Erabaru.net. Gelombang otak bergetar pada frekuensi yang berbeda, sesuai dengan kondisi kewaspadaan mental yang berbeda. Penelitian telah menunjukkan bahwa pada saat “Aha!” otak memancarkan gelombang Gamma.

Bagaimana meditasi bisa membantu menghasilkan gelombang Gamma yang dapat mendatarkan garis grafik, dan dengan demikian mungkin pada saat itu telah memasuki momen “Aha!”.

Konsensus umum dari manfaat atau alasan bermeditasi adalah untuk “menenangkan pikiran”, yang mengarah ke pelepasan stres dari tubuh.

Sungguh menarik untuk dicatat bahwa, selain banyak orang yang melaporkan efek umum bermeditasi yang dapat merelaksasi secara konsisten, ada beberapa praktisi meditator yang melaporkan kondisi transendental di mana mereka mengalami wawasan mendalam dari alam “spiritual”.

Pengalaman ini tidaklah mudah untuk berasimilasi ke dalam hal bagaimana kecenderungan pikiran ilmiah saat ini memandang ukuran realitas.

Namun, tampaknya penting untuk menempatkan “kondisi transendental” ini ke dalam konteks apa yang saat ini dapat kita ukur.

Pada tahun 2004, laporan dari National Academy of Sciences menerbitkan sebuah makalah yang menguraikan kondisi electroencephalogram (EEG) dalam jangka panjang pada meditator selama melakukan meditasi.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: “Rasio aktivitas gamma band (25-42 hertz, Hz) … awalnya lebih tinggi di awal masa istirahat sebelum para praktisi bermeditasi daripada yang dikontrol … Perbedaan ini meningkat tajam selama meditasi pada sebagian besar elektroda yang dipasang di kulit kepala dan tetap lebih tinggi dari dasar awal”.

Pada tahun 2010, di dalam jurnal Cognitive Processes, sebuah makalah yang memublikasikan studi pembacaan EEG selama jangka panjang “Vipassana” (bentuk meditasi kuno India) dari meditator vs non-meditator.

Hasilnya adalah sebagai berikut: “Peningkatan relatif dalam daya frontal theta (4-8 Hz) yang diamati selama meditasi, serta peningkatan signifikan daya gamma parieto oksipital (35- 45 Hz)… Temuan menunjukkan bahwa meditasi jangka panjang Vipassana berkontribusi untuk peningkatan daya gamma oksipital yang terkait dengan keahlian meditasi jangka panjang dan peningkatan kesadaran sensorik”.

Pada tahun 2004, ilmuwan saraf Dr. Richard Davidson mempelajari gelombang EEG yang dipancarkan oleh biksu Tibet yang bermeditasi, dan menemukan beberapa biksu menghasilkan aktivitas gelombang Gamma yang lebih kuat dan amplitudo tinggi daripada kasus manapun yang pernah didokumentasikan dalam sejarah.

Pada tahun 2008, Dr. Davidson melakukan penelitian lain dengan biksu Matthieu Ricard yang dijuluki sebagai “manusia paling bahagia di dunia”. Gelombang EEG yang dihasilkan Richard dianggap secara harfiah “mematikan grafik” dalam hal kekuatan yang signifikan.

Berbagai manfaat fisiologis dan neurologis dari tidur nyenyak telah dipelajari secara luas. Mekanisme fisik umum meditasi (diukur oleh kondisi EEG dan irama pernapasan) muncul mirip dengan kondisi tidur.

Kondisi tersebut juga muncul dengan memberikan manfaat yang sama.

Perbedaan utama antara meditasi dan tidur adalah, dalam bermeditasi seseorang secara sadar dapat memengaruhi maksud dari otak / pikiran sedangkan kondisi tidur … seperti hilang begitu saja!

Aspek lain yang menarik dari bermeditasi adalah dampaknya terhadap neuroplas¬tisitas. Hal ini mengacu pada kemampuan orang untuk benar-benar mengubah struktur fisik otaknya.

Kami telah diuraikan dalam “Gelombang Gamma dan Inspirasi” bagaimana gelombang Gamma berkorelasi dengan koneksi saraf baru.

Di sini kita telah membahas bagaimana gelombang Gamma diciptakan dalam kelimpahan bagi para praktisi meditasi jangka panjang.

Seharusnya tidaklah mengejutkan bahwa praktek ini memiliki manfaat emosional yang positif.

Juga tidaklah mengejutkan bahwa “manusia paling bahagia di dunia” adalah seorang meditator yang berdedikasi dan berpengalaman.

Ketika orang cenderung berpikir dari suatu kimiawi alamiah “kebahagiaan” di dalam tubuh, mereka umumnya akrab dengan istilah dopamine.

Dalam otak, fungsi dopamine sebagai neurotransmitter (mentransmisikan sinyal dari satu neuron ke neuron lain). Logika memberitahu kita bahwa “manusia paling bahagia di dunia”, yang menghasilkan gelombang Gamma setinggi langit membuat koneksi massal saraf baru, adalah sangat memungkinkan secara bersamaan menghasilkan lonjakan dopamine setinggi langit.

Namun bagaimana tampaknya pengalaman transendental yang dimiliki meditator senior ini? Semburan wawasan Gamma dalam momen “Aha!” terjadi pada sekitar 40 Hz.

Hanya karena kita dapat mengukur momen-momen tersebut dengan memanfaatkan contoh wawasan “dunia nyata” berdasarkan pengujian ilmiah, itu tidak selalu sama dengan pengalaman biksu Buddha tersebut pada 80 atau bahkan 200 Hz sebagai “tidak nyata”.

Harus ada konsistensi dalam hal hipotesis dan analisis. Mungkin ilmu pengetahuan modern tidak memiliki kerangka lensa yang lebar dan teropong yang mendalam, yang dibutuhkan untuk mengasimilasi pengalaman ini menjadi berpotensi realitas “yang lebih besar” dari kebenaran?

Atau mungkin itu hanya kurangnya peralatan canggih yang akan memungkinkan kita meneropong ke dalam dunia gelombang Gamma yang lebih tinggi tingkatnya? (Epochtimes/Ajg/Yant)

Share

Video Popular