Oleh: Zhao Yun

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kian banyak ditemukan kawah misterius di belahan dunia. Sementara itu, di semenanjung Yamal Peninsula sebelah Barat Laut Rusia yang dijuluki “ujung dunia,” kerap terlihat kawah raksasa dengan skala yang mencengangkan.

Sehubungan dengan itu, baru-baru ini para ilmuwan memaparkan penjelasannya. Menurut mereka, efek rumah kaca telah memicu pemanasan global, sehingga mengakibatkan ledakan gas metana bawah tanah dan membentuk sinkhole atau kawah/ lubang runtuhan.

Di semenanjung Yamal yang dijuluki “ujung dunia,” telah ditemukan 7 kawah raksasa. Di antaranya ada yang lebarnya hingga 2000 meter dengan kedalaman 100 meter. Adapun mengenai faktor penyebab munculnya kawah-kawah tersebut, ada yang mengatakan itu adalah bekas lubang saat pendaratan UFO alien, ada yang mengatakan akibat uji coba rahasia rudal milik pemerintah Rusia.

Itu semua adalah efek rumah kaca, yang memicu pemanasan global, sehingga mengakibatkan ledakan gas metana bawah tanah dan membentuk sinkhole atau kawah/ lubang runtuhan, demikian penjelasan para ilmuwan.

Laman “Scientific American” menyebutkan, bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, fenomena pemanasan Arktik kini meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan, suhu rata-rata pada 2014 lalu mencapai 9 derajat Fahrenheit (-12,78 derajat Celsius).

Sebelumnya, peneliti dari University of Tromsø – Norges arktiske universitet, Norwegia, juga menemukan sejumlah besar kawah di dasar Laut Barents di sekitar Segitiga Bermuda. Kawah-kawah ini lebarnya hingga setengah mil (sekitar 805 meter) dengan kedalaman 150 kaki (sekitar 46 m).

Seiring dengan memburuknya pemanasan global, landscape ekologi asli di Arctic permafrost di masa depan juga akan mengalami perubahan dramatis.

“Terkait faktor rinci timbulnya kawah tersebut, sejak awal sebelumnya ada yang mengemukan bahwa hal itu besar kemungkinan disebabkan oleh “ledakan metana yang mengakibatkan terbentuknya kawah” dan prediksi ini perlahan-lahan mulai terbukti setelah ditemukannya metana dengan konsentrasi tinggi melalui eksplorasi bawah tanah yang berlangsung hampir dua tahun,” kata ilmuwan di National Oceanic and Atmospheric Administration – NOAA, Amerika Serikat.

Sementara itu, menurut Environmental Protection Agency (EPA) Amerika, dibandingkan dengan karbondioksida, metana merupakan gas rumah kaca yang justru lebih perlu kita khawatirkan, karena dampaknya pada pemanasan adalah 25 kali-nya dari karbondioksida, sedangkan kapasitas metana dalam menyerap panas lebih dari 21 kali dari CO2, oleh komunitas ilmuwan hal ini bahkan disebut-sebut sebagai“bom waktu.”

Para ilmuwan khawatir dengan semakin memburuknya pemanasan global, akan menyebabkan peningkatan frekuensi ledakan yang serupa. Pada September 2015 lalu, ketika presiden AS mengunjungi Alaska, juga pernah mengibaratkan Arctic sebagai “Gound zero-nya” perubahan iklim.

Sementara menurut para ilmuwan bahwa dengan meningkatnya sinkhole atau kawan/ lubang runtuhan di belahan dunia, merupakan salah satu tanda lepasnya kendali atas pemanasan global. (ntdtv.com/joni/rmat)

Share

Video Popular