Oleh: Gao Tianyun

Di bawah terik sinar mentari. Kota kecil sunyi kosong. Kepala Polisi setempat Will Kane mondar mandir di jalan yang sunyi, untuk menyambut suatu pertarungan hidup mati terakhir. Figur yang sendirian disoroti terik matahari, menginterpretasi film klasik abadi Amerika itu.

Film High Noon, 1952, disadur dari cerpen “The Tin Star” yang ditulis oleh John W. Cunningham, pada 1953 memperoleh empat Academy Awards (The Oscars). Pada 1989 American National Film Registry memasukkannya ke dalam kelompok pertama 25 film klasik untuk diproteksi dalam Library of Congress, banyak penonton menggambarkannya sebagai “abadi” dan “agung”.

Ini merupakan cerita tentang kepahlawanan yang tanpa bala dengan gagah berani berduel menentang kelompok bandit. Sebuah kota kecil yang jauh terpencil di wilayah barat, Kepala Polisi Will Kane pada hari itu meletakkan jabatan dan menikahi Amy gadis rupawan yang masih muda. Ia melepaskan police emblem dan bersiap-siap pergi ke tempat jauh bersama sang istri untuk memulai kehidupan baru yang damai.

Justru pada saat itu, datanglah sebuah berita: Frank Miller, seorang penjahat yang bertahun-tahun lalu ditangkap oleh Kane telah dibebaskan karena sudah habis masa tahanannya, sekarang sedang naik kereta api untuk membuat perhitungan dengan Kane. Kereta api akan tiba di stasiun tepat pada tengah hari. Menuruti saran semua orang, Kane membawa sang istri berangkat sesuai rencana semula. Namun, belum lagi jauh perjalanannya. Ia berubah pikiran, berbalik arah untuk kembali. Ia merasa, kedatangan Miller adalah khusus untuknya, bila tidak menemukannya, mungkin saja dapat memporak-porandakan kota kecil itu karena angkara murka. Ia tidak seharusnya membiarkan penduduk yang tidak bersalah menerima getahnya.

Kane kembali ke kota kecil, dengan secepatnya berusaha mengumpulkan kawan untuk membantu menghadapi Miller yang buas dan kejam. Tak dinyana kebanyakan penduduk memberikan tanggapan yang dingin, dengan berbagai dalih menolak untuk membantu. Ada yang bahkan bersembunyi tidak berani menemuinya. Malah ada orang yang menyalahkan dia yang telah menyebabkan masalah sebesar ini, hendaknya ia sendirilah yang menyelesaikan.

Wakil Kepala Polisi, telah meletakkan jabatan dengan rasa dengki karena kepergian Kane, melihat Kane kembali, ia menyatakan, asalkan Kane bersedia mempromosikannya menjadi Kepala Polisi yang baru, ia akan bersama Kane menghadapi pertarungan ini. Namun persyaratan ini ditolak olah Kane. Hakim yang dulu menjatuhkan hukuman bagi Miller cepat-cepat hengkang, bahkan menganjurkan Kane untuk pergi saja. Hanya beberapa pria yang sudah tua dan lemah berinisiatif maju, namun mereka sebenarnya bukanlah lawan dari Miller.

Kane sangat kecewa dan merasa ditinggalkan sendirian, bahkan Amy sang istri juga memberikan ultimatum: tak perduli apa pun keputusan Kane, dia akan naik kereta api tengah hari untuk pergi. Kane yang letih duduk di kantor merenung, acap kali memandang jam dinding. Kane pun menulis sepucuk surat wasiat, kemudian mengenakan kembali seragam dan emblem kepolisian, melangkahkan kaki di jalanan yang sunyi.

Melalui pertarungan sengit, Kane telah merobohkan beberapa penjahat.  Pada saat-saat genting, muncullah Amy, bekerja sama dengan Kane, menembak mati Miller si penjahat utama. Pada waktu itu, penduduk kota keluar dari tempat persembunyian masing-masing, dengan tanpa kata-kata memandangi Kane dan Amy. Kane membuang emblem polisinya dan bersama Amy pergi meninggalkan kota  itu.

“High Noon” alur ceritanya singkat, padat dan mendebarkan. Durasi film yang 85 menit, kebetulan sama panjangnya dengan waktu 85 menit yang digunakan Kane untuk menunggu kereta. Syuting film seperti ini sangat jarang dijumpai.

Mendesaknya waktu sangat ditonjolkan dalam film: Jam dinding besar bergoyang bandulnya, terlihat jarum penunjuk semakin lama semakin mendekati jam 12, sedangkan Kane hanya seorang diri menghadapi pertarungan!

Bintang film terkenal Gary Cooper dengan sukses memerankan sosok seorang pemberani yang tak kenal tunduk, secara hidup mengekspresikan perasaan rumit yang dirundung kekecewaan, kecemasan dan tekad bulat dalam hati Kane. Seperti yang diharapkan masyarakat, Cooper mengandalkan aktingnya yang hebat telah memperoleh penghargaan Oscar sebagai pemeran pria terbaik. Grace Kelly yang memerankan Amy  juga memperoleh penghargaan, karena film ini mulai terlihat kepiawaian aktingnya.

“High Noon”berbeda dengan film barat tradisional, adegan klimaks pertarungan tembak-menembak hanya berlangsung sepuluh menit, yang lain kebanyakan adalah mengenai diskusi moral dan gejolak emosional. Terdapat banyak dialog yang patut direnungkan, bersamaan dengan itu terdapat juga banyak pesan untuk dipikirkan kembali baik-baik oleh penonton. Pada awal penayangan secara publik, beberapa penonton memiliki keraguan mengenai pemilihan judul yang istimewa. Namun,lama kelamaan orang-orang semakin mengerti hebatnya jalan cerita, komentar-komentar baik mulai berdatangan.

Kontradiksi yang menyolok antara kebenaran dan kejahatan merupakan topik abadi film barat. Fokus film ini tidak berubah, namun telah mengembangkan alirannya sendiri, telah memaparkan pemikiran moralitas secara serius: menghadapi kejahatan yang tidak berhubungan dengan diri sendiri akan berusaha menghindar. Mutu jelek sifat manusia yang seperti ini, mungkin lebih dingin daripada para penjahat yang kejam dan bengis, membuat orang merasa kecewa bukan main. Reagan mantan Presiden Amerika Serikat menyatakan, bahwa film tersebut merupakan sebuah film yang paling dia gemari, karena sang pemeran utama menunjukkan kesetiaannya kepada hukum dan tugas. Sekalipun penduduk kota telah tidak memperdulikannya, dia tetap setia pada tugas dan berperang seorang diri dengan berani.

Beredarnya film ini selama 60 tahun, telah menimbulkan pujian, entusias dan keharuan para penonton. Ada orang yang berkomentar, “Pemberani dan penakut merupakan topik emosional yang didiskusikan secara umum di dunia. Pemeran pria utama karena memiliki martabat, keberanian dan kekuatan di dalam dirinya telah menjadi tokoh yang luar biasa.”

Juga ada yang menunjukkan bahwa film ini mencerminkan sisi terbaik dan sisi terjelek sifat manusia dalam masyarakat Amerika. Seorang penonton dengan topik “Seorang yang tidak melarikan diri” menuliskan komentarnya tentang film ini, “Seorang pria, membela kebenaran, sekali pun tidak ada dukungan, sekalipun terdapat godaan, juga tidak akan membenamkan kepalanya di dalam pasir. Kane akhirnya membuang emblem kepolisian, karena ia menemukan, kota kecil itu tidak layak untuk diperjuangkannya. Ia tidak melarikan diri pada saat menghadapi pertarungan, karena ia bertarung demi prinsip kebenaran.”

Cerita klasik merefleksikan kenyataan, memuliakan kecemerlangan sifat manusia. Di dalam kenyataan hidup, belum tentu terdapat bahaya tembak-menembak di jalanan, namun tidak sedikit pemilihan antara benar-salah, hitam dan putih. Tidak ada jeleknya kita bertanya pada diri sendiri: ketika percobaan menghampiri, apakah kita memiliki keberanian untuk melangkah maju? (pur/whs/rmat)

Share

Video Popular