast (kabinet kecil disamping ranjang), di bawah tempat tidur kosong melompong, di dalam toilet juga hanya terdapat sabun cuci tangan, tidak ada apa-apa lagi.

Di dalam rumah hanya terdapat 4 orang dan 2 ekor meow star people, tolong tanya, di rumah seperti ini apakah Anda dapat menjalani kehidupan?

Sesungguhnya, sebelum tanggal 11 Maret 2011, rumah Sato Mai bukanlah demikian, rumah tua yang sudah dia tempati selama 60 tahun lebih, penuh dengan koleksi nenek dan ibunda selama hidup mereka, setiap kali akan ada tamu, barang-barang itu harus cepat disembunyikan baik-baik.

Sampai setelah bencana gempa bumi Jepang 311 (11 Maret) yang meluluh-lantakkan sebagian besar barang-barang di rumahnya, dia baru menyadari bahwa rumah yang melimpah dengan perabotan dan berbagai barang aneka rupa itu adalah suatu hal yang sangat berbahaya.

Sejak saat itu, dia mulai giat membuang barang, barang-barang di rumah yang dapat dibuang, benar-benar semuanya telah dibuang, demikianlah asal-usul tentang rumah kosong. “Membuang” adalah salah satu dari 4 peraturan yang ditetapkan sendiri olehnya, dia menyebut dirinya sendiri sebagai “pembuang barang abnormal”.

“Pecundang” pada usia 36, buang habis semua perabot, ditiru banyak orang!

Sasaki Fumio (36) adalah seorang pekerja kantor, tempat tinggalnya hanya berukuran 10 m², sepulang dari kantor, pakaian yang ditanggalkan diletakkan begitu saja, di depan meja tulis yang sangat kotor dan amburadul dipakai juga untuk minum bir dan makan camilan.

CD yang dibeli tidak pernah didengar dan ditumpuk di sudut kamar, barang-barang yang tidak pernah dijamah ditumpuk memenuhi ruangan, dan masih saja ingin membeli terus, kehidupannya merosot, bahkan akhirnya kekasihnya pun tidak tahan dan meninggalkannya.

Pada usia 36 tahun, tabungannya menguatirkan sekali, belum menikah bahkan ditinggalkan oleh kekasihnya, kelompok yang hidup sebagai “pecundang” seperti Sasaki Fumio ini cukup banyak ditemui di Jepang.

Setelah ditinggal pacarnya, yang mendampinginya tinggal sampah yang memenuhi tempat tinggalnya, pada suatu hari, Sasaki Fumio tiba-tiba memutuskan ingin membuang semua barang tetek bengek di dalamnya, bahkan kehidupan semacam ini telah dituliskan dalam buku, diluar dugaan bukunya justru telah memenangkan sebagai buku terlaris urutan pertama di Amazon Jepang.

Dulu, terus menerus membeli barang, sesungguhnya adalah hanya untuk memuaskan perasaan diri sendiri agar merasa memiliki lebih banyak dari pada orang lain, namun hatinya tetap hampa.

Akhirnya ia telah menyadari bahwa membeli barang, sekalipun telah memperoleh yang diinginkannya, tetapi selamanya akan ada yang lebih diinginkan lagi!

Setelah Sasaki Fumio membuang habis barang yang memenuhi rumah, termasuk pesawat televisinya, tinggal di dapur satu set piring mangkuk dan ceret kopi, dalam kamar mandi hanya terdapat satu kaleng cairan pembersih yang cocok untuk seluruh tubuh dan selembar handuk, 6 perangkat pakaian untuk dipakai secara bergilir.

Setelah membuang semua barang tetekbengeknya, ia menemukan di lubuk hatinya yang dulu terasa kosong yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, kini justru telah dipenuhi!

“Apa yang kau inginkan, sesungguhnya sudah lama kau miliki.” Ini adalah pandangan menarik yang ditunjukkan oleh Sasaki Fumio.

Hasrat untuk mengurangi perolehan material, mengurangi sampai kebutuhan minimal, disaat itu barang yang kau miliki, semuanya adalah yang paling sesuai bagimu, paling sering dipakai, dapat membuatmu gembira dan bebas, termasuk pakaian dan dandananmu, dengan sendirinya juga akan memancarkan ekspresi yang percaya diri dan sukacita. (Epochtimes/Pur/Yant)

Share

Video Popular