Oleh: Yue Hua

Saat Xi Jinping melakukan inspeksi ke National Defense University, media massa merunut kembali berbagai komentar keras dan sensitif terkait pemberantasan korupsi dan reformasi di tubuh militer yang beberapa tahun terakhir ini dilontarkan oleh Liu Yazhou yang merupakan salah seorang partai aristokrat sekaligus Komisi Politik di National Defense University.

Jumat (25/3/2016), sebuah akun publik “Xin Jing Bao” menerbitkan artikel berjudul “Seberapa Keras Jendral Liu Yazhou?”

Artikel itu menyebutkan, beberapa tahun terakhir Liu Yazhou banyak menulis artikel terkait hubungan RRT-Jepang, hubungan RRT-AS, reformasi militer dan lain-lain. Banyak di antaranya menyatakan sikap kerasnya, sekaligus juga menulis komentar mengenai pemberantasan korupsi di tubuh militer, juga dengan pernyataan tajam.

Artikel mengambil contoh, Liu Yazhou berkali-kali mengecam “macan militer,” secara lugas menyatakan “kebobrokan dalam personalia telah menjadi akar bencana terbesar yang menghancurkan negara dan mencelakakan rakyat, juga menghancurkan militer serta politik.”

November 2014, dalam suatu seminar bertajuk pembelajaran politik di militer, Liu Yazhou berpidato, “Memeriksa dan menghukum Xu Caihou dan Gu Junshan serta oknum korup lainnya, hanyalah awal mula dari penyelesaian masalah, pemberantasan korupsi harus menggunakan strategi perang menyerbu sekaligus bertahan, terlebih lagi harus berperang jangka panjang.”

Mei 2015, Liu Yazhou menulis artikel tentang kebobrokan dalam personalia telah menjadi akar bencana terbesar yang menghancurkan negara dan mencelakakan rakyat, juga menghancurkan militer serta politik. Beberapa waktu lalu, ada yang bertransaksi dengan mengandalkan pangkatnya, terang-terangan mematok harga memperjual-belikan jabatan, ada yang membuat batasan dengan orang, membuat batasan dengan wilayah, dengan satuan, dengan tujuan mengumpulkan pengikut dan menyingkirkan oposan, menghimpun perkumpulan atau kelompok sendiri, membentuk gerombolan yang memiliki kekuatan tersendiri.

Liu Yazhou berkali-kali menegaskan pentingnya reformasi militer. Ia pernah mengatakan blak-blakan, jika tidak melakukan reformasi adalah bahaya terbesar militer saat ini. Ganjalan tidak melakukan reformasi adalah kurangnya daya pendorong reformasi itu sendiri. Sedangkan ganjalan kurangnya daya pendorong terletak pada para personel di dalamnya yang tidak ingin menyentuh kepentingannya sendiri.

Agustus 2015, pada artikel berjudul “Apakah Sebenarnya Warga RRT Memiliki Agama Kepercayaan?”Liu Yazhou mengatakan, “Di masa sekarang ini kepercayaan banyak orang telah hancur. Begitu kepercayaan runtuh, akibatnya akan lebih buruk daripada orang yang tadinya tidak pernah memiliki agama kepercayaan. Tiongkok yang tidak spiritual tidak akan melalui hari-hari dengan baik. Kita telah merasakan akibat buruk paling awal. Ada ungkapan mengatakan, warga Tiongkok menjadi paham akan kimia lewat makanan bermasalah. Contoh, dari beras warga RRT mengenal Paraffin, dari daging ham warga RRT mengenal Dichlorvos, dari telur ayam warga pun menjadi tahu akan Sudan Red G, dari susu sapi warga jadi mengenal Melamine.

Ia berkata lanjut, “Dalam hal ini, kita telah berhutang, baik pada masyarakat kuno, masyarakat masa kini, maupun generasi mendatang. Dan hutang ini tidak akan lunas sampai seratus tahun kemudian.”

Liu Yazhou pernah beberapa kali berbicara soal hubungan RRT-Jepang. Oktober 2015, Liu Yazhou menulis artikel berjudul “Dari Masalah Pulau Diaoyu Melihat Hubungan RRT-Jepang.” Ia menulis, baik RRT maupun Jepang terus bertentangan sehingga kedua belah pihak semakin lama semakin menjauh dari perdamaian, dan semakin mendekat pada peperangan. Dan begitu RRT-Jepang terjerumus ke dalam konflik militer, maka bagi RRT hanya ada satu pilihan, yakni harus menang, tidak ada jalan mundur. Bersaman dengan itu, ia juga menyatakan bahwa harus sebisa mungkin menghindari perang dengan tekad seperti tidak takut berperang.

Liu Yazhou Pimpin Tim Cendekia Strategi Perang Negara, Bertanggung Jawab Langsung kepada Xi Jinping

Pagi hari 23 Maret lalu, Xi Jinping memimpin rombongan petinggi Komisi Militer Pusat melakukan inspeksi ke National Defense University, didampingi oleh Komisi Politik National Defense University Liu Yazhou untuk memberikan penjelasan. Xi Jinping menerima para perwira setingkat divisi serta seluruh delegasi Kongres Partai ke-6, dan menyampaikan pidatonya. Dalam pertemuan tersebut Xi menegaskan, harus memperkuat “ideologi persatuan” dan sama sekali “tidak boleh goyah.” Xi juga menyampaikan bahwa tim cendekia harus memainkan perannya, mengembangkan riset strategi, mengemukakan gagasan dan penanggulangan masalah dan lain-lain.

Juli 2015 lalu, pihak militer Partai Komunis Tiongkok/ PKT membentuk tim cendekia strategi keamanan nasional yang pertama yang bernaung langsung di bawah Komisi Militer PKT, dengan tujuan untuk mengatasi berbagai masalah keamanan serius yang timbul. Ada analisa menyebutkan, dibentuknya tim cendekia ini menunjukkan semakin terkikisnya kekuasaan tim cendekia dari kubu Jiang.

Media massa Hongkong mengatakan, bahwa tim cendekia keamanan nasional ini bertanggung jawab langsung kepada Xi Jinping. Liu Yazhou selaku pemimpinnya yang sekaligus sebagai Komisi Politik di National Defense University menyatakan, dibentuknya instansi ini “memiliki makna yang sangat istimewa, karena jauh melampaui ruang lingkup akademis, dan merupakan pernyataan sikap akan misi dan tanggung jawab.” Berita menyatakan, instansi yang dikuasai oleh Liu Yazhou ini adalah membentuk citra baru bagi Xi Jinping yang sama sekali berbeda dengan yang dilakukan oleh Liu Yunshan (anggota Komite Tetap Politbiro PKT Pusat yang pro Jiang).

Liu Yazhou adalah menantu dari mantan pemimpin negara PKT yakni Li Xiannian. Juli 2012, ia dipromosikan menjadi jendral berkat Hu Jintao (mantan Ketua PKT periode 2002-2012) dan Xi Jinping. Liu Yazhou dan Liu Yuan dipandang sebagai sekutu Xi Jinping dari kaum partai aristokrat di militer, sebelumnya pernah di juluki “satu Xi dan dua Liu.”

Sejak 15 Maret 2013, di surat kabar “People’s Daily” Liu Yazhou telah menulis artikel yang mengatakan bahwa sejumlah pemimpin di tubuh militer suka berfoya-foya dan semena-mena, sehingga menimbulkan pengaruh yang sangat buruk, yang sekaligus menjadi peringatan bagi kubu Jiang yang korup. Setelah itu, satu persatu orang kepercayaan Jiang Zemin di militer pun dilengserkan, dimulai dari mantan wakil ketua Komisi Militer jendral Xu Caihou, jendral Guo Boxiong, dan lain-lain. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular