Oleh: Shao Xifeng

Sebelumnya ada komentar mengatakan, jika Korut kembali menembakkan rudal atau meledakkan nuklir, latihan perang AS yang akan berlangsung hingga akhir April, mungkin akan berubah menjadi perang sungguhan, dan menyerang Korut.

Tapi yang bisa kita lihat adalah, Korut kembali menembakkan rudal, dan melakukan uji ledak nuklir yang kelima, tapi sepertinya AS masih bisa bersabar, dan tetap latihan perang. Mengapa Amerika belum menyerang Korut?

Menurut penulis, AS belum menyerang Korut, bukan karena tidak ada rencana menyerang. Sebaliknya, AS dan Korea Selatan memiliki rencana detil yang terus menerus dilatih, baik AS maupun negara terkait seharusnya paham, membuat Korut membuang senjata nuklirnya dengan cara damai adalah pemikiran yang terlalu naif. Karena alasan Korut mati-matian menciptakan senjata nuklir sebenarnya sangat sederhana, yakni mempertahankan kekuasaan rezim Kim di tengah situasi dunia sekarang ini.

Petinggi Korut seharusnya juga sangat paham bila tidak ada senjata nuklir atau senjata nuklir kurang kuat, maka pemerintahan sekarang dan rezim Kim tidak akan bisa dipertahankan. Hanya dengan mengembangkan senjata nuklir sampai ke tahap yang cukup canggih, maka petinggi Korut baru bisa merasa agak lega.

Jadi dalam perjalanan mengembangkan nuklir, Korut akan berusaha semampunya, tanpa mempedulikan sanksi atau pun ancaman sehebat apa pun dari luar.  Korut tidak akan berhenti, seharusnya hanya bila rezim Kim menjelang kehancurannya, Korut mungkin baru akan melepaskan senjata nuklir, atau mungkin akan sampai benar-benar hancur.

Begitu bersikukuhnya Korut dan sama sekali tidak mengindahkan reaksi keras dan sanksi dari PBB, terus menerus menembakkan rudal dan menguji nuklir, tapi AS belum juga menyerang Korut, adalah karena dirasakan waktunya belum tiba. Hal yang dimaksud dengan “waktu” adalah kombinasi dari berbagai faktor yang agak rumit, yang jika diuraikan adalah sebagai berikut:

1. Rudal Korut tidak jatuh di wilayah darat, laut maupun udara milik aliansi Korsel maupun Jepang, begitu pula dengan senjata nuklir. Di dalam negeri Korut sendiri juga tidak terjadi kekacauan yang berarti.

Satu kesimpulannya adalah, alasan AS belum menyerang adalah karena tidak seperti Irak, Afganistan dan lain-lain, Korut yang berbatasan langsung dengan dua negara besar pemilik nuklir yakni RRT dan Rusia, salah sedikit bisa-bisa memicu perang nuklir dengan kedua negara tetangga tersebut. Ini adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh pihak mana pun.

2. Amerika terus memaksa Korut melakukan tindakan yang bersifat provokasi, sebaiknya agak berlebihan, sehingga membuat RRT maupun Rusia tidak beralasan untuk menghalangi perang di Semenanjung Korea dan diam-diam merestui tindakan militer AS.

Kesimpulannya, karena Korut masih sangat berharga untuk dimanfaatkan, sebelum dimanfaatkan sepenuhnya, Amerika tidak akan semudah itu menindak Korut. Sebagai negara yang paling mahir berbisnis di seluruh dunia, kalkulasi AS dalam hal ini tidak bisa ditandingi oleh negara mana pun.

Tapi di sisi lain, AS tetap harus menguasai kemajuan senjata nuklir Korut, agar jangan sampai AS sendiri tidak berdaya menghadapi Korut apalagi sampai membahayakan keselamatan wilayah AS secara langsung. Dalam hal ini seharusnya AS dapat menjaga keseimbangan kedua sisi, begitu Korut sudah tidak bermanfaat lagi, atau senjata Korut sudah sangat mengancam wilayah AS atau pangkalan militer AS, dan juga keselamatan Jepang dan Korea Selatan, maka AS pasti akan bertindak. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular