Oleh: Zhang Ge

Dalam laporan berita acapkali terlihat, ada orang demi memiliki tipe HP yang canggih atau tas bermerek terkenal tidak segan-segan menjual ginjal atau tubuhnya. Ada orang yang demi sebuah HP, saking emosinya sampai nekad terjun dari atas gedung. Juga ada ibu dan anak terjadi konflik demi sebuah HP sehingga menyebabkan sang ibu mencekik mati anak perempuannya sendiri secara tanpa sadar. Sangat sulit dibayangkan bahwa benda dan hasrat (nafsu) yang nampaknya tidak bernyawa tapi bisa mengontrol manusia secara total dan bisa dengan sangat mudah mengendalikan pikiran manusia.

Dari sini teringat mengapa di Tiongkok zaman dahulu “iptek ajaib” dilarang keras dan secara berangsur penulis lantas dapat memahami hikmat para pendahulu yang arif bijaksana tersebut. Dalam kitab Kongzi Jiayu (Wejangan Konghucu, 孔子家語) disebutkan, ada 4 jenis pelanggar hukum yang boleh diadili tanpa menurut waktu yang telah ditetapkan dan proses normal peradilan, salah satunya adalah orang yang menciptakan alat dengan teknik menakjubkan. Konghucu (551-479 SM) mengatakan: “Barang siapa yang menggunakan iptek ajaib yang bisa mengguncangkan jiwa, hukuman¬nya: mati.”

Karena benda-benda ajaib bisa menggerakkan dan menyesatkan hati manusia sehingga watak hakikinya tersesat, sang kaisar bisa karena benda tersebut kehilangan spirit dan kebijaksanaan untuk memimpin negeri, rakyat bisa menjadi malas, lupa asalnya dan segala usaha akan menjadi lesu. Demi mempertahankan agar manusia bisa tetap berada pada jalur yang lurus dan menjaga moral sebagai hal utama, maka itu pada zaman dahulu walaupun seseorang memiliki kecerdasan teknik untuk menciptakan benda-benda ajaib, namun tidak dihargai oleh para penguasa. Konghucu justru menyadari bahwa orang yang bisa menciptakan benda-benda menakjubkan tersebut akan menimbulkan kerusakan besar terhadap suasana moral masyarakat, maka terhadap hal itu disarankan untuk dihukum sangat keras. Bukan dilator belakangi oleh egoisme, tapi Konghucu berpikir jangka panjang untuk seluruh masyarakat kala itu.

Di zaman Zhanguo (Negara Berperang, 453 SM – 221 SM), Mo Zi (Mencius) mampu menciptakan burung kayu terbang, dalam keadaan tanpa mesin dan bahan bakar, burung kayu itu konon bisa terbang selama 3 hari 3 malam nonstop. Ketika muridnya juga mencoba meniru membuat burung kayu, Mo Zi (dibaca: Mo Tse, 470 – 391 SM) memberitahu muridnya bahwa itu merupakan “teknik aneh dan kerajinan fasik”, tergolong ilmu/teknik kecil. Engkau belajar membuat burung kayu, masih lebih baik menciptakan sebuah kereta besar bagi rakyat untuk mengangkut bahan pangan!

Di zaman Sam Kok (220 – 280), ahli strategi militer Zhuge Liang demi mengangkut konsumsi pangan bagi 100.000 pasukan Negara Shu, ia bersama isterinya Huang Yueying pada 231 – 234 menciptakan seperangkat alat angkut yang dinamakan Sapi Kayu Kuda Gelinding (木牛流馬 Mu Niu Liu Ma). Tetapi setelah perang usai, Zhuge Liang tanpa ragu sedikitpun membakar musnah alat angkut yang sangat maju di zamannya itu, ia tidak ingin mewariskan sesuatu yang bisa dipelajari kepada generasi penerus.

Dalam catatan sejarah Dinasti Tang (618-907), ada seorang Bupati Luozhou bernama Ying Wenliang, kecanduan minuman alkohol. Ia mencipta sebuah orang-orangan dari kayu yang mengenakan pakaian sutra berwarna-warni, untuk menuangkan arak melayani para tamu yang berkunjung. Orang-orang dari kayu ini selain bisa menuangkan arak bagi para tamu juga sangat santun. Akan tetapi teknik ketrampilan tersebut tidak diwariskan. Di zaman itu juga di Kota Hangzhou terdapat seorang tukang bernama Yang Wulian yang mencipta sebuah robot berwujud seorang biksu, robot biksu itu bisa membawa mangkok kuningan di tangan, persis seorang biksu yang bisa memberi hormat dan meminta sedekah, ketika uang dalam mangkok itu sudah penuh, secara otomatis sang robot bisa menyimpan uang tersebut.

Taraf iptek dan seni ketrampilan Tiongkok kuno betul-betul melampaui imajinasi orang-orang zaman sekarang, tetapi tidak dipergunakan secara umum seperti komputer dan HP di zaman sekarang. Mengapa? Pada abad yang lalu di tahun 1970-an, sejarawan terkenal DR. Toynbee pernah membahas bahwa iptek hanyalah sebuah alat yang berfungsi untuk melayani hasrat manusia. Perkembangan teknologi tinggi zaman sekarang walaupun telah memberikan kemudahan hidup bagi masyarakat umum akan tetapi juga telah membawakan banyak sekali penyalahgunaan, ia bisa membuat manusia memutuskan tradisi hubungan antar manusia secara normal, itu sebabnya zaman sekarang dimana-mana bisa dijumpai kaum “penunduk kepala” sedang keranjingan menggeser layar HP. Demi menciptakan produk elektonik yang lebih baru dan lebih canggih, manusia mengeksploitasi sumber daya alam tanpa batas yang telah menyebabkan cuaca di seluruh dunia menjadi abnormal dan para ilmuwan pun dibuat tak berdaya.

Mungkin, justru karena para leluhur bangsa Tionghoa sudah mengetahui bahaya yang dibawa oleh teknologi ajaib, bisa menutupi sifat bawaan manusia yang bajik, sehinga membuat manusia tidak bisa membedakan dengan jelas antara baik dan jahat, membedakan benar dan salah, maka dari itu Mo Zi tidak menganjurkan muridnya membuat burung kayu ajaib, Zhuge Liang juga tidak membiarkan generasi penerus terkontaminasi dengan teknologi tinggi Sapi Kayu Kuda Gelinding, semuanya ini demi umat manusia bisa mengekang hasrat keinginan dan meletakkan pusat perhatian pada pengolahan jiwa dan menjunjung tinggi moralitas, menghambarkan hasrat manusia dalam mengejar materi, agar tidak mendorong umat manusia ke jalan buntu tanpa asa. (Epochtimes/Lin/Yant)

Share

Video Popular