- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Diperkirakan Lebih dari 1200 Anggota Teroris Bersembunyi di Daratan Eropa

Sebuah laporan mengungkapkan bahwa ada sebanyak 4.000 orang warga Eropa yang pergi ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan kelompok militan, dan jumlahnya masih menunjukkan  peningkatan. Orang-orang tersebut terutama berasal dari Inggris, Prancis, Jerman dan Belgia. Dan 30 % di antara mereka (mendekati 1.200 orang) kini sudah kembali ke negara masing-masing.

Central News Agency mengutip sebuah pengumuman yang berisi ulasan tentang militan Islam berjudul ‘The Foreign Fighters Phenomenon in the European Union” yang dikeluarkan oleh Interntional Centre for Counter-terrorism berkedudukan di Den Haag pada 1 April 2016 lalu memberitakan bahwa ada sekitar 3.922 hingga 4.292 orang warga Eropa dengan 17 %-nya di antaranya adalah kaum wanita muda telah diketahui berada di Suriah atau Irak untuk memperkuat perjuangan kelompok militan Islam. Lebih dari 90 % militan Islam itu datang dari wilayah metropolitan di Eropa. Mereka sebagian besar pergi ke sana dengan ditemani oleh kawan dekat atau orang-orang yang sekomunitas.

Sebanyak 2.838 dari total sekitar 4.000 orang warga daratan Eropa yang bergabung dengan kelompok teroris itu kebanyakan adalah orang Inggris, Prancis, Jermn dan Belgia. Dari Belgia saja sudah ada 420 sampai 516 orang yang terdata pernah pergi dan bergabung dengan kelompok teroris di Timur Tengah, dan sekitar 55 sampai 130 orang di antaranya kini sudah berada kembali di Belgia.

Pengumuman dari Den Haag itu juga memperingatkan bahwa jumlah warga Eropa yang pergi ke Timur Tengah untuk bergabung dengan kelompok teroris masih terus bertambah. Diperkirakan bahwa jumlah anggota kelompok militan di Timur Tengah antara periode September 2014 hingga bulan yang sama pada 2015 sudah naik 2 kali lipat.

Survei membuktikan bahwa warga asal Eropa yang pergi ke sana untuk ‘Berjihad’ itu semuanya adalah para Muslimat dan Muslimin. Penyelidikan awal juga menunjukkan bahwa mereka dalam waktu yang sangat singkat sudah berhasil dibujuk untuk memulai jalan radikalisasi, tetapi pihak kepolisian justru lebih sering tidak menaruh waspada terhadap mereka.

Pemerintahan Eropa telah menganggap militan yang sudah kembali ini sebagai potensi ancaman keamanan. Takut bila mereka menggunakan pengalaman militer yang diperoleh dari Timur Tengah untuk menyerang Eropa.

Dengan meningkatnya serang teror di daratan Eropa, banyak negara terpaksa melipatgandakan  kewaspadaan keamanan. Sejak 2011, ada 11 negara Eropa telah menaikan tingkat siaga dalam negeri mereka. (sinatra/rmat)