Tim ilmuwan gabungan insinyur dan ahli meteorologi Nevada telah menggunakan drone untuk mengendalikan cuaca. Mereka mengatakan telah menciptakan platform penyemaian awan otonom yang pertama sehingga dapat meningkatkan curah hujan sebesar 15 persen.

Penyemaian awan melibatkan penyemprotan partikel halus dari perak iodida ke dalam sistem awan dalam upaya untuk meningkatkan jumlah hujan yang jatuh.

Para insinyur drone dan ilmuwan dari Desert Research Institute, Drone Amerika, dan AviSight telah bekerja sama untuk membuat drone, yang akan membawa peralatan penyemaian awan.

Mereka menggunakan drone DAx8 delapan baling-baling dan telah berhasil melakukan test penyebaran pada akhir Januari 2016.

“Ini adalah tonggak utama. Kami mampu menerbangkan pesawat canggih ini di sini di Northern Nevada dan memverifikasi bahwa UAS sepenuhnya mampu membawa muatan penyemaian awan aktif, ” kata Adam Watts, pimpinan proyek.

Drone yang digunakan untuk membuat hujan buatan
Tim ilmuwan Nevada telah menggunakan drone untuk mengendalikan cuaca. Insinyur dan ahli meteorologi mengatakan mereka telah menciptakan platfom penyemaian awan otonom yang pertama yang dapat meningkatkan curah hujan sebesar 15 persen.

Richards, presiden Drone Amerika mengatakan proyek ini akan memberikan penyemaian awan yang aman dengan potensi yang signifikan memberikan bantuan kepada orang-orang di daerah yang dilanda kekeringan.

Meskipun hal ini mungkin menjadikan drone yang pertama melakukan penyemaian awan, namun ini bukanlah teknik yang  pertama kalinya digunakan. Tahun lalu, Arizona telah mengungkapkan rencana untuk membuat awan hujan buatan dengan menerbangkan pesawat-pesawat melintasi Rockies dan menyemai langit dengan perak iodida.

Tim berharap teknologi tersebut akan memungkinkan mereka untuk mengurangi beberapa dampak terburuk karena perubahan iklim, namun tidak semua orang yakin.

Proses penyemaian awan pertama kali diusulkan pada tahun 1940-an di laboratorium General Electric di Schenectady, New York. Dua dekade kemudian, Central Arizona Project dan Salt River Project telah berinvestasi dalam penelitian untuk mewujudkannya.

“Ini belum dianggap sebagai alat potensial karena kami bekerja dengan cara kami melalui kekeringan yang ada sekarang dan di masa depan,” kata Nancy Selover, ahli klimatologi negara Arizona mengatakan kepada Cronkite News.

Sejak tahun 2007, CAP telah menempatkan sekitar $1 juta untuk penelitian yang terjadi di negara-negara lain untuk meningkatkan pasokan air dalam sistem Sungai Colorado.

Sistem tersebut bekerja dengan dasar pemikiran bahwa curah hujan terjadi ketika butiran air super dingin membentuk kristal es. Akibatnya mereka menjadi terlalu berat untuk tetap di udara, lalu jatuh, dan seiring dalam perjalanannya ke bawah akan mencair dan membentuk hujan.

Air di udara, bahkan di daerah kering, bisa diubah menjadi kristal es dengan penyemaian bahan kimia ke atmosfir seperti perak iodida atau es kering.

Mereka membuat hujan dengan menginduksi nukleasi, sebuah proses di mana air di udara mengembun di sekitar partikel dan mengkristal untuk membentuk es.

Tetapi beberapa ilmuwan khawatir tentang pembentukan perak di daerah aliran sungai, serta ketidakpastian hukum atas siapa yang harus mendapatkan air tambahan. Dibandingkan dengan alternatif lain, seperti desalinasi (menghilangkan garam) air laut, penyemaian awan adalah pilihan termurah.

Dalam proyek percontohan modifikasi cuaca di Wyoming baru-baru ini, teknologi tersebut mengakibatkan peningkatan akumulasi air salju musiman 5 sampai 15 persen. Namun Selover, ahli klimatologi negara, mengatakan bahwa bagian tersulit dari penyemaian awan adalah mengukur apakah suatu daerah mendapat lebih banyak curah hujan.

“Jadi efektivitas itu diragukan. Ini bukan berarti bahwa itu benar-benar tidak efektif, mereka cukup yakin itu memiliki beberapa dampak, tetapi itu cukup sulit untuk mengukur,” ungkapnya.

Cara kerja pembuatan hujan buatan

Partikel mikroskopis perak iodida ditembakkan ke awan yang ada dengan menggunakan generator dari darat atau pesawat udara.

Perak iodida adalah agen pembentuk es, yang menyebabkan tetesan air super dingin membeku di awan. Kemudian embrio-embrio es tersebut berinteraksi dengan tetesan air di sekitarnya, dan akhirnya tumbuh menjadi kepingan salju, jatuh ke tanah seperti salju atau hujan, tergantung pada suhu permukaan.

Penyemaian awan juga dapat, dalam beberapa kasus, menyebabkan awan untuk tumbuh lebih besar dan lebih lama jika itu akan tanpa modifikasi.

Ilmuwan khawatir bangsa musuh dapat mengendalikan cuaca

Jika sepertinya tidak pernah berhenti hujan, mungkin ada yang memanipulasi cuaca dunia, sebuah konferensi digelar pada bulan Februari.

Seorang pimpinan akademik tahun lalu menceritakan bagaimana ia mendapat telepon misterius menanyakan apakah negara-negara asing bisa memicu kekeringan atau banjir.

Profesor Alan Robock, dari Rutgers University di New Jersey, mengatakan,”Konsultan-konsultan yang bekerja untuk CIA menelepon dan berkata, ‘kami ingin tahu jika seseorang sedang mengendalikan iklim dunia dapatkah kita tahu tentang hal itu?”

“Tentu saja mereka juga bertanya, ‘jika kita mengendalikan iklim orang lain dapatkah mereka tahu tentang hal itu?” tambahnya.

Profesor itu adalah salah satu dari banyak ilmuwan dari seluruh dunia yang secara aktif mencari memanipulasi cuaca sebagai cara untuk memerangi perubahan iklim.

Profesor Robock mengatakan kepada penelepon bahwa setiap upaya untuk mencampuri cuaca pada skala besar akan terdeteksi. (ran)

Share

Video Popular