“Endowment effect” kali pertama dikemukakan oleh Richard Thaler pendiri Perilaku Keuangan AS pada tahun 1980, yang berarti: “Letika seseorang memiliki barang tertentu, pe¬nilaiannya terhadap barang itu akan “lebih besar” dari ketika ia belum memilikinya”.

Dalam kehidupan acapkali bisa melihat fenomena menarik: ada sebagian pria berwajah jelek, juga tidak memiliki kelebihan, namun pacarnya sangat memedulikan dia, mengawasinya dengan ketat dan dipantau 24 jam. Ada sebagian orangtua berdiam di rumah yang amburadul, sang anak hendak menjemputnya untuk diajak tinggal bersama, namun orangtua itu bersikeras tidak mau pindah, dia merasa lebih nyaman berjaga di sarang tuanya. Ada sebagian orang melihat harga sahamnya turun terus namun ma¬sih tetap tidak rela melepas, selalu berkeyakinan saham-saham itu bisa rebond, akhirnya modal pokok pun tidak kembali. Inilah yang disebut Endowment Effect.

Demi mempromosikan produk, kadang-kadang pedagang menjanjikan “bisa dikembalikan dalam 7 hari” sebagai masa apresiasi produk. Akhirnya asalkan produk itu tidak bermasalah serius, sebagian besar orang tidak akan mengembalikannya, ini disebabkan para konsumen sejak awal beranggapan bahwa senilai berapa produk tersebut asalkan dibawa pulang, nilai produk itu akan naik dalam hati konsumen.

Manifestasi tipikal dari Endowment Effect adalah ketika Anda memiliki sesuatu dan Anda merasakan barang itu sangat penting dan takut kehilangan. Maka karena takut “ide” direbut orang lain, para produsen bergegas mencari hak paten dan mengajukan eksklusivitas; karena takut setelah berpisah tidak bisa menemukan orang yang lebih baik dari dia maka para wanita mempertahankan percintaan mereka yang kacau; karena sudah terlanjur menghabiskan banyak uang maka para penjudi bersumpah tidak akan berhenti jika uang mereka tidak kembali.

Ketika produk terbatas maka akan memperkuat Endowment Effect. Ketika Mc Donald meluncurkan boneka “Hello Kitty” edisi terbatas, anak-anak muda rela mengantri semalaman untuk mendapatkannya; ketika tiket konser populer terjual habis, tiket yang lebih mahal beberapa kali lipat pun ada orang yang mau membeli; ketika Bucket Bag “Mansur Gavriel” diluncurkan dan terjual habis di seluruh dunia, perempuan modis akan merasa bangga jika memilikinya.

Manusia di dunia mengejar harta dan tahta, jika mendapatkan akan bersorak-sorai, jika kehilangan akan bermuram durja. Mengejar hanya dijadikan sebagai kesenangan, setelah memperoleh tidak bisa menyayangi, tidak mengerti bagaimana menikmati “kepemilikan” itu, walau sudah “memiliki” juga tidak memahami apa makna dibaliknya. Menghamburkan kehidupan, sudah dianggap hal yang lumrah; menggerus kesehatan, karena sudah terbiasa maka dianggap normal. Namun di suatu hari apabila unsur-unsur kehidupan ini terancam sirna, manusia baru merasakan betapa berharganya hal-hal itu.

Jean Dominique Bauby penulis buku The Diving Bell and the Butterfly, semula adalah pimred majalah mode Elle Prancis, ia berperangai ceria dan pandai berkomunikasi serta sangat mencintai kehidupan. Namun, pada akhir tahun 1995 ketika ia berusia 44 tahun, mendadak terserang stroke dan menjadi manusia sayur. Dengan bantuan teman-teman, ia mengandalkan kedipan mata kiri, satu huruf demi satu huruf menulis sebuah buku memoir yang luar biasa. Dua hari setelah buku diterbitkan, ia meninggal dunia.

Bauby dengan nada datar membicarakan tentang kesepian dan kesedihannya, seperti kepompong yang tertutup, namun dalam mengenang masa lalu ia membiarkan memori dan perasaannya bagaikan kupu-kupu yang terbang bebas. Dalam menghadapi sisa hidupnya ia penuh dengan rasa sayang, di paragraf terakhir karangannya tertulis: “Apakah di alam semesta ini eksis sebuah kunci yang bisa membuka lonceng selam saya? Adakah kereta subway tanpa stasiun akhir? Mata uang kuat manakah yang bisa membeli kembali kebebasan saya?” Harapan tipis itu tidak terwujud, jiwanya sudah keburu berlari mencapai titik finish. Bauby menggunakan pengalamannya memberitahukan kepada kita semua, harus menyayangi yang sudah dimiliki, karena Anda tidak akan tahu kapan semua ini berakhir.

Bagaimanakah sebetulnya kita harus bersikap dalam menghadapi perolehan dan kehilangan dalam kehidupan ini? Seorang suci mengatakan: “Jika suatu benda memang milik Anda maka ia tidak akan hilang, tetapi jika benda itu bukan milik Anda, maka Anda juga tidak bisa mendapatkannya.” Jika di dalam nasib kita memang selayaknya memiliki sesuatu, maka walau diperebutkan oleh orang lain, maka “sesuatu” itu juga tidak akan hilang; sebaliknya jika benda itu (di dalam nasib) bukan milik kita, walau bagaimanapun diperebutkan toh tidak akan kita dapatkan, meskipun telah Anda perebutkan, ia akhirnya akan lepas juga.

Bekerja dengan cermat dan sungguh hati, maka gaji itu pantas milik Anda. Berteman dengan tulus hati tanpa pamrih, tidak menyia-nyiakan persahabatan itu. Berbakti pada orangtua, menyayangi keluarga, memperlakukan orang lain dengan baik, semuanya lakukanlah dengan segenap hati. Suatu hari ketika terkena PHK, dalam hati tidak mendendam, telah dikhianati, dalam hati tidak membenci, ketika berpisah, dalam hati tanpa penyesalan. Jika telah memperoleh, sayangilah jodoh (perolehan) itu; jika telah kehilangan, maka lepaskanlah dengan ikhlas. Manusia datang ke dunia ini bagaikan tinggal di p-nginapan, hanya bergegas untuk beberapa hari saja, kenapa sampai lupa pulang? (Epochtimes/Lin/Yant)

Share

Video Popular