Oleh: dr. Ronald D. Whitmont, M.D.

Tidur yang sehat berarti kemampuan melakukan aktivitas yang dapat mempertahankan lingkungan internal dan eksternal dengan cara yang kondusif untuk tidur. Tidur yang sehat perlu memperhatikan berbagai lingkungan, kimia, emosional, perilaku, dan faktor makanan secara terinci.

Evaluasi secara terinci tersebut harus diikuti dengan ketekunan untuk mengurangi dan mengoreksi hambatan tidur alami.

Tidur sehat akan bekerja saat pola spesifik dilakukan secara berulang dan konsisten setiap hari tanpa variasi atau gangguan. Ini berarti siklus tidur dan bangun harus diperhatikan, diikuti dengan keteraturan sesering mungkin dan variasi sesedikit mungkin.

Libur akhir pekan yang mengubah pola kerja dan mengakibatkan perubahan siklus tidur harus dihindari. Agar mendapatkan hasil memuaskan harus mematuhi jadwal yang sama tanpa variasi penting 24 jam 7 hari sepanjang tahun.

Penyebab dan terapi dari segi medis

Pemeriksaan medis menyeluruh sangat penting karena hampir 50 persen kasus insomnia terkait dengan kondisi medis yang dialami penderita. Beberapa penyakit atau kondisi yang umum dialami penderita insomnia antara lain sakit kepala, asma, fibromyalgia (kondisi kronis yang menyebabkan nyeri, kekakuan, dan kepekaan dari otot-otot, tendon-tendon, dan sendi-sendi), GERD (gangguan saluran cerna bagian atas yang terjadi karena adanya aliran balik secara spontan dari isi lambung ke kerongkongan), menopause, dan sindrom nyeri.

Tinjauan sistem tubuh yang lengkap beserta riwayat kesehatan menyeluruh sangat penting dilakukan di setiap kasus insomnia. Manajemen holistik yang difokuskan pada pemecahan masalah harus menjadi obyek utama dari setiap modifikasi pengobatan. Manajemen holistik tidak hanya membantu mengatasi kondisi yang mendasarinya tetapi juga membatasi paparan pengobatan yang bersifat racun dan cenderung menimbulkan efek samping.

Manajemen medis homeopati dan holistik klasik dapat meningkatkan kesehatan dan mengurangi ketergantungan pada obat sehingga secara signifikan mengurangi risiko komplikasi tidur akibat dari beragam penyakit.

Gangguan kejiwaan dan emosional

Sekitar 40 persen penderita insomnia kronis memiliki masalah kejiwaan maupun emosional. Beberapa kondisi kejiwaan seperti depresi, gangguan bipolar (gangguan manik depresif, perubahan suasana hati yang tidak lazim ), cemas berlebihan, panik berlebihan, gangguan obsesif-kompulsif atau OCD (gangguan mental dan pikiran terhadap ketakutan yang tidak masuk akal sehingga membuat penderitanya melakukan perilaku yang berulang-ulang), dan paranoia dapat berkontribusi terhadap insomnia.

Selain kondisi kejiwaan, perubahan status emosional penting juga berkontribusi terhadap insomnia akut. Kesedihan, kekhawatiran, ketakutan, sukacita, perasaan mengagungkan diri sendiri, dan kebosanan berhubungan dengan perubahan substansi kimia otak dan berpotensi mengganggu tidur. Emosi memiliki dampak yang sangat kuat pada substansi kimia otak dan tidur.

Pendataan mental-emosional menyeluruh, termasuk peninjauan hubungan pribadi harus selalu disertakan dalam wawancara. Investigasi juga perlu meninjau keadaan emosi yang mungkin telah terjadi saat gangguan tidur mulai menyerang, terutama jika kondisi ini dimulai saat masih kanak-kanak.

Peran faktor emosional dan stres harus dipertimbangkan, termasuk mempelajari perasaan takut tidur atau takut insomnia, yang justru menambah masalah.

Juga perlu perhatian untuk setiap riwayat kekerasan, pengabaian, atau trauma di masa lalu. Kondisi ini mungkin memerlukan konseling psikologis dan intervensi psikoterapi.

Karena setiap emosi yang kuat dapat mengganggu kemampuan untuk tidur, adalah penting untuk menyadari keberadaan faktor-faktor yang mendasari sehingga dapat mengambil langkah yang tepat untuk mengatasinya. Berbagai metode yang ada dapat membantu kondisi emosional ini. Solusinya mungkin sangat sederhana, seperti secara sadar menyingkirkan masalah yang menjadi penyebab utama.

Teknik seperti meditasi, visualisasi, dan relaksasi merupakan alat yang sangat bermanfaat dan wajib digunakan di awal pengobatan. Intervensi lain, termasuk psikoterapi mendalam, terapi perilaku kognitif (CBT), pelatihan autogenik (sugesti terhadap diri sendiri), biofeedback (terapi perilaku), hipnosis, paced respirations (bernafas secara perlahan dan bebas), dan relaksasi otot progresif bisa membantu menenangkan emosi dan meningkatkan kemungkinan tidur.

Teknik intensi paradoksikal (memanfaatkan kemampuan mengambil keputusan dan mengambil jarak terhadap diri sendiri), di mana penderita insomnia disarankan untuk mencoba tetap terjaga selama mungkin, juga metode yang efektif .

Dalam banyak kasus kejiwaan dan emosional yang disebabkan oleh insomnia, pengobatan homeopati klasik umumnya dapat membantu.

Perlu ditanamkan bahwa penggunaan obat-obatan farmasi untuk mengatasi gejala yang timbul merupakan usaha terakhir, karena agen ini menyebabkan ketidakseimbangan kimia dan mengakibatkan efek samping yang tidak menyenangkan serta melumpuhkan, dan akhirnya memperburuk pola tidur dalam jangka panjang.

Terkadang mengubah perspektif seseorang akan insomnia dapat membantu menetralisir stres yang diciptakan oleh kondisi tersebut. Setelah kondisinya mereda, waktu luang yang tercipta secara konstruktuf dapat digunakan untuk melihat ke dalam atau meditasi.

Dengan cara ini, insomnia dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi dan merenungkan kembali hakekat hidup seseorang (kesempatan yang sering hilang di dunia yang super sibuk).

Menderita insomnia berarti menjalani malam-malam dengan perenungan dan introspeksi diri, inspirasi puitis, dan keheningan, yang tidak akan diperoleh saat bekerja di hari yang sibuk. Mengambil sisi positif dari insomnia dengan cara ini dapat meredakan kecemasan dan stres serta menambah wawasan diri, meredakan emosi, dan peningkatan pemahaman diri. Insomnia mungkin dapat dianggap sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi kreativitas yang terpendam. (Epochtime / Feb/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular